KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (6) Bagian 2

SERI 6 Bagian 1

INGATAN YANG TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN

Pintu itu terbuka.

Di baliknya terdapat ruangan sempit.

Dindingnya dipenuhi tulisan nama.

Ratusan.

Mungkin ribuan.

Beberapa dicoret.

Beberapa pudar.

Beberapa masih jelas.

Raka mengenali satu.

ALYA ADELIA

Di bawahnya:

MIRA ADELIA

Kemudian:

RAKA PERDANA

Darah Raka terasa dingin.

“Semua orang yang hilang?”

Ibunya mengangguk.

“Nama mereka tersimpan.”

“Siapa yang menulis?”

“Tidak tahu.”

Raka berjalan menyusuri dinding.

Nama demi nama.

Kemudian ia berhenti.

Ada tulisan baru.

Tintanya masih basah.

NARA ADELIA

Raka menyentuhnya.

“Nara sudah masuk daftar.”

Ibunya mengangguk.

“Tapi belum sepenuhnya hilang.”

“Bagaimana menyelamatkannya?”

“Namanya harus dihapus dari sini sebelum proses selesai.”

Raka langsung menggosok tulisan.

Tidak hilang.

Ia mencoba menggunakan lengan bajunya.

Tetap.

Dimas mencoba air minum.

Tidak berubah.

“Bagaimana menghapusnya?”

Ratih membuka map dan mengeluarkan sebuah foto.

“Dengan mengembalikan ingatan yang digantikan.”

“Ingatan siapa?”

Ratih menatap nama Mira.

“Keluarga Adelia.”

Raka mulai memahami.

“Nara hilang karena Mira?”

“Karena seseorang berusaha mengembalikan Mira.”

“Siapa?”

Ratih menggeleng.

“Bukan Ibu.”

Tiba-tiba terdengar tepuk tangan pelan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dari pintu gudang.

Mira berdiri di sana.

Masih mengenakan seragam.

“Bagus sekali, Ratih.”

Ibunya membeku.

Wajah Mira tidak lagi terlihat seperti anak empat belas tahun yang polos.

Matanya berbeda.

Lebih tua.

Lebih dingin.

“Kak...” suara Ratih tercekat.

Mira tersenyum.

“Jangan panggil aku begitu.”

Raka berdiri di depan ibunya.

“Kamu siapa?”

Mira menatapnya.

“Sudah kukatakan.”

“Kamu bukan Mira.”

“Aku adalah semua yang masih diingat tentang Mira.”

Dimas berbisik, “Secara teknis jawabannya keren, tapi tidak membantu.”

Mira melangkah masuk.

“Aku ingat bagaimana Ratih menangis saat kecil.”

Satu langkah.

“Aku ingat bagaimana Suri memegang tangan Mira.”

Satu langkah lagi.

“Aku ingat suara ayah mereka.”

Ia berhenti.

“Bahkan Ratih sendiri sudah tidak punya ingatan sebanyak yang kumiliki.”

Ratih menggeleng.

“Kamu bukan kakakku.”

“Benar.”

Mira tersenyum.

“Aku jauh lebih lengkap daripada dia.”

Raka merasakan buku biru di dalam tas bergetar.

Ia mengeluarkannya.

Buku terbuka sendiri.

Sebuah tulisan muncul.

INGATAN YANG TERLALU LAMA DISIMPAN AKAN MENCARI TUBUH BARU.

Raka membaca.

Kemudian melihat Mira.

“Kamu kumpulan ingatan?”

“Tidak hanya aku.”

Mira memandangnya.

“Raka Perdana juga.”

Raka membeku.

“Saudara kembarku?”

“Tubuh aslinya sudah lama tidak ada.”

“Bohong.”

“Dia mati saat kalian berusia lima tahun.”

Ratih menutup matanya.

Raka menoleh kepada ibunya.

“Bu?”

Diam.

“BU?”

Air mata turun di wajah Ratih.

“Dia benar.”

Ruangan seperti kehilangan udara.

“Kenapa Ibu bilang dia hilang?”

“Karena Ibu tidak sanggup mengatakan bahwa dia meninggal.”

Raka mundur.

“Jadi yang mengambil hidupku...”

“Ingatan tentang Perdana.”

Mira menyelesaikan kalimatnya.

“Dia ingin hidup karena kalian terus mengingat seseorang yang seharusnya sudah pergi.”

Raka menggeleng.

“Aku bahkan tidak ingat dia.”

“Tapi ibumu ingat.”

Mira menatap Ratih.

“Bertahun-tahun.”

“Dan setiap ingatan membutuhkan tempat.”

Raka memandang dinding nama.

Alya.

Mira.

Perdana.

Nara.

Semuanya mulai terhubung.

“Jadi nomor tiga puluh enam bukan korban acak.”

“Tidak.”

“Dia pengganti.”

Mira tersenyum.

“Akhirnya.”

Dimas mengangkat tangan sedikit.

“Maaf. Saya mau memastikan. Jadi kalau seseorang yang seharusnya hilang dipaksa tetap hidup lewat ingatan, dunia menghapus orang lain supaya seimbang?”

Mira menatapnya.

“Kamu ternyata tidak sebodoh kelihatannya.”

Dimas tampak tersinggung.

“Terima kasih... kayaknya.”

Raka menatap nama Nara.

“Kalau begitu tinggal biarkan Mira dilupakan lagi.”

Ratih langsung berkata, “Jangan.”

Raka menoleh.

“Kenapa?”

Mira juga tersenyum.

“Ya, Ratih.”

Ia memandang adiknya.

“Beri tahu dia.”

Ratih gemetar.

“Kalau ingatan Mira dihapus sekarang...”

“Apa?”

“Nara tidak kembali.”

Raka merasa dadanya tenggelam.

“Kenapa?”

“Karena pertukarannya sudah dimulai.”

“Terus?”

Ratih melihat dua nama pada dinding.

MIRA ADELIA

NARA ADELIA

“Untuk mengembalikan Nara, seseorang harus mengingat Mira sepenuhnya.”

Raka mengernyit.

“Itu bukannya malah membuat Mira kuat?”

“Iya.”

“Jadi kalau kita selamatkan Nara, kita menghidupkan dia?”

“Iya.”

“Kalau kita hapus Mira?”

“Nara ikut hilang.”

Dimas menghela napas.

“Pilihan di kehidupan normal biasanya antara ayam geprek sama nasi goreng.”

Tak ada yang tertawa.

Mira berjalan menuju Raka.

“Hanya ada satu cara lain.”

Ratih langsung berteriak, “Jangan dengarkan!”

Mira tidak peduli.

“Seseorang bisa menggantikan Nara.”

Raka menatapnya.

“Siapa?”

“Siapa saja yang masih diingat banyak orang.”

Ratih mencengkeram lengan Raka.

“Jangan.”

Mira tersenyum.

“Seseorang yang punya cukup banyak kenangan untuk membayar utangnya.”

Raka tiba-tiba memahami arah pembicaraan.

“Misalnya aku.”

Mira tidak menjawab.

Tidak perlu.

Dimas langsung berdiri di depan Raka.

“Tidak.”

Raka melihatnya.

“Dim.”

“Tidak.”

“Kita bahkan belum tahu caranya.”

“Aku tahu wajah orang yang sedang mulai punya ide bodoh.”

“Aku cuma—”

“Tidak.”

Dimas menunjuk dirinya.

“Kalau perlu cari orang lain.”

Raka menaikkan alis.

“Kamu menawarkan siapa?”

Dimas berpikir.

“Pak Sabar?”

“DIMAS!”

“Bercanda!”

Bahkan Ratih hampir tertawa.

Hanya Mira yang tetap diam.

Kemudian tiba-tiba ekspresinya berubah.

Ia menoleh ke arah dinding.

Nama Nara mulai memudar.

Huruf terakhir menghilang.

Ratih langsung panik.

“Prosesnya dipercepat.”

“Berapa lama?” tanya Raka.

“Tidak tahu.”

Dimas melihat jam.

“Bel masuk lima menit lagi.”

Raka menatapnya.

“Ini bukan soal bel.”

“Aku tahu. Aku cuma refleks.”

Nama Nara memudar lagi.

Kini tinggal:

NARA ADE...

Raka membuka buku biru.

“Pasti ada petunjuk.”

Halaman-halamannya bergerak sendiri.

Berhenti.

Ada sebuah kalimat baru.

UNTUK MENGEMBALIKAN YANG TERLUPAKAN, TEMUKAN INGATAN PERTAMANYA.

Raka membaca keras.

“Ingatan pertama?”

Ratih menatap Mira.

Mira untuk pertama kalinya terlihat takut.

Raka menyadarinya.

“Kamu tahu maksudnya.”

Mira mundur.

“Tidak.”

“Kamu tahu.”

“Tidak ada waktu.”

“Ingatan pertama siapa?”

Mira diam.

Dimas memandang dinding.

Huruf lain menghilang.

NARA AD...

Raka mendekati Mira.

“Ingatan pertama Nara?”

Mira menggeleng.

“Bukan.”

“Ingatan pertama kamu?”

Mira mundur lagi.

“Berhenti.”

Raka semakin yakin.

“Apa yang kamu takutkan?”

Mira tidak menjawab.

Ratih tiba-tiba berbisik.

“Oh Tuhan.”

Raka menoleh.

Ibunya menatap Mira.

“Ingatan pertama yang dihapus.”

Mira langsung menatap Ratih.

“Diam.”

Ratih memucat.

“Bukan Mira yang pertama.”

Raka merasa semua yang dipahaminya kembali runtuh.

“Apa?”

Ratih memandang foto-foto lama.

“Kita selalu menganggap Mira korban pertama keluarga kita.”

Ia menggeleng perlahan.

“Tapi kalau buku ini mengatakan ingatan pertama...”

Mira berjalan cepat menuju Ratih.

“CUKUP.”

Untuk pertama kalinya suaranya membuat seluruh ruangan bergetar.

Foto-foto jatuh dari rak.

Lampu pecah.

Dimas menutup kepala.

“Sekarang aku yakin dia bukan murid pindahan biasa!”

Raka mengambil foto yang jatuh di dekat kakinya.

Foto keluarga lama.

Ratih kecil.

Mira.

Suri.

Ayah dan ibu mereka.

Namun ada seseorang lagi.

Seorang anak laki-laki kecil berdiri di bagian paling pinggir.

Wajahnya dicoret sampai hampir tidak terlihat.

Raka membalik foto.

Ada daftar nama anggota keluarga.

Ayah.

Ibu.

Mira.

Suri.

Ratih.

Kemudian satu nama yang nyaris terhapus.

JUNAIDI ADELIA

Raka berhenti bernapas.

Dimas membaca dari bahunya.

“Junaidi?”

Keduanya saling memandang.

Raka langsung teringat seseorang.

Pak Junaidi.

Wali kelas VIII-B.

Guru yang selalu memegang daftar hadir.

Guru yang merobek bukti nomor 36.

Guru yang berada di sekolah saat setiap kejadian terjadi.

Raka menatap ibunya.

“Bu...”

Ratih sudah pucat.

“Pak Junaidi nama lengkapnya apa?”

Ibunya membuka mulut.

Namun sebelum menjawab, suara seseorang terdengar dari belakang mereka.

Tenang.

Sangat dikenal.

“Junaidi Adelia.”

Pak Junaidi berdiri di ambang pintu.

Tidak membawa buku pelajaran.

Tidak membawa daftar hadir.

Hanya sebuah foto lama.

Ia melihat Mira.

Lalu Ratih.

Kemudian Raka.

“Saya kira,” katanya pelan, “kalian tidak akan pernah menemukan foto itu.”

Mira mundur.

Untuk pertama kalinya sejak muncul...

wajahnya benar-benar ketakutan.

Pak Junaidi tersenyum tipis.

“Sudah lama sekali, Mira.”

Mira berbisik,

“Tidak mungkin.”

Pak Junaidi masuk dan menutup pintu.

“Kenapa?”

Ia menatap semua nama yang tertulis di dinding.

“Karena seharusnya aku yang pertama kali dilupakan?”

Raka menatap wali kelasnya.

Di buku biru, satu kalimat terakhir muncul.

KESALAHAN PERTAMA BUKANLAH MELUPAKAN SESEORANG.

Huruf berikutnya terbentuk perlahan.

KESALAHAN PERTAMA ADALAH MEMBIARKANNYA KEMBALI.

Raka mengangkat wajah.

Pak Junaidi masih tersenyum.

Kemudian guru itu berkata sesuatu yang membuat Ratih langsung menjatuhkan map dari tangannya.

“Nomor tiga puluh enam tidak pernah dimulai dari murid.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Dimulai dari saya.”

Bersambung…

---

Sen