Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (9)

EPISODE 9

HIDUP SEWAAN : MAKAN SIANG CUMA SEBENTAR

 

Pukul 11.47 Arga sudah lapar.

Bukan lapar biasa.

Lapar pekerja kantoran yang sejak pukul sebelas sudah membuka aplikasi makanan tiga kali, tetapi merasa makan sebelum jam dua belas adalah bentuk kelemahan.

Rina melirik jam.

“Makan, yuk.”

Arga langsung berdiri.

“Ayo.”

“Cepat banget.”

“Gue menghargai waktu.”

“Lu lapar.”

“Itu juga.”

Mereka mengajak Fajar dan Doni.

Rencananya sederhana.

Makan di warung dekat kantor.

Dua puluh menit selesai.

Rencana yang indah.

---

Sampai di parkiran, masalah pertama muncul.

“Makan apa?” tanya Doni.

“Bebas,” jawab Arga.

“Bakso?”

“Boleh.”

Rina menggeleng. “Kemarin bakso.”

“Geprek?”

Fajar menggeleng. “Panas.”

“Soto?”

“Berat.”

“Nasi Padang?”

“Bosen.”

Arga mulai kesal.

“Kalian tadi bilang bebas.”

“Iya, bebas,” kata Rina.

“Terus kenapa semua ditolak?”

“Ya bebas nolak juga.”

Arga tidak punya argumen.

---

Sepuluh menit kemudian mereka masih di parkiran.

Akhirnya diputuskan makan di tempat yang jaraknya sekitar tujuh menit dari kantor.

Sampai sana—

Penuh.

“Tempat lain aja,” kata Doni.

Mereka pindah.

Tempat kedua tutup.

Pindah lagi.

Tempat ketiga sebenarnya buka.

Tapi Fajar melihat antreannya.

“Kayaknya lama.”

Arga melihat jam.

12.23.

Mereka sudah menghabiskan lebih dari setengah jam untuk mencari tempat makan tanpa memasukkan makanan apa pun ke tubuh.

“Balik ke warung dekat kantor aja,” kata Arga.

Semua diam.

Warung yang tadi mereka tinggalkan.

Warung yang jaraknya dua menit.

Warung yang sejak awal sebenarnya tidak punya masalah apa-apa.

Rina mengangguk.

“Boleh juga.”

Arga menarik napas panjang.

---

Pukul 12.38 mereka akhirnya duduk.

Arga memesan ayam geprek.

Rina memesan soto.

Fajar memesan nasi Padang.

Doni memesan bakso.

Arga melihat satu per satu.

Kemudian meletakkan sendok.

“Bentar.”

“Apa?”

“Ini semua makanan yang tadi kita tolak.”

Mereka terdiam.

Fajar melihat nasi Padangnya.

“Oh iya.”

“TERUS KITA MUTER-MUTER TADI BUAT APA?”

Doni menjawab tenang.

“Cari suasana.”

Arga ingin marah.

Tapi ayamnya datang.

Prioritas berubah.

---

Pukul 13.14 mereka kembali ke kantor.

Pak Danu kebetulan berdiri dekat pintu.

“Kok lama?”

Empat orang itu langsung kehilangan kemampuan berbicara secara alami.

“Tadi...”

“Tempatnya penuh, Pak.”

“Macet sedikit.”

“Antre juga.”

Arga mengangguk mengikuti semuanya.

Pak Danu hanya berkata,

“Oh. Ya sudah.”

Lalu pergi.

Mereka berempat mengembuskan napas lega.

Rina menatap Arga.

“Besok makan dekat sini aja.”

“Setuju.”

“Enggak usah ribet.”

“Setuju.”

“Yang penting makan.”

“Setuju.”

Besoknya pukul 11.53, Rina berdiri di samping meja Arga.

“Makan apa?”

Arga menatapnya.

“Warung depan.”

Rina berpikir sebentar.

“Bosen, enggak sih?”

Arga memejamkan mata.

Dan begitulah.

Terkadang masalah terbesar saat makan siang bukan tidak punya uang.

Bukan juga tidak ada makanan.

Tapi empat orang dewasa yang sama-sama menjawab:

“Terserah.”

Padahal semuanya punya mau.

— BERSAMBUNG —