Sikapi Penurunan Kepedulian Sosial, Sri Puji Astuti Dorong Penguatan Peran RT dan Gotong Royong
Foto : Wakil Ketua Komisi IV, DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti.
TITIKWARTA.COM -SAMARINDA - Rentetan persoalan sosial yang terjadi di Kota Samarinda belakangan ini mendapat perhatian serius dari jajaran legislatif. Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyoroti mulai mengikisnya rasa kepedulian sosial di tengah masyarakat perkotaan. Ia mendorong penguatan peran rukun tetangga (RT) sebagai garda terdepan untuk lebih peka terhadap kondisi warga sekitar.

Hal ini disampaikan Puji merespons sejumlah kasus sosial yang sempat mencuat di Kota Tepian. Mulai dari kasus Mandala Rizky yang meninggal dunia akibat peradangan akut di kaki karena keterbatasan ekonomi keluarga, kisah tiga anak sekolah di Jalan Biawan yang harus merawat ibunya yang terserang stroke, hingga munculnya inisiatif "Sekolah Rimba" di kawasan Batu Besaung, Samarinda Utara, yang menjadi potret nyata tantangan akses pendidikan formal.
Menurut Puji, fenomena ini menjadi sinyalemen meningkatnya sikap individualistis di lingkungan urban, sehingga berbagai persoalan krusial di sekitar pemukiman warga kerap luput dari perhatian. "Persoalan seperti ini jika dibiarkan akan menjadi 'bom waktu' karena berpotensi memicu masalah sosial yang jauh lebih besar di kemudian hari," ujar Sri Puji Astuti saat memberikan keterangan pada Minggu (24/5/2026).
Politikus Partai Demokrat ini menegaskan bahwa kondisi tersebut harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi seluruh pemangku kebijakan. Ia menekankan pentingnya sinergi yang kuat antara struktur pemerintahan terkecil, lembaga legislatif, hingga jajaran eksekutif.
Tingkat RT misalnya, diharapkan lebih aktif melakukan pemetaan dan rajin memonitor kondisi riil warganya. Sementara untuk anggota DPRD, seharusnya memiliki kepekaan tinggi terhadap kondisi sosial-ekonomi konstituen, minimal di daerah pemilihannya (dapil) masing-masing. Hingga Pemerintah Kota yang harus memastikan seluruh instrumen jaminan sosial tepat sasaran dan mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat rentan.
"Kita harus memastikan bagaimana jaminan kesehatannya berjalan. Apakah program penanganan kemiskinan ekstrem di Samarinda ini sudah dieksekusi dengan benar dan tepat sasaran? Karena pada faktanya, kita masih mendapati kasus-kasus sosial seperti ini mencuat di lapangan," imbuh legislator yang membidangi kesejahteraan rakyat ini.
Lebih lanjut, Puji menyayangkan sikap apatis yang mulai menjangkiti sebagian masyarakat perkotaan. Ia mengingatkan bahwa penuntasan masalah sosial bukan hanya bertumpu pada pundak pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen warga.
Ia berharap budaya gotong royong dan kesadaran lingkungan tidak luntur akibat adanya ketergantungan yang berlebihan pada intervensi bantuan pemerintah semata. Kepedulian sosial, menurutnya, harus tumbuh dari seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial-ekonomi.
“Nilai kepedulian dan kegotongroyongan ini sudah mulai terkikis, dan ini yang perlu kita hidupkan kembali bersama-sama. Di sisi lain, kami juga mengapresiasi program dari pemerintah pusat maupun daerah yang sebenarnya sudah sangat bagus dalam berupaya menekan angka kemiskinan ekstrem saat ini. Tinggal bagaimana memaksimalkannya melalui kepekaan lingkungan,” pungkas Puji. (adv/zee/tw)
