Burung-Burung yang Tidak Pernah Pulang

Orang-orang di kampung percaya suara burung gagak sebelum magrib itu pertanda buruk.

Aku tidak.

Menurutku hidup sudah cukup buruk tanpa bantuan burung.

---

Aku tinggal di rumah panggung paling ujung desa.

Dekat rawa.

Dekat kuburan tua.

Dekat tempat orang-orang biasa membuang sesuatu yang tidak ingin mereka akui punya.

Kadang sampah.

Kadang bayi.

Kadang perempuan seperti aku.

---

Namaku Ranti.

Usiaku sembilan belas saat pertama kali datang ke rumah Pak Lurah.

Sebagai pembantu.

Sebagai anak miskin yang bahkan tidak punya kemewahan untuk memilih nasib.

---

Ibuku sakit paru-paru.

Adik-adikku makan sekali sehari.

Dan lelaki kaya selalu tahu kapan manusia lain sedang putus asa.

Mereka bisa mencium bau lapar seperti anjing pemburu.

---

Awalnya tidak terjadi apa-apa.

Aku menyapu.

Memasak.

Mencuci.

Diam.

---

Istri Pak Lurah jarang pulang karena mengurus toko di kota.

Anaknya kuliah di Samarinda.

Rumah besar itu sering kosong.

Terlalu kosong.

---

Sampai suatu malam listrik padam.

---

“Ambil lilin di kamar saya,” katanya.

---

Aku masuk.

Dan hidupku selesai pelan-pelan setelah itu.

---

Tidak ada teriakan.

Tidak ada kekerasan dramatis seperti sinetron murahan.

Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih hina.

Karena kehancuran paling mengerikan sering datang dengan tenang.

---

Ia mulai memberiku uang lebih.

Membelikan sandal baru.

Menyuruhku makan di meja, bukan di dapur.

Hal-hal kecil yang membuat perempuan miskin merasa dianggap manusia.

Padahal sebenarnya sedang dipelihara.

---

Desa mulai bergosip.

Tentu saja.

Desa selalu lapar cerita.

Terutama kalau korbannya perempuan muda.

---

“Perempuan murahan.”

“Penggoda laki orang.”

“Pasti memang mau.”

---

Lucu sekali bagaimana masyarakat bisa melihat laki-laki berumur lima puluh tahun tidur dengan gadis belasan…

dan tetap menyalahkan gadisnya.

Manusia memang spesies yang konsisten salah sasaran.

---

Ketika perutku mulai membesar, Pak Lurah menyuruhku pindah.

Bukan keluar desa.

Hanya dipindahkan.

---

Ke rumah kayu tua dekat rawa.

Bekas gudang padi.

---

“Biar tidak jadi omongan,” katanya.

---

Aku hampir tertawa.

Karena memindahkan dosa tidak pernah membuat dosa hilang.

Hanya membuatnya lebih sepi.

---

Anakku lahir saat musim hujan.

Laki-laki kecil kurus dengan paru-paru lemah.

Aku menamainya Bayu.

Supaya hidupnya panjang.

Ironis. Manusia miskin sering memberi nama seperti doa karena tidak punya warisan lain.

---

Pak Lurah datang seminggu sekali.

Kadang dua.

Selalu malam.

Selalu terburu-buru.

---

Bayu tumbuh tanpa benar-benar mengenal ayahnya.

Tapi anak kecil tetap anak kecil.

Ia selalu menunggu suara motor tua itu.

---

“Bapak datang?”

---

Aku selalu benci pertanyaan itu.

Karena aku tidak pernah tahu mana yang lebih kejam:

mengatakan iya…

atau mengatakan sebenarnya.

---

Tahun demi tahun berlalu.

Dan desa mulai terbiasa dengan keberadaanku.

Bukan menerima.

Hanya terbiasa.

Ada bedanya.

Orang bisa terbiasa melihat bangkai di sungai tanpa berhenti merasa jijik.

---

Lalu suatu sore, anak Pak Lurah pulang dari kota.

Namanya Damar.

Usianya dua puluh tiga.

Kulit terang.

Bau sabun mahal.

Cara bicara orang yang tidak pernah khawatir soal harga beras.

---

Ia datang ke rumah rawa itu tanpa permisi.

Melihat Bayu yang sedang bermain tanah.

Lalu menatapku lama.

---

“Kamu Ranti?”

---

Aku mengangguk.

---

Ia terlihat… bingung.

Seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.

---

“Kita pernah ketemu?”

tanyanya.

---

“Tidak.”

---

Tapi wajahnya berubah pucat.

---

Malam itu Pak Lurah datang dengan marah besar.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia terlihat takut.

Bukan takut kehilangan aku.

Laki-laki seperti dia tidak pernah benar-benar peduli.

Ia takut rahasianya bocor.

---

“Kamu ngomong apa ke Damar?!”

---

“Tidak ada.”

---

Ia mondar-mandir seperti orang kesurupan.

Lalu matanya jatuh pada Bayu yang sedang tidur.

Dan mendadak wajahnya berubah.

Aneh.

Kosong.

---

“Besok kalian pergi dari sini,” katanya pelan.

---

Aku menatapnya tidak percaya.

---

“Ke mana?”

---

“Itu urusanmu.”

---

Setelah ia pergi, aku duduk sampai dini hari sambil mendengar suara rawa.

Katak.

Serangga.

Burung malam.

Semua terasa seperti sedang menertawakanku.

---

Paginya Damar datang lagi.

Kali ini membawa map lusuh.

---

“Ibu saya meninggal tahun lalu,” katanya.

“Sebelum meninggal dia kasih ini.”

---

Ia menyerahkan map itu padaku.

Tanganku langsung dingin saat melihat isi pertamanya.

---

Foto seorang perempuan muda.

---

Mirip aku.

Sangat mirip.

---

“Itu kakak saya,” katanya.

“Sri.”

---

Aku menatapnya bingung.

---

“Dia hilang dua puluh tahun lalu.”

---

Darahku seperti berhenti mengalir.

---

Di belakang foto tertulis satu kalimat kecil:

Untuk anakku, kalau suatu hari kamu mencari ibumu.

---

Tanganku mulai gemetar.

---

“Ayah saya ternyata pernah punya anak sebelum menikah,” lanjut Damar lirih.

“Dengan pembantu rumah.”

---

Aku tidak bernapas beberapa detik.

---

Ibuku dulu memang pernah bekerja di rumah keluarga Pak Lurah.

Sebelum meninggal saat aku kecil.

Tapi ia tidak pernah menceritakan siapa ayahku.

---

Damar menatapku pelan.

Matanya mulai merah.

---

“Ranti…”

---

Aku langsung tahu.

Kadang tubuh manusia memahami horor lebih cepat daripada otaknya.

---

“Tidak…”

---

“Ayah saya baru ngaku sebelum ibu meninggal.”

---

Aku mundur pelan.

Dinding kayu terasa dingin di punggungku.

---

“Dia bilang Sri kabur waktu hamil.”

---

Aku mulai mual.

---

“Dan kemungkinan…”

suara Damar pecah.

“…kamu anak ayah saya.”

---

Sunyi.

Total.

Bahkan rawa seperti berhenti bernapas.

---

Lalu dari dalam kamar kecil itu, Bayu terbangun.

Berlari kecil sambil mengucek mata.

---

“Pak Damar!”

---

Ia memeluk kaki Damar sambil tertawa.

Karena selama ini Damar memang sering memberinya permen.

---

Dan saat itulah aku melihat sesuatu yang menghancurkanku sepenuhnya.

---

Mata mereka.

---

Sama persis.

---

Bukan seperti ayah dan anak.

---

Seperti saudara kandung.

---

Damar menatap Bayu.

Lalu menatapku.

Wajahnya hancur perlahan.

---

“Ayah saya…” katanya lirih.

“…tidak tahu.”

---

Aku ingin muntah.

Menjerit.

Membakar rumah itu.

Membakar desa itu.

Membakar seluruh dunia kalau perlu.

---

Tapi Bayu hanya tertawa kecil sambil memamerkan permen.

Anak kecil tidak tahu kapan hidup orang dewasa berubah jadi neraka.

---

Sore harinya, kabar datang:

Pak Lurah ditemukan meninggal di rawa.

Tubuhnya mengambang di antara eceng gondok.

Mata terbuka.

Mulut penuh lumpur.

---

Orang desa bilang ia terpeleset.

---

Aku tidak percaya.

---

Karena malam sebelumnya…

aku melihat Damar datang ke rawa sambil membawa cangkul.

---

Dan pagi itu…

untuk pertama kalinya dalam hidupku…

burung-burung gagak berhenti bersuara di atas rumahku.

---

Sen