KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG(5) Bagian 1

SERI 5

PEREMPUAN YANG TIDAK PERNAH PULANG

Pukul 06.43, Raka sudah berdiri di depan gerbang SMP Negeri Arunika dengan napas belum benar-benar teratur. Ia berangkat tanpa sarapan, tanpa menyisir rambut, dan—untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya—tanpa dimarahi ibunya karena tiga hal tersebut. Ibunya justru berdiri di depan pintu rumah saat Raka pergi, wajahnya pucat, lalu hanya berkata, “Kalau kamu melihat seseorang yang mengaku bernama Mira Adelia, jangan langsung percaya.” Kalimat itu terus berputar di kepala Raka sepanjang perjalanan. Masalahnya, menurut Raka, nasihat itu memiliki satu kelemahan besar: bagaimana mungkin ia harus bersikap normal kalau bertemu perempuan yang secara teori sudah hilang dari ingatan manusia hampir tiga puluh tahun lalu? Mengucapkan selamat pagi, Tante, apa kabar selama menghilang? jelas terasa kurang tepat.

Gerbang sekolah masih setengah terbuka. Pak Sabar belum berada di pos piket. Lapangan masih basah oleh embun. Beberapa petugas kebersihan sedang menyapu halaman dan tidak satu pun memperhatikan Raka saat ia masuk. Itu membuatnya sempat khawatir dirinya kembali tidak terlihat, sampai seorang petugas menyuruhnya mengangkat kaki karena daun kering menumpuk tepat di bawah sepatunya. Raka merasa lega. Di titik ini, dimarahi karena menghalangi orang menyapu sudah terasa seperti anugerah.

Ia memeriksa ponselnya.

Pesan terakhir Dimas masih ada.

Rak, cepat ke sekolah. Nara hilang.

Dimas mengirimkannya pukul 22.17 malam tadi.

Setelah itu tidak ada balasan lagi.

Raka menelepon.

Tidak diangkat.

Ia mencoba sekali lagi.

Tetap tidak.

“Bagus,” gumamnya. “Sekarang sahabatku ikut-ikutan jadi tokoh misterius.”

Raka menuju kelas VIII-B.

Lorong gedung masih sepi. Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela panjang, membuat bayangan kusen jatuh seperti garis-garis hitam di lantai. Semakin mendekati kelas, Raka merasa sesuatu tidak beres.

Pintunya terbuka.

Ia masuk.

Tiga puluh lima meja tersusun rapi.

Bukan tiga puluh enam.

Raka langsung menghitung ulang.

Enam di baris pertama.

Enam.

Enam.

Enam.

Enam.

Lima.

Tiga puluh lima.

Bangku paling belakang di pojok kanan telah hilang.

Bukan kosong.

Benar-benar tidak ada.

Seolah tidak pernah diletakkan di sana.

Raka berjalan ke tempat biasanya bangku nomor 36 berada. Lantai di bawahnya lebih bersih daripada bagian lain. Tidak ada bekas gesekan kaki meja. Tidak ada debu yang membentuk pola. Bahkan dinding di belakangnya terlihat mulus.

Ia membuka lemari kelas.

Tidak ada barang milik Nara.

Raka mencari meja dekat jendela yang biasa ditempati gadis itu. Di laci hanya ada buku matematika milik Livia.

Ia memeriksa papan struktur kelas.

Nama Nara tidak tercantum.

Papan jadwal piket juga berubah.

Nama yang biasanya berada di samping Nara kini bergeser.

Raka merasakan sesuatu yang sejak kemarin menjadi semakin familiar.

Dunia sedang memperbaiki dirinya sendiri.

Dan setiap kali dunia memperbaiki sesuatu...

seseorang dihapus.

---

“Ngapain kamu pagi-pagi sudah melototin papan piket?”

Raka hampir meloncat.

Dimas berdiri di pintu sambil menggigit roti.

“DIMAS!”

“Kenapa teriak?”

Raka langsung mendatanginya. “Kamu masih ingat Nara?”

Dimas mengunyah pelan.

“Nara siapa?”

Raka merasa seisi ruangan berhenti bergerak.

Namun beberapa detik kemudian Dimas menelan rotinya dan berkata, “Bercanda.”

Raka memukul lengannya.

“Aduh!”

“Jangan bercanda begitu!”

“Ya ampun, semenjak ada misteri kamu kehilangan selera humor.”

“Nyaris kehilangan nyawa juga.”

“Nah. Tapi belum, kan?”

Dimas masuk dan duduk di atas meja. Ia mengeluarkan ponsel.

“Aku masih ingat Nara.”

“Kenapa?”

“Tidak tahu.”

“Yang lain?”

“Tidak.”

Dimas memperlihatkan grup kelas.

Raka membaca percakapan semalam.

Dimas sempat bertanya:

Ada yang tahu rumah Nara?

Livia menjawab:

Nara siapa?

Farel:

Anak kelas mana?

Bahkan Pak Junaidi menulis:

Dimas, jangan mengirim pesan yang tidak berhubungan dengan kelas malam-malam.

Raka mengembalikan ponsel.

“Kamu kenapa bisa ingat?”

Dimas menatapnya serius.

“Aku juga masih ingat waktu semua orang lupa kamu.”

Raka membeku.

“Apa?”

“Sedikit.”

“Kemarin kamu enggak ingat.”

“Awalnya enggak.”

Dimas mengeluarkan sesuatu dari saku celana.

Sebuah kertas kecil yang sudah kusut.

Ia menyerahkannya kepada Raka.

Di sana ada tulisan tangan.

Raka Pradana adalah sahabatku. Kalau aku lupa dia, berarti ingatanku yang salah. Bukan tulisanku.

Raka menatap Dimas.

“Kamu nulis ini kapan?”

“Waktu istirahat kemarin.”

“Kok bisa?”

Dimas mengangkat bahu.

“Aku merasa ada yang salah. Jadi aku tulis saja.”

Raka tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, ia merasa ingin memeluk sahabatnya.

Namun ia mengurungkan niat tersebut karena Dimas kemungkinan besar akan menceritakannya kepada satu sekolah sebagai peristiwa bersejarah.

“Jadi tulisan bisa menyimpan ingatan,” kata Raka.

“Kayaknya.”

“Makanya Nara sempat mengingat Alya waktu menulis namanya.”

“Alya siapa?”

Raka langsung menatapnya.

Dimas tersenyum.

“Bercanda lagi.”

Raka mengangkat tangan seolah hendak memukul.

“Oke, oke.”

Dimas bergeser menjauh.

“Yang jadi masalah, aku tidak tahu di mana Nara.”

“Pesanmu bilang dia hilang. Kamu tahu dari mana?”

Dimas terdiam.

“Itu yang aneh.”

“Apa?”

“Aku enggak ingat mengirim pesan itu.”

Raka menatap ponselnya.

“Tapi ini dari nomormu.”

“Iya.”

“Berarti kamu kirim.”

“Secara teknologi, iya.”

“Secara apa lagi?”

“Secara ingatan, enggak.”

Raka menghela napas.

“Kadang bicara sama kamu membuat masalah terasa dua kali lebih rumit.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Oh.”

Dimas mengambil rotinya lagi.

“Terus kita mau apa?”

Raka melihat jam.

06.58.

Tulisan dalam buku biru tadi malam menyebut pukul 07.15.

Bangku nomor 36 akan terisi lagi.

“Cari bangku.”

Dimas berhenti mengunyah.

“Maaf?”

“Jam 07.15 sesuatu akan terjadi pada bangku nomor 36.”

Dimas melihat sekeliling.

“Bangkunya saja enggak ada.”

“Makanya kita cari.”

Dimas menatap Raka lama.

“Kehidupan kita sekarang sudah sampai tahap mencari bangku hilang?”

“Iya.”

“Aku rindu masa masalah terbesar kita cuma PR matematika.”

“Aku juga.”

Bersambung...

---

Sen