NAMA YANG DIHAPUS
Aku pikir aku sudah menghapusnya.
Bukan sekadar melupakan.
Tapi benar-benar menghapus.
Seperti file lama yang sengaja dihapus permanen supaya tidak pernah muncul lagi di pencarian.
Namanya dulu Ardi.
Dan aku pernah hampir menikah dengannya.
Dia tidak pernah menghilang secara perlahan.
Tidak ada tanda.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada perpisahan.
Hanya… hilang.
Seperti seseorang yang tiba-tiba memutuskan dunia ini tidak lagi layak dijelaskan.
Bertahun-tahun aku belajar satu hal:
Kalau seseorang pergi tanpa alasan,
maka alasannya… memang tidak pernah ingin kamu tahu.
Aku membangun hidup baru dengan prinsip itu.
Bekerja.
Berpindah kota.
Menghindari tempat-tempat yang mungkin menyimpan jejaknya.
Dan perlahan, aku berhasil.
Atau setidaknya… aku pikir begitu.
Sampai suatu sore, aku masuk ke sebuah rumah yang bukan milikku.
Aku hanya diminta mengambil dokumen.
Kunci diletakkan di bawah pot.
Rumah kosong.
Sederhana.
Aman.
Itu rencananya.
Aku membuka pintu.
Dan seseorang di dalam menjawab salamku.
Aku langsung tahu.
Tanpa perlu melihat wajahnya.
Tanpa perlu memastikan.
Tubuhku mengenal suara itu… lebih cepat dari pikiranku.
Dia berdiri di sana.
Lebih tua.
Lebih lelah.
Tapi tidak cukup berubah untuk membuatku ragu.
“Lama sekali,” katanya pelan.
Seolah kami hanya terpisah beberapa hari.
Aku tidak menjawab.
Karena semua kalimat yang pernah kusiapkan selama bertahun-tahun…
hilang.
“Aku mencarimu,” lanjutnya.
Kalimat klasik.
Terlambat.
Dan hampir selalu bohong.
Aku tertawa kecil.
“Kalau kamu benar mencari, kamu pasti menemukan.”
Dia tidak marah.
Tidak membela diri.
Itu justru membuat semuanya terasa lebih salah.
“Aku tidak bisa kembali waktu itu,” katanya.
“Aku tidak punya pilihan.”
Kalimat itu.
Selalu itu.
Seolah semua orang yang menyakiti orang lain selalu punya alasan yang terdengar masuk akal… kalau kamu tidak menjadi korbannya.
Aku hampir pergi.
Hampir.
Sampai dia mengatakan sesuatu yang membuat langkahku berhenti.
“Aku ditahan.”
Sunyi.
Dia bercerita.
Tentang sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan.
Tentang orang-orang yang hilang.
Tentang tempat-tempat yang tidak pernah tercatat.
Tentang nama-nama yang sengaja dihapus.
Dan tentang dirinya… yang ikut menghilang di dalamnya.
Aku ingin tidak percaya.
Tapi ada sesuatu dalam caranya bicara…
yang terlalu lelah untuk menjadi kebohongan.
“Aku keluar,” katanya.
“Tapi tidak benar-benar bebas.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya… aku melihat ketakutan.
Bukan pada masa lalu.
Tapi pada sesuatu yang masih mengikuti.
“Kenapa sekarang?” tanyaku.
Dia tersenyum tipis.
Dan itu adalah senyum paling menyedihkan yang pernah kulihat.
“Karena mereka akhirnya menemukanku lagi.”
Kalimat itu menggantung.
Seperti sesuatu yang tidak seharusnya dijelaskan.
Pintu rumah tiba-tiba diketuk.
Keras.
Tidak sabar.
Kami saling menatap.
Dan di saat itu… aku tahu.
Cerita ini belum selesai.
“Aku minta maaf,” katanya cepat.
“Karena kali ini… kamu akan ikut.”
Sebelum aku sempat memahami maksudnya, pintu didobrak.
Suara langkah.
Teriakan.
Dan semuanya kembali seperti dulu.
Cepat.
Kacau.
Tidak memberi waktu untuk memilih.
Aku tidak sempat berlari.
Tidak sempat menolak.
Tidak sempat apa pun.
Yang terakhir aku lihat adalah wajahnya.
Bukan panik.
Bukan takut.
Tapi… pasrah.
Seolah ini memang akhir yang sudah ia tunggu.
Beberapa bulan kemudian, namaku mulai hilang.
Dari daftar kerja.
Dari kontak.
Dari ingatan orang-orang yang dulu mengenalku.
Tidak ada berita.
Tidak ada pencarian.
Tidak ada yang benar-benar mempertanyakan.
Karena di dunia seperti ini…
orang yang hilang terlalu banyak untuk dihitung satu per satu.
Dan cerita kami?
Tidak pernah tercatat.
Hanya menjadi satu lagi kisah yang tidak selesai.
Tentang seseorang yang pergi…
dan seseorang yang cukup bodoh untuk akhirnya ikut menghilang.
---
Sen
