Yang Tidak Pernah Aku Buka
Aku tahu dia di dalam.
Sejak awal.
Sejak pintu itu tertutup.
Tidak terkunci.
Hanya… tidak kubuka.
Awalnya karena kesal.
Dia terus mengetuk.
Terus memanggil namaku.
Nada suaranya naik turun, seperti orang yang belum mengerti bahwa tidak semua panggilan harus dijawab.
Aku duduk di ruang tengah.
Menghitung detik.
Satu. Dua. Tiga.
Seolah waktu bisa menjelaskan sesuatu.
“Buka.”
Suara itu lebih pelan sekarang.
Aku tidak bergerak.
Dulu, sebelum semuanya berubah, aku selalu menjawab.
Selalu datang.
Selalu ada.
Sampai suatu hari, aku sadar…
tidak ada yang pernah melakukan hal yang sama untukku.
Sejak orang tua kami tidak ada, semuanya jadi milikku.
Bukan karena aku mau.
Tapi karena tidak ada yang lain.
Aku jadi kakak.
Aku jadi penjaga.
Aku jadi semua yang dia butuhkan.
Dan tidak ada yang bertanya apakah aku sanggup.
Suara ketukan berhenti.
Aku menoleh.
Jantungku seharusnya berdebar.
Tapi tidak.
Sunyi.
Aku berdiri.
Pelan.
Mendekat ke pintu itu.
Tanganku hampir menyentuh gagangnya.
Hampir.
Lalu aku berhenti.
Kalau aku buka sekarang…
semuanya kembali.
Dia akan menangis.
Aku akan menenangkannya.
Dia akan bergantung.
Aku akan bertahan.
Siklus yang sama.
Aku mundur.
Untuk pertama kalinya…
aku memilih tidak menjadi siapa-siapa.
Waktu berjalan.
Aku tidak menghitung lagi.
Aku hanya duduk.
Mendengarkan… atau mungkin tidak lagi.
Saat akhirnya aku membuka pintu itu…
aku sudah tahu apa yang akan kutemukan.
Dia masih di sana.
Tidak menangis.
Tidak bergerak.
Matanya terbuka.
Menatap ke arah pintu.
Seolah masih menunggu.
Aku berlutut.
Tanganku gemetar.
Aku menyentuhnya.
Dingin.
Dan di detik itu, akhirnya aku merasa sesuatu.
Bukan sedih.
Bukan juga panik.
Tapi sesuatu yang lebih buruk.
Aku mengerti.
Bahwa aku sebenarnya sudah membuka pintu itu sejak lama.
Hanya saja…
terlalu terlambat untuk membuatnya berarti.
---
Sen
