Ancaman Dibalik Kenyamanan Kerja Hybrid: Kenali Gejala Saraf Terjepit dan Kerusakan Tulang Belakang
Ilustrasi pekerja hybrid yang sedang mengalami nyeri pinggang. (Spukkato)
TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Skema kerja fleksibel atau hybrid work yang memadukan aktivitas dari kantor dan rumah kini telah menjadi standar baru bagi banyak perusahaan modern. Meski menawarkan kenyamanan dan efisiensi waktu, fleksibilitas ini rupanya menyimpan dampak buruk yang tersembunyi bagi kesehatan rangka tubuh para pekerja.
Bekerja dari rumah kerap membuat orang mengabaikan pentingnya ergonomi fasilitas kerja. Penggunaan meja makan, sofa empuk, hingga tempat tidur sebagai tempat bekerja dalam durasi panjang memaksa tulang belakang berada dalam posisi membungkuk dan menahan beban yang tidak seimbang.
Kebiasaan duduk dengan postur buruk yang berlangsung berjam-jam tanpa jeda ini lambat laun dapat mengubah struktur alami tulang belakang. Tekanan berlebih pada bantalan tulang (diskus) berisiko menyebabkan pergeseran yang berujung pada penekanan atau jepitan pada jalur saraf di sekitarnya.
Kondisi yang umum dikenal sebagai saraf terjepit (herniated disc) ini tidak hanya memicu rasa nyeri lokal di area punggung atau leher. Sensasi seperti tersengat listrik, kesemutan, hingga rasa kebas yang menjalar ke lengan atau kaki kerap menjadi sinyal awal bahwa kerusakan jaringan saraf telah terjadi.
Spesialis bedah saraf dan kesehatan tulang belakang, Dr. Rizky Firmansyah, Sp.BS, menekankan bahwa tren kenaikan kasus saraf terjepit di usia produktif sangat erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup sedentari dan fasilitas kerja rumah yang tidak mendukung.
"Banyak pekerja hybrid yang tidak menyadari bahwa duduk di sofa atau tempat tidur memberikan beban tekanan ganda pada bantalan tulang belakang dibanding duduk tegak di kursi ergonomis. Jika muncul rasa nyeri menjalar atau kesemutan yang berulang, itu adalah alarm bahwa saraf sedang tertekan dan butuh penanganan medis segera," jelas Dr. Rizky Firmansyah dalam keterangannya hari ini.
Jika gejala awal tersebut diabaikan tanpa adanya perbaikan postur atau penanganan medis, komplikasi yang timbul bisa semakin berat. Pada tingkat yang parah, jepitan saraf dapat mengakibatkan penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan saat berjalan, hingga kehilangan kontrol atas fungsi buang air besar dan kecil.
Guna mencegah kerusakan permanen pada tulang belakang, para pekerja hybrid diimbau untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif serta mematuhi aturan ergonomis sederhana di rumah. Penggunaan kursi dengan penopang pinggang yang baik serta pengaturan tinggi layar komputer sejajar dengan mata menjadi langkah krusial yang tidak boleh diabaikan.
Selain membenahi fasilitas kerja, jeda istirahat secara berkala juga wajib diterapkan di sela-sela jam kerja. Dr. Rizky Firmansyah menyarankan agar pekerja rutin melakukan peregangan otot. "Terapkan prinsip bergerak setiap 30 hingga 45 menit sekali. Luangkan waktu beberapa menit untuk berdiri, berjalan kecil, atau melakukan peregangan ringan agar beban tekanan pada tulang belakang dapat berkurang dan aliran darah tetap lancar," pungkasnya.(yal/tw)
