KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (6) Bagian 1
SERI 6 Bagian 1
INGATAN YANG TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN
Raka baru sadar satu hal penting setelah lima menit memandangi pesan dari nomor Nara: hidup akan jauh lebih sederhana kalau semua orang yang mencurigakan bersedia memakai tanda pengenal. Misalnya sebuah kalung bertuliskan SAYA PENJAHAT, atau paling tidak kaus dengan tulisan JANGAN PERCAYA SAYA. Sayangnya, kehidupan tidak menyediakan fasilitas semacam itu. Yang Raka miliki sekarang hanya dua perempuan dari keluarga Adelia, satu hadir sebagai siswi berusia empat belas tahun yang seharusnya sudah berumur lebih dari empat puluh, satu lagi menghilang entah ke mana, dan ibunya sendiri muncul dalam sebuah foto misterius dengan posisi yang tidak terlalu meyakinkan. Lebih buruk lagi, semua orang di kelas tampaknya menerima kehadiran Mira dengan santai. Pak Junaidi bahkan sudah menulis namanya di daftar hadir. “Mira Adelia, nomor tiga puluh enam,” katanya sambil menutup buku. “Besok jangan lupa membawa buku paket.” Mira mengangguk sopan seperti murid baru pada umumnya. Raka menatapnya dari jauh. Tiga puluh tahun menghilang, kembali ke dunia, lalu hal pertama yang diterima justru tugas membawa buku paket. Sistem pendidikan memang konsisten.
“Rak.”
Dimas menarik ujung bajunya.
“Apa?”
“Kamu dari tadi melihat anak baru seperti dia punya utang.”
“Bisa lebih buruk dari utang.”
“Pinjam charger enggak dikembalikan?”
Raka menahan keinginan untuk menjitak sahabatnya. “Dim, dia Mira Adelia.”
Dimas mengangguk.
“Iya. Pak Junaidi baru bilang.”
“Mira Adelia yang hilang hampir tiga puluh tahun.”
Dimas mengunyah ujung pulpennya sambil menatap Mira. “Kalau begitu skincare-nya bagus.”
Raka menoleh perlahan.
“Dim.”
“Iya?”
“Kadang aku berpikir kamu bisa hidup sampai tua hanya karena bahaya malas mendekatimu.”
“Itu bakat.”
Raka kembali melihat Mira. Gadis itu membuka buku dan mencatat pelajaran dengan tenang. Tidak ada ekspresi aneh. Tidak ada tatapan rahasia. Tidak ada tanda bahwa beberapa menit sebelumnya—atau tiga puluh tahun sebelumnya, tergantung bagaimana seseorang menghitungnya—ia berbicara kepada Raka tentang ibunya, Nara, dan sebuah utang yang diwariskan antargenerasi. Bahkan ketika Raka sengaja berjalan melewati bangkunya, Mira tidak menoleh sedikit pun.
Raka berhenti.
“Mira.”
Tidak ada reaksi.
“Mira Adelia.”
Gadis itu akhirnya mengangkat wajah. “Iya?”
“Kamu kenal aku?”
Mira memandangnya beberapa detik.
“Raka, kan?”
Jantung Raka langsung berdegup.
“Kamu ingat?”
“Tentu.”
“Dari mana?”
Mira mengernyit. “Kita sekelas.”
Dimas yang berdiri di belakang Raka langsung mengangguk penuh kebijaksanaan.
“Penjelasan yang sangat kuat.”
Raka mengabaikannya. “Sebelum hari ini?”
“Sebelum hari ini apa?”
“Kamu pernah melihat aku?”
Mira tertawa kecil. “Kamu aneh.”
Kalimat itu terdengar sangat biasa.
Justru itulah yang membuat Raka semakin tidak nyaman.
Mira yang ditemuinya beberapa menit sebelumnya mengetahui terlalu banyak. Mira yang sekarang terlihat tidak tahu apa-apa.
Atau sangat pandai berpura-pura.
Raka ingin bertanya lagi, tetapi Pak Junaidi menegurnya dari depan.
“Raka, kalau sudah selesai wawancara murid baru, kembali ke tempat duduk.”
Kelas tertawa.
Dimas berbisik, “Cepat juga. Baru kenal sudah wawancara pribadi.”
“Diam.”
“Oke.”
“Dan jangan bikin teori aneh.”
“Aku belum bicara.”
“Wajahmu sudah.”
---
Saat bel istirahat berbunyi, Raka menyeret Dimas ke belakang tangga.
“Kenapa kita sembunyi?” tanya Dimas.
“Kita harus lihat pesan Nara lagi.”
“Kita bisa lihat di kelas.”
“Tidak.”
“Di kantin?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Raka memandang sekeliling. “Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Dimas terdiam sejenak.
Kemudian memandang dirinya sendiri.
“Termasuk aku?”
Raka tidak menjawab.
Senyum Dimas langsung hilang.
“Oh.”
Raka merasa bersalah.
“Bukan begitu.”
“Enggak apa-apa.”
“Dim—”
“Aku ngerti.”
Dimas duduk di anak tangga.
Untuk sekali ini tidak ada lelucon.
Raka ikut duduk di sebelahnya.
“Aku bahkan sempat tidak tahu apakah aku sendiri Raka yang asli.”
“Nah, kalau soal itu aku tahu.”
“Bagaimana?”
Dimas menatapnya.
“Raka palsu terlalu pintar.”
Raka memukul bahunya.
“Aduh!”
“Tadi aku hampir terharu!”
“Ya kan benar.”
“Sedikit.”
Dimas tertawa.
Ketegangan pecah.
Raka membuka foto yang dikirim nomor Nara. Nara duduk di sebuah kursi. Di belakangnya berdiri ibu Raka.
Mereka memperbesar gambar.
“Perhatikan,” kata Dimas.
“Apa?”
“Ibumu.”
“Kenapa?”
“Dia enggak melihat kamera.”
Raka memperbesar lagi.
Benar.
Ibunya melihat ke arah kanan, seperti sedang berbicara dengan seseorang di luar foto.
Dimas menunjuk bayangan di dinding.
“Ada orang ketiga.”
Raka melihatnya.
Bayangan seseorang terlihat samar di sebelah ibu Raka.
Tubuh tinggi.
Sepertinya perempuan.
“Bisa Mira?”
“Entah.”
Raka memperbesar lagi sampai foto mulai pecah.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Di belakang kursi Nara ada tulisan.
Tertutup sebagian tubuh.
Raka hanya bisa membaca tiga huruf terakhir.
...RIP
“Trip?” kata Dimas.
“Kenapa ada tulisan trip di ruangan gelap?”
“Siapa tahu ruang travel.”
“Dim.”
“Ya sudah.”
Raka memutar gambar.
Bukan TRIP.
Huruf sebelumnya terlihat samar.
A R S I P
Raka dan Dimas saling memandang.
“Gudang arsip,” kata Raka.
Mereka langsung berlari.
---
Gudang belakang perpustakaan kembali terkunci.
Namun kali ini Dimas bahkan belum sempat mengeluarkan kawat ajaibnya ketika terdengar suara dari dalam.
“Raka?”
Raka membeku.
Itu suara Nara.
“Nara!”
Ia mengguncang pintu.
“Raka, jangan masuk!”
Dimas berhenti.
“Biasanya kalau orang bilang jangan masuk...”
“Aku tahu.”
“...kita masuk.”
“Aku tahu.”
Dimas mengeluarkan kawat.
“Berarti pendidikan film kita berhasil.”
Beberapa detik kemudian kunci terbuka.
Raka menatapnya.
“Kamu sebenarnya belajar ini dari mana?”
“Internet.”
“Video apa?”
“Rahasia.”
“Kamu mencurigakan.”
“Fokus ke perempuan hilang dulu.”
Mereka membuka pintu.
Gudang gelap.
Raka menyalakan senter ponsel.
“Nara?”
Tidak ada jawaban.
Mereka maju.
Di tengah ruangan, sebuah kursi berdiri menghadap dinding.
Kosong.
Foto yang dikirim tadi jelas diambil di tempat itu.
“Nara!” teriak Raka.
“Jangan berisik,” suara seorang perempuan muncul dari belakang lemari.
Raka berbalik.
Ibunya keluar dari kegelapan.
“Bu?”
Dimas refleks merapikan seragam.
“Selamat pagi, Bu.”
Raka menoleh kesal. “Kenapa kamu malah salam?”
“Refleks kalau ketemu orang tua teman.”
Ibunya tidak menanggapi. Wajahnya terlihat lelah. Di tangannya ada sebuah map besar.
“Raka, kamu tidak boleh berada di sini.”
“Mana Nara?”
“Aman.”
“Mana?”
“Pulang.”
“Bohong. Nomornya kirim foto dari sini.”
Ibunya menatapnya tajam.
“Kapan?”
“Pagi.”
Ibunya menggeleng. “Nara tidak memiliki ponsel sekarang.”
Raka terdiam.
“Apa?”
“Teleponnya ada pada Ibu.”
Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari tas.
Ponsel Nara.
Raka mengenal casing transparan dengan stiker bunga kecil di belakangnya.
“Kalau begitu siapa yang kirim pesan?”
Ibunya tidak menjawab.
Dimas perlahan mundur setengah langkah.
“Ini biasanya bagian ketika kita baru sadar seharusnya tidak membuka pintu.”
Raka menatap ibunya.
“Bu. Jelaskan semuanya.”
“Tidak di sini.”
“Sekarang.”
“Raka—”
“Semua orang terus bilang begitu! Jangan buka. Jangan cari. Jangan ingat. Jangan tanya.” Suara Raka meninggi. “Lihat hasilnya. Aku punya saudara kembar yang bahkan baru kuketahui kemarin. Nara hilang. Ada perempuan dari tahun 1998 duduk di kelasku. Dan Ibu tahu semua ini dari awal.”
Ratih terdiam.
Raka melanjutkan.
“Kalau Ibu masih menyembunyikan sesuatu, aku akan cari sendiri.”
Ibunya menatapnya lama.
Kemudian menyerahkan map.
“Baik.”
Raka membukanya.
Di dalamnya ada puluhan lembar foto kelas.
Bukan hanya SMP Arunika.
Sekolah berbeda.
Kota berbeda.
Tahun berbeda.
Semua memiliki satu kesamaan.
Tiga puluh enam anak di foto awal.
Tiga puluh lima di foto berikutnya.
“Ini apa?”
“Kasus yang berhasil Ibu temukan.”
“Berarti bukan cuma sekolah kita?”
“Tidak.”
Raka teringat ucapan Mira.
Sekolah bukan penyebabnya.
“Kapan dimulai?”
“Tidak ada yang tahu.”
“Kenapa siswa ke-36?”
Ibunya menggeleng.
“Bukan soal angka.”
Raka menatapnya.
“Mira bilang hal yang sama.”
Wajah Ratih menegang.
“Kamu bicara dengan Mira?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Pagi tadi.”
“Seperti apa dia?”
“Umur empat belas.”
Ibunya langsung memucat.
“Jangan pernah bicara dengannya lagi.”
“Kenapa?”
“Karena Mira yang kamu temui bukan kakak Ibu.”
Raka terdiam.
“Apa?”
“Kakak Ibu benar-benar hilang dua puluh delapan tahun lalu.”
“Terus yang di kelas?”
“Salinan.”
“Salinan apa?”
“Ibu tidak tahu apa namanya.”
Raka teringat Raka Perdana.
Seseorang bisa menggantikan seseorang.
Meniru wajah.
Meniru ingatan.
Meniru kehidupan.
“Tapi dia tahu tentang keluarga kita.”
“Karena sesuatu yang menghapus ingatan juga menyimpannya.”
Kalimat itu membuat Raka diam.
“Apa maksud Ibu?”
Ratih menunjuk lemari-lemari gudang.
“Menurutmu ke mana perginya semua ingatan yang hilang?”
Raka tidak pernah memikirkan itu.
“Bukannya... lenyap?”
“Ibu dulu juga berpikir begitu.”
Ratih berjalan menuju lemari paling belakang.
“Tidak ada ingatan yang benar-benar lenyap.”
Ia menarik lemari.
Di belakangnya ada pintu kecil.
Raka tidak pernah melihatnya.
Dimas mendekat.
“Sekolah kita punya terlalu banyak pintu rahasia.”
Bersambung...
---
Sen
