Ancaman Asam Lambung di Tempat Kerja: Kenali Pemicu dan Waktu Tepat Lakukan Endoskopi

Ilustrasi. (Foto: iStockphoto/yacobchuk)

TITIKWARTA.COM - Tingginya tekanan kerja di era modern tidak hanya menguras energi dan pikiran, tetapi juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan saluran pencernaan. Serangan penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kini makin marak dialami oleh para pekerja produktif di tengah jam kerja harian yang padat.

 

Gejala seperti rasa terbakar di dada (heartburn), perut kembung, mual, hingga sensasi pahit di tenggorokan sering kali muncul mendadak saat seseorang sedang berfokus menyelesaikan tenggat pekerjaan. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, gangguan ini dapat merusak kualitas hidup dan menurunkan produktivitas secara signifikan.

 

Pemicu utama timbulnya asam lambung saat bekerja tidak lepas dari pola hidup yang kurang teratur. Kebiasaan menunda waktu makan, konsumsi kafein berlebih dari kopi untuk menahan kantuk, serta tingginya tingkat stres psikologis menjadi kombinasi utama yang merangsang peningkatan produksi asam di dalam lambung.

 

Selain pola makan yang berantakan, kebiasaan duduk membungkuk dalam durasi lama di depan komputer serta langsung berbaring atau bersandar santai usai makan siang turut memperburuk kondisi ini. Tekanan intra-abdominal yang meningkat membuat katup kerongkongan bawah melemah, sehingga cairan asam meluap naik ke atas.

 

Pakar gastroenterologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr. Hendra Pratama, Sp.PD-KGEH, menjelaskan bahwa kesadaran pekerja terhadap sinyal bahaya yang dikirimkan oleh organ pencernaan masih sangat rendah.

 

"Stres kerja merangsang saraf otak untuk memproduksi hormon yang memicu kelenjar lambung mensekresi asam secara berlebihan. Ketika diimbangi dengan asupan kopi berlebih atau makanan pedas saat makan siang, iritasi pada dinding lambung dan kerongkongan menjadi tak terhindarkan," ungkap Dr. Hendra Pratama dalam keterangannya hari ini.

 

Meski sebagian besar kasus asam lambung dapat diredakan dengan perubahan gaya hidup dan obat penawar asam, terdapat kondisi-kondisi tertentu yang memerlukan penanganan medis tingkat lanjut melalui prosedur endoskopi. Endoskopi dilakukan untuk melihat langsung kondisi jaringan dalam saluran cerna menggunakan kamera kecil.

 

Pemeriksaan endoskopi sangat disarankan apabila pasien mulai mengalami alarm symptoms atau tanda bahaya, seperti kesulitan menelan yang hebat, berat badan turun drastis tanpa alasan, muntah berulang, hingga BAB berwarna hitam. Prosedur ini penting untuk mendeteksi dini adanya luka erosi, tukak lambung, hingga potensi keganasan.

 

Sebagai langkah pencegahan, Dr. Hendra Pratama mengimbau para pekerja untuk mulai menerapkan pola kerja yang lebih ramah pencernaan. "Usahakan untuk tetap makan tepat waktu dengan porsi kecil tapi sering, batasi konsumsi kopi maksimal satu cangkir sehari, serta berikan jeda minimal dua hingga tiga jam antara waktu makan dan istirahat berbaring agar asam lambung tetap stabil," tutupnya.(yal/tw)