Yang Tinggal di Air Keruh
Aku mulai melaut sejak kakakku tidak pernah pulang.
Tidak ada jasad.
Tidak ada berita.
Hanya perahu kosong yang ditemukan tersangkut di antara akar-akar bakau.
Orang-orang bilang dia “diambil laut”.
Aku tidak percaya.
Laut tidak pernah mengambil tanpa meninggalkan sesuatu.
Ayah tidak pernah menjelaskan.
Sejak hari itu, ia lebih banyak diam.
Hanya sesekali berkata:
“Kalau air mulai bau… jangan terlalu jauh.”
Aku tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya.
Sampai suatu malam, aku mencium sesuatu yang tidak seharusnya ada di laut.
Bukan amis.
Bukan busuk biasa.
Tapi bau yang… seperti sesuatu mati berkali-kali.
Air berubah warna.
Tidak langsung.
Pelan.
Seperti luka yang membusuk dari dalam.
Aku menarik jala.
Kosong.
Atau lebih tepatnya… tidak benar-benar kosong.
Ada sesuatu di dalamnya.
Bukan ikan.
Bukan sampah.
Sesuatu yang bergerak… tapi tidak hidup.
Aku menjatuhkan jala itu kembali ke laut.
Tanpa berpikir.
Tanpa ingin tahu.
Malam itu, aku pulang tanpa hasil.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ayah takut.
“Kamu lihat apa?” tanyanya.
Aku menggeleng.
Bohong.
Ia menatapku lama.
Lalu berkata pelan:
“Jangan lihat lagi.”
Tapi manusia memang bodoh.
Dilarang sedikit, penasaran dua kali lipat.
Beberapa hari kemudian, aku kembali ke tempat yang sama.
Air lebih gelap.
Lebih tenang.
Terlalu tenang.
Aku menunggu.
Lama.
Lalu sesuatu muncul ke permukaan.
Bukan dari jauh.
Tapi tepat di bawah perahuku.
Wajah.
Atau sesuatu yang dulu pernah jadi wajah.
Kulitnya seperti terkelupas.
Matanya kosong.
Mulutnya terbuka… seolah mencoba bernapas di tempat yang salah.
Aku mundur.
Perahu bergoyang.
Air beriak pelan.
Dan lebih banyak lagi muncul.
Tidak menyerang.
Tidak mendekat.
Hanya… ada.
Mengapung.
Menatap.
Aku akhirnya mengerti.
Laut tidak mengambil siapa pun.
Ia hanya menyimpan.
Dan apa yang disimpan terlalu lama…
tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.
Aku pulang dengan tangan gemetar.
Tidak bercerita apa pun.
Ayah hanya melihat wajahku.
Dan mengangguk kecil.
Seolah akhirnya aku “melihat”.
“Sekarang kamu tahu,” katanya.
“Tahu apa?” suaraku hampir tidak keluar.
Ia menatap ke arah laut yang gelap.
“Yang kita kira hantu… itu bukan mereka.”
Aku diam.
“Yang jadi hantu… kita.”
Aku tidak langsung paham.
Sampai keesokan harinya, ketika orang-orang masih melaut seperti biasa.
Masih membuang sesuatu ke air.
Masih berharap laut memberi tanpa batas.
Dan aku melihat tangan-tangan itu lagi.
Di bawah permukaan.
Semakin banyak.
Menunggu.
Bukan untuk menakut-nakuti.
Tapi untuk mengingatkan.
Bahwa suatu hari nanti…
tidak akan ada lagi yang tersisa di atas.
---
Sen
