HUJAN, KAMU, DAN PESAN YANG TAK TERKIRIM

Aku pertama kali jatuh cinta sama Arga… gara-gara hujan.

Klise? Iya. Tapi hidup remaja memang sering terasa seperti lagu galau yang diputar berulang.

Hari itu, aku lupa bawa payung. Hujan turun deras banget, dan aku cuma bisa berdiri di depan gerbang sekolah, berharap hujan berhenti lebih cepat dari rasa maluku.

Lalu dia datang.

Tanpa banyak kata, dia membuka payungnya… dan berdiri di sampingku.

“Bareng aja,” katanya santai.

Sesederhana itu.

Dan entah kenapa, sejak saat itu, semuanya jadi terasa berbeda.

---

Arga bukan tipe cowok yang bikin satu sekolah heboh. Dia biasa saja. Nggak terlalu tinggi, nggak terlalu ramai, tapi selalu punya cara bikin aku merasa… diperhatikan.

Dia ingat aku nggak suka pedas.
Dia tahu aku selalu lupa bawa pulpen.
Dia bahkan hafal lagu yang aku putar diam-diam di kelas.

Hal-hal kecil yang, entah kenapa, terasa besar.

---

Kami mulai sering pulang bareng.

Kadang ngobrol, kadang cuma jalan tanpa suara. Tapi anehnya, diam sama dia nggak pernah terasa canggung.

“Lo kalau udah lulus mau ke mana?” tanyanya suatu sore.

Aku mengangkat bahu.
“Nggak tahu. Yang penting… nggak sendirian.”

Dia tertawa kecil.

“Tenang aja. Selama gue masih di sini, lo nggak bakal sendirian.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi aku simpan seperti janji.

---

Hari-hari berjalan cepat.

Terlalu cepat.

Tanpa sadar, ujian akhir semakin dekat. Semua orang sibuk dengan masa depan masing-masing.

Termasuk Arga.

Dia mulai jarang pulang bareng. Katanya ada bimbingan, ada urusan keluarga, ada ini itu yang tiba-tiba muncul.

Aku mencoba mengerti.

Walaupun diam-diam… aku mulai merasa ditinggalkan.

---

Suatu malam, aku memberanikan diri kirim pesan.

> “Ga, kita masih kayak dulu nggak sih?”

Lama.

Tidak ada balasan.

Padahal biasanya dia selalu cepat membalas.

Aku menatap layar ponselku lama, berharap tiga titik kecil itu muncul.

Tapi tidak pernah.

---

Besoknya di sekolah, aku melihatnya.

Dia berdiri… bersama seseorang.

Seorang cewek.

Mereka tertawa. Dekat. Terlalu dekat.

Perasaan yang selama ini aku simpan rapi… tiba-tiba runtuh tanpa peringatan.

Aku ingin mendekat.

Tapi kakiku memilih diam.

---

Hari itu, untuk pertama kalinya, kami pulang sendiri-sendiri.

Tanpa hujan.

Tanpa payung.

Tanpa kata.

---

Hari-hari setelah itu terasa aneh.

Kami masih berada di kelas yang sama, tapi seperti dua orang asing yang pernah saling kenal.

Aku masih ingin menyapa.

Tapi gengsi selalu menang.

---

Sampai akhirnya, hari kelulusan datang.

Semua orang sibuk foto, tertawa, merayakan akhir yang katanya bahagia.

Aku hanya berdiri di sudut, mencoba terlihat baik-baik saja.

Lalu tiba-tiba, Arga datang.

“Aku cari kamu dari tadi,” katanya.

Aku menatapnya datar.
“Buat apa?”

Dia menghela napas.

“Buat jelasin.”

Aku diam.

Dia melanjutkan.

“Cewek yang kemarin itu… sepupu aku. Dia lagi ada masalah, jadi aku temenin.”

Jantungku seperti berhenti sebentar.

“Terus… kenapa kamu menjauh?”

Dia menatapku, kali ini lebih serius.

“Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau aku terlalu dekat… aku nggak bisa pergi.”

---

Aku terdiam.

Semua yang aku tahan selama ini tiba-tiba terasa terlalu berat.

“Terus sekarang?” tanyaku pelan.

Dia tersenyum, tapi matanya tidak.

“Sekarang aku harus pergi.”

---

Hari itu kami berpisah.

Tanpa pelukan.

Tanpa janji.

Hanya tatapan yang terlalu lama untuk dianggap biasa.

---

Malamnya, aku membuka chat kami lagi.

Pesan yang kemarin aku kirim… masih belum dibalas.

Aku mengetik sesuatu.

> “Aku suka kamu, Ga.”

Lama aku menatap kalimat itu.

Lalu…

aku hapus.

---

Beberapa menit kemudian, notifikasi muncul.

Dari Arga.

> “Kita masih kayak dulu. Cuma waktunya aja yang beda.”

---

Aku tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya… tanpa berharap lebih.

---

Sejak saat itu, setiap kali hujan turun, aku selalu ingat satu hal:

Tidak semua orang yang datang membawa payung… akan tinggal sampai hujan berhenti.

---

Sen