Perempuan yang Tidur di Sebelahku
Setelah tujuh tahun menikah, aku mulai merasa istriku digantikan seseorang.
Bukan secara harfiah.
Aku tidak sebodoh itu.
---
Ia masih memakai wajah yang sama.
Masih membuat kopi terlalu pahit.
Masih tidur miring ke kiri.
---
Tapi ada sesuatu yang hilang.
Atau mungkin… sesuatu yang perlahan mati.
---
Awalnya aku pikir semua pernikahan memang begitu.
Orang-orang berhenti saling menatap.
Percakapan berubah jadi daftar belanja dan tagihan listrik.
Dan cinta pelan-pelan diganti kebiasaan.
---
Kami masih tidur bersama.
Masih makan satu meja.
Kadang masih saling menyentuh.
---
Tapi semuanya terasa seperti gerakan yang dihafal tubuh.
Bukan keinginan.
---
Suatu malam aku terbangun pukul tiga.
Kulihat istriku duduk di ujung ranjang.
Diam.
---
“Kamu kenapa?” tanyaku.
---
Ia menoleh pelan.
Dan entah kenapa, untuk sepersekian detik…
aku merasa sedang melihat orang asing.
---
“Aku mimpi aneh,” katanya lirih.
---
“Mimpi apa?”
---
Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab:
---
“Aku mimpi kita sudah lama mati.”
---
Aku tertawa kecil waktu itu.
Karena manusia selalu tertawa saat takut pada sesuatu yang terlalu dekat dengan kebenaran.
---
Hari-hari setelahnya terasa makin aneh.
---
Aku mulai lupa suara tawanya.
Padahal kami tinggal serumah.
---
Aku juga mulai sadar kami jarang benar-benar bicara.
Bukan ngobrol.
Bicara.
---
Tentang takut.
Tentang kecewa.
Tentang kenapa hidup terasa berhenti meski waktu terus berjalan.
---
Malam-malam kami berubah sunyi.
---
Kadang ia tidur membelakangiku.
Dan jarak beberapa sentimeter itu terasa lebih jauh daripada kota lain.
---
Suatu malam, kami mencoba “memperbaiki keadaan.”
Begitu biasanya orang dewasa menyebut usaha terakhir sebelum hubungan benar-benar runtuh.
---
Lampu dimatikan.
Pintu dikunci.
Tubuh saling mendekat.
---
Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu yang mengerikan.
---
Aku tidak lagi mengenali perempuan yang kusentuh.
---
Bukan karena tubuhnya berubah.
Tapi karena aku sudah terlalu lama tidak benar-benar melihatnya sebagai manusia.
---
Hanya peran.
Istri.
Penghuni rumah.
Teman tidur.
---
Dan mungkin ia juga melihatku begitu.
---
Seseorang yang hadir…
tanpa benar-benar ada.
---
Setelah semuanya selesai, ia tetap diam.
Menatap langit-langit kamar.
---
“Apa kita masih saling cinta?” tanyanya pelan.
---
Aku ingin langsung menjawab.
Tapi ternyata tidak bisa.
---
Karena cinta seharusnya tidak selama ini dipikirkan.
---
“Aku tidak tahu,” kataku akhirnya.
---
Ia mengangguk kecil.
Tidak marah.
Tidak sedih.
---
Seolah sudah tahu sejak lama.
---
Malam itu aku tidak tidur.
Aku memperhatikan wajahnya dalam gelap.
Mencoba mengingat kapan terakhir kali aku benar-benar merasa dekat dengannya.
---
Aku tidak berhasil mengingat.
---
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku mengerti betapa menyeramkannya kehilangan seseorang…
tanpa mereka pernah pergi ke mana-mana.
---
Paginya, ia membuat kopi seperti biasa.
Aku duduk di meja makan seperti biasa.
Kami berbicara soal cucian dan gas yang hampir habis.
---
Lalu hidup berjalan lagi.
---
Karena kadang hubungan tidak hancur dalam ledakan besar.
---
Kadang ia membusuk pelan-pelan.
Diam-diam.
---
Sampai dua orang yang dulu saling mencintai…
akhirnya hanya jadi penghuni kamar yang sama.
---
Sen
