KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (5) Bagian 2
SERI 5 Bagian 2
PEREMPUAN YANG TIDAK PERNAH PULANG
Mereka memeriksa gudang kelas.
Tidak ada.
Gudang olahraga.
Tidak ada.
Ruang OSIS.
Tidak ada.
Dimas bahkan sempat membuka toilet guru sampai Raka menariknya kembali.
“Kenapa kamu cari bangku di toilet?”
“Siapa tahu.”
“Bangku kelas?”
“Rak, kita sedang menghadapi orang hilang, foto berubah sendiri, dan kamu punya saudara kembar yang dihapus dari ingatan. Menurutku bangku di toilet bukan lagi hal paling aneh.”
Raka tidak bisa membantah.
Pukul 07.07.
Mereka menuju gudang belakang perpustakaan.
Pintunya terkunci.
Kunci yang kemarin digunakan Nara sudah tidak ada.
Raka mencoba mendorong.
Tidak bergerak.
Dimas mengeluarkan kawat tipis dari tas.
Raka menatapnya curiga.
“Kamu bawa itu buat apa?”
“Cadangan.”
“Cadangan apa?”
“Keadaan seperti ini.”
“Kamu sudah mempersiapkan alat untuk membobol pintu sebelum tahu kita butuh membobol pintu?”
Dimas mengangguk.
“Setiap orang punya bakat.”
“Aku mulai khawatir bakatmu.”
Belum sempat Dimas menggunakan kawat, pintu gudang terbuka sendiri.
Keduanya diam.
Dimas memasukkan kawat kembali ke tas.
“Kadang hidup menghargai persiapan dengan cara tidak membutuhkannya.”
Mereka masuk.
Gudang berbeda dari kemarin.
Semua album foto tersusun rapi.
Tidak ada debu.
Tidak ada kamera tua.
Tidak ada foto Alya.
Bahkan lemari yang sebelumnya mengeluarkan bunyi kini kosong.
Di tengah ruangan hanya ada satu kursi.
Bukan bangku siswa.
Kursi kayu tua.
Di atasnya terdapat secarik kertas.
Raka mengambilnya.
JANGAN MENCARI YANG SUDAH DIAMBIL.
Dimas membaca dari belakang bahunya.
“Kalimatnya tidak ramah.”
Raka membalik kertas.
Ada tulisan lain.
CARI ORANG YANG TIDAK PERNAH PULANG.
Raka langsung teringat pesan ibunya.
Mira Adelia.
Ia melihat jam.
07.11.
“Dim, kita harus keluar.”
“Kenapa?”
“Empat menit lagi.”
“Empat menit lagi apa?”
“Aku juga enggak tahu. Itu masalahnya.”
Mereka berlari keluar gudang.
Namun saat sampai di lorong, sesuatu berubah.
Sekolah mendadak penuh siswa.
Padahal satu detik sebelumnya masih sepi.
Ratusan anak berjalan di lorong mengenakan seragam.
Tetapi bukan seragam SMP Negeri Arunika yang sekarang.
Modelnya berbeda.
Celana laki-laki lebih pendek.
Rok perempuan lebih panjang.
Tas mereka model lama.
Tidak ada yang membawa ponsel.
Di dinding terpajang poster yang warnanya sudah pudar.
Dimas berhenti.
“Rak.”
“Iya.”
“Kayaknya kita telat masuk sekolah.”
“Bukan itu.”
“Maksudku telat sekitar tiga puluh tahun.”
Raka melihat kalender di dinding.
AGUSTUS 1998.
Darahnya terasa dingin.
Mereka tidak lagi berada di sekolah tahun 2026.
Setidaknya bukan sekolah yang mereka kenal.
Seorang guru berjalan melewati mereka.
Tidak melihat.
Beberapa siswa menembus tubuh Dimas.
Dimas langsung memeriksa tangannya.
“Kenapa aku transparan?”
“Kita mungkin cuma melihat ingatan.”
“Bagus. Aku sempat takut mati.”
Raka menatapnya.
“Kalau mati gimana?”
Dimas berpikir.
“Setidaknya aku tidak perlu ulangan matematika.”
“Prioritas hidupmu luar biasa.”
Mereka mengikuti kerumunan siswa menuju kelas lama.
Di pintu tertulis:
VIII-B
Raka berhenti.
Di dalamnya ada tiga puluh enam siswa.
Di baris belakang duduk seorang gadis remaja yang wajahnya sangat mirip dengan Nara.
Rambut panjang.
Mata tenang.
Di meja tertulis:
MIRA ADELIA
Raka tidak bisa bergerak.
“Itu dia.”
Dimas menoleh.
“Siapa?”
“Tante Mira.”
Gadis itu sedang menulis sesuatu.
Di bangku sebelahnya duduk seorang anak perempuan lain.
Raka mengenali wajahnya dari foto ibunya.
Ratih Kusuma.
Ibunya sendiri.
Versi remaja.
Dimas mendekat.
“Jadi itu ibu kamu?”
“Iya.”
“Wah.”
“Wah kenapa?”
“Waktu muda ibumu lebih rapi daripada kamu sekarang.”
“Fokus.”
Guru di depan kelas memanggil absensi.
Nomor satu.
Dua.
Tiga.
Sampai tiga puluh lima.
Kemudian:
“Tiga puluh enam, Ratih Kusuma.”
Ibu Raka muda mengangkat tangan.
“Hadir.”
Raka mengerutkan kening.
“Mira nomor berapa?”
Dimas melihat daftar di meja guru.
“Tidak ada.”
“Apa?”
“Mira enggak tercatat.”
“Tapi dia duduk di situ.”
Guru mulai mengajar.
Semua siswa berinteraksi dengan Mira seperti biasa.
Mereka meminjam pensil.
Bercanda.
Bicara dengannya.
Namun namanya tidak ada di daftar.
Raka merasakan sesuatu semakin aneh.
Lalu Mira tiba-tiba menoleh.
Bukan kepada teman.
Bukan kepada guru.
Kepada Raka.
Tatapannya tepat mengenai mata Raka.
Raka mundur.
“Dia bisa lihat kita.”
Dimas menelan ludah.
“Yang ini aku enggak suka.”
Mira berdiri.
Ia berjalan melewati teman-temannya.
Langsung menuju Raka.
Setiap langkah membuat suasana kelas perlahan menghilang.
Suara guru memudar.
Siswa berubah menjadi bayangan.
Meja hilang satu per satu.
Sampai akhirnya hanya tersisa Raka, Dimas, dan Mira.
Mira berdiri di depan mereka.
Usianya masih sekitar empat belas tahun.
Namun suaranya terdengar seperti seseorang yang sudah hidup sangat lama.
“Kalian terlambat.”
Raka mencoba menjaga suaranya tetap stabil.
“Kamu Mira Adelia?”
Gadis itu tersenyum.
“Akhirnya ada yang menyebut namaku lagi.”
“Kamu kakaknya Ibu Ratih?”
Ekspresinya berubah.
“Ratih masih hidup?”
“Dia ibuku.”
Mira menatap Raka lama.
Kemudian tersenyum sedih.
“Berarti dia berhasil.”
“Berhasil apa?”
“Melupakanku.”
Raka menggeleng.
“Ibu menyimpan fotomu.”
“Foto bukan ingatan.”
“Dia tahu kamu pernah ada.”
“Tahu bukan berarti ingat.”
Raka tidak menjawab.
Mira berjalan mengelilinginya.
“Kamu anak Ratih.”
“Iya.”
“Dan kamu nomor tiga puluh enam.”
“Bukan. Nomor absensiku dua belas.”
Mira tertawa kecil.
“Kalian selalu berpikir nomor tiga puluh enam adalah nomor di daftar hadir.”
Ia mendekat.
“Bukan.”
“Terus apa?”
“Nomor tiga puluh enam adalah orang yang tidak seharusnya masih diingat.”
Dimas mengangkat tangan.
“Maaf. Saya agak lambat kalau urusan metafisika. Bisa dijelaskan pakai bahasa orang kantin?”
Mira menatapnya.
Anehnya, ia tersenyum.
“Kamu lucu.”
Dimas menoleh kepada Raka.
“Orang dari masa lalu saja mengakui.”
“Dim.”
“Iya.”
Mira duduk di sebuah meja yang tiba-tiba muncul dari kegelapan.
“Setiap kelompok ingatan hanya bisa menahan jumlah tertentu.”
“Kelompok ingatan?”
“Kelas. Keluarga. Persahabatan. Kadang satu kampung.”
Raka mulai memahami.
“Kalau ada orang lebih?”
“Bukan lebih.”
Mira memotong.
“Orang yang seharusnya hilang, tetapi tetap diingat.”
Raka teringat ibunya.
“Jadi Ibu seharusnya hilang dulu?”
“Ya.”
“Kamu menggantikannya?”
Mira menunduk.
“Tidak.”
Raka mengernyit.
“Ibu bilang begitu.”
“Ratih tidak pernah tahu kebenarannya.”
“Terus apa yang terjadi?”
Mira menatapnya.
“Ratih bukan anak yang dipilih.”
Raka merasa tengkuknya dingin.
“Tapi nomor tiga puluh enam—”
“Nomor itu bukan miliknya.”
Mira berdiri dan berjalan menuju papan tulis.
Dengan kapur, ia menulis dua nama.
MIRA ADELIA
RATIH KUSUMA
Kemudian ia menulis satu nama lagi.
SURI ADELIA
Raka menatapnya.
“Siapa Suri?”
Mira menoleh.
“Adikku.”
“Kamu punya adik?”
“Punya.”
“Berarti Nara—”
Mira tersenyum sedih.
“Nara adalah cucunya.”
Raka terdiam.
Dimas bahkan tidak sempat bercanda.
“Nara cicit keluarga kalian?”
“Cucu Suri.”
“Kenapa Ibu mengenali nama Adelia?”
“Karena sebagian ingatan tidak pernah benar-benar hilang.”
Mira menghapus papan.
“Dan sekarang Nara sedang membayar sesuatu yang bukan utangnya.”
“Di mana dia?”
Mira tidak menjawab.
Raka melangkah maju.
“Di mana Nara?”
“Kamu tidak bisa menolongnya kalau belum tahu siapa yang mengambilnya.”
“Siapa?”
Mira menatap lurus ke arahnya.
“Bukan sekolah.”
“Terus?”
“Bukan buku.”
“Lalu siapa?”
Mira menunjuk Raka.
“Keluargamu.”
Raka merasa marah.
“Jangan bohong.”
“Aku tidak perlu berbohong. Aku sudah dilupakan hampir tiga puluh tahun. Tidak banyak lagi yang bisa kuhilangkan.”
“Ibuku menyelamatkan aku.”
“Tidak.”
Mira mendekat.
“Ibumu memulai semuanya.”
Raka menggertakkan gigi.
“Kamu bilang tadi dia tidak tahu kebenaran.”
“Memang.”
“Terus bagaimana bisa dia memulai?”
“Karena dia melakukan sesuatu saat kamu lahir.”
Mira menyentuh dahi Raka.
Dalam sekejap, Raka melihat ruangan rumah sakit.
Ibunya terbaring di ranjang.
Ayahnya berdiri di samping dua bayi.
Satu bayi menangis.
Satu diam.
Dokter berbicara, tetapi suaranya tidak terdengar.
Lalu ibu Raka muda mengeluarkan sesuatu dari tas.
Buku biru.
Ia menulis dua nama.
Raka Pradana
Raka Perdana
Di bawahnya ia menulis:
Aku tidak mau kehilangan anak lagi. Biarkan keduanya hidup.
Raka tersentak kembali.
Napasnya memburu.
“Apa itu?”
“Permintaan.”
“Permintaan kepada siapa?”
Mira menatap buku biru yang kini tiba-tiba ada di tangan Raka.
“Kepada sesuatu yang tidak pernah seharusnya diminta.”
Dimas berbisik, “Ini bagian yang biasanya berakhir buruk.”
Mira mengangguk.
“Benar.”
Raka membuka buku.
Halaman kosong mulai terisi.
Setiap yang diselamatkan membutuhkan pengganti.
Di bawahnya:
Satu anak untuk satu anak.
Raka menatap Mira.
“Raka Perdana jadi penggantiku?”
“Awalnya.”
“Terus kenapa Nara?”
Mira belum sempat menjawab.
Bel sekolah berbunyi.
Keras.
Seluruh dunia bergetar.
Jam di dinding menunjukkan:
07.15
Mira menoleh ke pintu kelas.
“Sudah dimulai.”
“Apa?”
“Pemilihan.”
Pintu terbuka.
Mereka kembali berada di tahun 2026.
Kelas VIII-B penuh siswa.
Semua duduk di tempat masing-masing.
Pak Junaidi berdiri di depan.
Dimas kini duduk di bangkunya sendiri, seolah tidak pernah berada bersama Raka beberapa detik sebelumnya.
Raka berdiri di belakang kelas.
Dan bangku nomor tiga puluh enam...
sudah kembali.
Seseorang duduk di sana.
Seorang gadis.
Rambutnya panjang.
Kepalanya tertunduk.
Raka mendekat.
“Nara?”
Gadis itu mengangkat wajah.
Bukan Nara.
Usianya sekitar empat belas tahun.
Wajahnya sama persis dengan gadis yang baru saja ditemui Raka di tahun 1998.
Mira Adelia.
Pak Junaidi membuka daftar hadir.
“Tiga puluh enam.”
Gadis itu mengangkat tangan.
“Hadir, Pak.”
Raka menatapnya tidak percaya.
Mira menoleh.
Tetapi tatapannya kosong.
Tidak mengenali Raka.
Dimas berbisik dari meja depan.
“Rak.”
Raka menghampirinya.
“Kamu ingat tadi?”
“Ingat apa?”
Raka langsung diam.
Dimas menunjuk bangku belakang.
“Siapa anak baru itu?”
Raka merasa dadanya sesak.
Sebelum menjawab, ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor Nara.
Hanya ada sebuah foto.
Foto sebuah ruangan gelap.
Nara duduk di kursi.
Tangannya tidak terikat.
Ia tampak baik-baik saja.
Tetapi di belakangnya berdiri seseorang.
Seorang perempuan dewasa.
Wajahnya sangat dikenal Raka.
Ibunya.
Di bawah foto ada pesan.
Raka, jangan percaya Mira.
Pesan kedua masuk.
Dia bukan orang yang hilang.
Raka menelan ludah.
Pesan ketiga.
Dia orang yang membuat kami semua hilang.
Raka mengangkat wajah ke arah bangku nomor tiga puluh enam.
Mira masih menatap papan tulis.
Lalu perlahan...
tanpa menoleh...
ia tersenyum.
Bersambung…
