Seseorang yang Tidak Pernah Tercatat
Rumah sakit itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Selalu ada bunyi langkah, suara alat, atau percakapan lirih yang bocor dari lorong. Tapi bagi Raka, semua itu tetap terasa seperti satu hal yang sama: kosong.
Hari-harinya datar.
Bangun. Menatap langit-langit. Menghitung retakan cat di sudut ruangan. Menunggu waktu lewat tanpa benar-benar hidup.
Sampai suatu sore, pintunya diketuk.
“Boleh masuk?”
Raka menoleh. Seorang perempuan berdiri di sana. Wajahnya pucat, tapi matanya… hidup.
“Kalau aku bilang enggak?” tanya Raka.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Aku tetap masuk.”
Dan benar saja, ia melangkah masuk, duduk tanpa banyak suara.
“Aira.”
“Raka.”
Singkat. Tapi cukup untuk memulai sesuatu yang tidak mereka rencanakan.
---
Hari kedua, Aira datang lagi.
Hari ketiga, ia tidak perlu mengetuk.
Hari keempat, Raka mulai menunggunya.
---
“Kamu tuh banyak banget ngomongnya,” kata Aira suatu sore.
“Karena ada yang mau dengerin,” jawab Raka santai.
Aira menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.
Dan sejak saat itu, Raka tidak pernah benar-benar sendirian lagi.
---
Ia bercerita tentang apa saja.
Tentang masa kecilnya. Tentang teman-temannya. Tentang hal-hal konyol yang bahkan tidak penting.
Aira mendengarkan.
Selalu.
Kadang menjawab singkat. Kadang hanya mengangguk. Tapi anehnya, itu cukup.
Seolah-olah didengarkan saja sudah menyelamatkan setengah dari kesepian.
---
Suatu malam, Raka terbangun dengan napas berat.
Ruangan gelap. Sunyi.
Ia menatap kosong ke depan, sampai pintu terbuka pelan.
Aira masuk.
Tanpa banyak kata, ia duduk di samping Raka.
“Kamu kenapa?”
Raka menggeleng pelan. Tapi matanya tidak bisa bohong.
“Takut.”
Aira diam sejenak.
Lalu, perlahan, ia menggenggam tangan Raka.
“Kamu gak sendirian.”
Kalimat sederhana.
Tapi cukup untuk membuat dada Raka yang sesak, perlahan lega.
Malam itu, ia tertidur.
Dengan tangan yang masih digenggam.
---
Sejak itu, semuanya berubah.
Raka mulai menunggu Aira, bukan waktu sembuhnya.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Cara Aira selalu menarik napas pelan sebelum bicara.
Cara ia kadang berhenti di tengah kalimat.
Cara senyumnya selalu seperti… ditahan.
---
“Aira.”
“Iya?”
“Kamu sakit apa?”
Aira tersenyum, seperti biasa.
“Hal yang bikin aku harus di sini.”
“Jawaban kamu tuh selalu menggantung.”
“Biar kamu gak terlalu banyak mikir.”
Raka mendengus pelan. Tapi ia tidak memaksa.
Anehnya, ia mulai terbiasa tidak tahu.
---
Perasaan itu datang diam-diam.
Tidak pernah diucapkan.
Tapi terasa di sela percakapan, di antara tawa kecil, di dalam diam yang tidak lagi canggung.
---
“Besok kita ke taman belakang, ya,” kata Raka suatu sore.
“Aku udah boleh jalan lebih jauh.”
Aira menatapnya.
Lama.
Seolah sedang mengingat sesuatu.
Lalu ia mengangguk.
“Besok.”
---
Raka datang lebih awal.
Untuk pertama kalinya, ia merasa hari itu penting.
Ia menunggu.
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit.
Satu jam.
Aira tidak datang.
---
Ada sesuatu yang tidak beres.
Perasaan itu muncul lagi. Dingin.
Raka kembali ke kamar, mencari suster yang biasa ia lihat menemani Aira.
“Suster…”
Suster itu menoleh.
“Iya, Pak Raka?”
“Aira di mana ya? Yang sering ke kamar saya…”
Suster itu terdiam.
Matanya berubah.
“Maaf… siapa?”
Raka tertawa kecil, bingung.
“Aira. Rambut panjang, sering ke sini… biasanya sama suster juga.”
Suster itu menatap Raka lebih lama.
Lalu menggeleng pelan.
“Tidak ada pasien dengan nama itu, Pak.”
---
Raka terdiam.
“Enggak mungkin,” gumamnya pelan.
“Dia tiap hari ke sini.”
Suster itu tidak menjawab.
Hanya berdiri, dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Seperti ingin mengatakan sesuatu.
Tapi memilih diam.
---
Raka kembali ke kamarnya.
Duduk di ranjang.
Menatap kursi di sudut ruangan.
Kosong.
---
Tangannya bergerak pelan.
Seolah masih mengingat hangat genggaman itu.
---
Di lorong, suster itu berdiri lebih lama dari biasanya.
Tangannya menggenggam catatan kecil yang sudah diremas.
Tulisan di dalamnya sederhana.
---
“Jangan bilang ke Raka.”
“Biarkan dia pikir aku cuma lewat.”
---
Suster itu menutup matanya sebentar.
Lalu menyimpan kembali kertas itu.
Dan berjalan pergi.
---
Di dalam kamar, Raka masih menatap kursi itu.
Mencoba mengingat.
Mencoba memastikan.
---
Apa semua itu nyata…
atau hanya sesuatu yang terlalu indah untuk benar-benar terjadi.
---
Sen
