KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (4) Bagian 2

SERI 4

RUMAH YANG MEMILIH ANAKNYA

Ibunya berdiri, berjalan ke lemari tua di sudut ruang tengah, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu terkunci dengan gembok berkarat. Dari kalung di lehernya, ia mengambil sebuah kunci mungil.

Raka memandang heran. “Ibu pakai kunci itu setiap hari?”

“Sejak kalian kecil.”

Kotak dibuka.

Di dalamnya ada beberapa foto lama, gelang bayi rumah sakit, dua kartu identitas anak, serta sebuah lembar kertas yang sudah menguning.

Ibunya menyerahkannya kepada Raka.

Di bagian atas tertulis:

FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU
SMP NEGERI ARUNIKA

Raka mengernyit.

“Tahun berapa ini?”

“Dua puluh delapan tahun lalu.”

Raka melihat nama yang tercetak.

Nama Peserta Didik: Ratih Kusuma

Raka menatap ibunya.

“Itu nama Ibu.”

“Iya.”

Nomor pendaftarannya tertulis:

36

Raka merasa napasnya berhenti sejenak.

Ia membaca lagi.

Nomor tiga puluh enam.

Sama seperti nomor yang terus muncul di sekolahnya.

“Ibu... dulu sekolah di SMP Arunika?”

Ibunya mengangguk.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena sampai kamu masuk sana, Ibu berharap semuanya sudah selesai.”

“Apa yang selesai?”

Ibunya mengambil satu foto kelas dari kotak.

Foto hitam-putih yang sudah mulai pudar.

Tiga puluh enam siswa berdiri bersama seorang guru.

Raka menghitung dua kali.

Tiga puluh enam.

“Ini kelas Ibu?”

“Iya.”

“Berarti dulu masih lengkap?”

“Lihat bagian belakang.”

Raka membalik foto.

Di belakang, nama semua siswa ditulis tangan.

Nomor satu sampai tiga puluh lima masih terbaca jelas.

Nomor tiga puluh enam dicoret keras dengan tinta hitam.

Di sebelahnya ada tulisan kecil.

Ratih Kusuma – jangan diingat.

Raka menatap ibunya.

“Siapa yang menulis ini?”

Ibunya menjawab pelan, “Ibu sendiri.”

Raka tidak bergerak.

“Kenapa?”

“Karena dulu... Ibu adalah anak yang seharusnya hilang.”

Ruangan terasa lebih dingin.

Raka menatap foto itu lagi.

“Ibu mengalami hal yang sama?”

“Tidak persis.”

“Tapi Ibu nomor 36.”

“Iya.”

“Dan orang-orang mulai lupa?”

“Iya.”

“Terus Ibu selamat bagaimana?”

Ibunya menunduk.

“Karena ada orang lain yang menggantikan Ibu.”

Raka merasakan jantungnya berdegup lebih keras.

“Siapa?”

Ibunya mengambil foto lain.

Foto keluarga.

Ada seorang gadis remaja berdiri di samping ibunya. Wajah mereka mirip.

“Ibu punya kakak perempuan.”

“Punya?”

“Namanya Mira.”

Raka menatap foto itu.

“Aku tidak pernah dengar.”

“Tak ada yang ingat dia.”

“Kecuali Ibu?”

“Dulu Ibu ingat.”

“Dulu?”

Ibunya menunjuk wajah gadis dalam foto.

“Sekarang Ibu cuma tahu dia pernah ada karena foto ini.”

Raka menatap ibunya ngeri.

“Ibu bahkan lupa wajah kakak sendiri?”

“Iya.”

“Bagaimana dia menggantikan Ibu?”

“Ibu tidak tahu semuanya. Saat itu Ibu baru kelas delapan.”

Kalimat itu membuat Raka langsung menegakkan badan.

“Kelas delapan?”

Ibunya mengangguk.

“Sama seperti aku.”

“Iya.”

Raka merasa kepalanya mulai berat.

“Jadi ini bukan karena namaku dan Raka Perdana?”

Ibunya menggeleng perlahan.

“Nama kalian mungkin membuat siklusnya muncul lebih cepat.”

“Siklus?”

“Setiap beberapa tahun, ada seseorang yang menjadi nomor tiga puluh enam.”

“Kenapa?”

“Ibu tidak tahu.”

“Tapi sekolah selalu punya tiga puluh lima siswa di foto kelulusan.”

Ibunya terkejut.

“Kamu sudah lihat arsip?”

Raka mengangguk.

“Nara membawaku ke gudang.”

Wajah ibunya langsung berubah.

“Nara?”

“Iya.”

“Nama lengkapnya?”

Raka mencoba mengingat.

“Nara... Nara Adelia.”

Ibunya berdiri mendadak.

“Ayahnya siapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Ibunya?”

“Enggak tahu juga.”

Ibunya mulai berjalan mondar-mandir.

“Kenapa?”

“Karena kalau dia benar Nara Adelia...”

Belum sempat menyelesaikan kalimat, terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Raka dan ibunya sama-sama diam.

Tok.

Tok.

Tok.

“Siapa?” tanya ibunya.

Tidak ada jawaban.

Raka mendekati jendela dan mengintip dari sela tirai.

Tidak ada siapa pun.

Hanya sebuah amplop cokelat di depan pintu.

Ibunya langsung menarik Raka menjauh.

“Jangan dibuka.”

“Kenapa?”

“Karena dulu amplop seperti itu datang sebelum Mira hilang.”

Raka menatap pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara ketukan kembali terdengar.

Padahal dari jendela jelas tidak ada orang.

Raka berbisik, “Kalau tidak dibuka?”

“Biasanya dia akan masuk sendiri.”

Raka menelan ludah.

“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”

Tiba-tiba buku biru di tangannya terbuka sendiri.

Tulisan baru muncul.

Yang sudah pernah selamat tidak boleh memiliki anak yang selamat dua kali.

Raka membaca kalimat itu.

“Apa maksudnya?”

Ibunya memucat.

Sebelum ia menjawab, pintu depan terbuka sendiri.

Amplop cokelat meluncur masuk.

Pintu menutup kembali.

Raka dan ibunya hanya menatap benda itu di lantai.

Setelah beberapa detik, Raka berjalan mendekat.

Ibunya meraih lengannya.

“Jangan.”

“Tapi kita harus tahu.”

“Tidak semua hal harus diketahui.”

“Justru karena Ibu berpikir begitu, aku baru tahu hari ini kalau punya saudara kembar dan tante yang hilang.”

Ibunya tidak bisa membantah.

Raka mengambil amplop.

Di dalamnya ada satu lembar foto kelas baru.

Foto VIII-B.

Tiga puluh enam siswa.

Raka ada di sana.

Dimas.

Nara.

Semua lengkap.

Namun di bagian belakang foto ada tulisan tangan:

Pemilihan berikutnya sudah dimulai.

Di bawahnya tercantum dua nama.

Raka Pradana

dan

Nara Adelia

Raka menatap ibunya.

“Kenapa ada nama Nara?”

Ibunya menutup mulut dengan tangan.

“Karena Nara bukan sekadar temanmu.”

“Apa maksudnya?”

Ibunya mengambil foto lama masa SMP-nya dan menunjuk satu anak perempuan di barisan belakang.

Wajah gadis itu samar, tetapi masih terlihat.

Di bawah foto tertulis nama:

Mira Adelia.

Raka membeku.

“Adelia?”

Ibunya mengangguk.

“Kakak Ibu.”

Dada Raka terasa sesak.

“Berarti...”

“Iya.”

“Nara ada hubungan dengan Tante Mira?”

“Ibu tidak tahu bagaimana.”

Ponsel Raka tiba-tiba berbunyi.

Satu pesan masuk.

Dari Dimas.

Rak, cepat ke sekolah. Nara hilang.

Raka langsung membuka pesan.

Di bawahnya ada foto yang dikirim Dimas.

Foto kelas VIII-B yang baru ditempel di grup.

Raka masih terlihat.

Dimas masih terlihat.

Semua siswa lengkap.

Kecuali satu.

Tempat Nara berdiri kosong.

Raka menatap layar dengan tangan gemetar.

Pesan kedua masuk.

Yang aneh, semua orang bilang dari awal kelas kita memang tidak pernah punya murid bernama Nara.

Raka mengangkat wajah.

Ibunya sudah menangis.

Lalu buku biru terbuka ke halaman terakhir.

Tulisan baru muncul.

Kali ini bukan satu anak yang akan hilang.

Baris kedua muncul perlahan.

Kali ini dua keluarga harus membayar utang lama.

Raka menatap nama Nara di foto.

Kemudian nama Mira Adelia di foto lama.

Dan akhirnya sesuatu yang jauh lebih mengerikan muncul di bawah tulisan itu.

Sebuah tanggal.

Besok, pukul 07.15.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat.

Bangku nomor 36 akan terisi lagi.

Bersambung…

---

Sen