Kembang Api yang Tidak Dilihat Siapa-Siapa
Malam tahun baru selalu membuat kota terlihat seperti sedang berpura-pura bahagia.
Lampu menyala lebih banyak.
Suara musik terdengar dari berbagai arah.
Orang-orang berkumpul sambil menghitung mundur.
Sepuluh.
Sembilan.
Delapan.
---
Semua orang menunggu sesuatu berubah.
Padahal setelah angka satu disebut, dunia tetap sama.
Jalan masih penuh sampah.
Masalah masih menunggu pagi.
Dan manusia masih membawa dirinya sendiri ke tahun yang baru.
---
Namaku Niko.
Dan aku tidak pernah menyukai malam pergantian tahun.
---
Bukan karena benci keramaian.
Aku hanya merasa aneh melihat begitu banyak orang merayakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka mengerti.
---
Tahun berganti bukan berarti hidup otomatis menjadi lebih baik.
---
Tapi malam itu aku tetap keluar rumah.
Bukan untuk pesta.
Hanya untuk mengantar makanan ke rumah Bu Rani, tetangga lama yang tinggal sendirian.
---
Rumahnya berada di ujung gang.
Catnya mengelupas.
Halaman kecilnya dipenuhi daun kering dari pohon dadap tua.
---
Bu Rani selalu berkata:
“Jangan buru-buru membersihkan daun jatuh.”
---
Aku pernah bertanya kenapa.
---
“Karena daun jatuh juga pernah menjadi bagian dari pohon.”
---
Waktu itu aku menganggapnya kalimat orang tua yang suka membuat hal sederhana terdengar rumit.
---
Malam itu, saat aku datang, Bu Rani sedang duduk di teras.
Memandang langit.
---
“Tidak ikut lihat kembang api?”
tanyaku.
---
Ia tersenyum.
“Sudah terlalu banyak melihat yang meledak.”
---
Aku tertawa.
---
“Memangnya apa yang lebih menarik?”
---
Ia menunjuk pohon dadap di depan rumah.
---
“Melihat sesuatu yang tetap bertahan.”
---
Aku duduk di sampingnya.
---
Untuk beberapa saat kami hanya diam.
Aneh.
Dua manusia yang tidak punya hubungan darah bisa berbagi kesunyian tanpa merasa canggung.
---
Lalu Bu Rani berkata:
“Tahun ini kamu kehilangan seseorang, ya?”
---
Aku terdiam.
---
Adikku meninggal enam bulan sebelumnya.
Kecelakaan.
Cepat.
Mendadak.
---
Semua orang bilang aku harus ikhlas.
---
Kalimat yang mudah diucapkan oleh orang yang tidak membawa kehilangan itu setiap hari.
---
“Kadang aku merasa bersalah karena mulai menjalani hidup lagi,” kataku.
---
Bu Rani menatap pohon.
---
“Kenapa?”
---
“Karena kalau aku tertawa, rasanya seperti aku melupakan dia.”
---
Bu Rani mengambil satu daun dadap yang jatuh.
---
“Lihat ini.”
---
Aku melihatnya.
---
“Kalau daun ini jatuh, apakah pohonnya berhenti hidup?”
---
Aku menggeleng.
---
“Tidak.”
---
“Apakah pohon melupakan daun yang pernah tumbuh?”
---
Aku diam.
---
“Tidak juga.”
---
Angin malam bergerak pelan.
Membawa beberapa daun jatuh ke halaman.
---
“Manusia sering salah paham tentang kehilangan,” katanya.
---
“Kita pikir mencintai seseorang berarti harus terus terluka setelah mereka pergi.”
---
“Padahal mungkin cara terbaik menghargai mereka adalah melanjutkan hidup yang dulu juga mereka ingin kita jalani.”
---
Tepat tengah malam, suara kembang api terdengar.
---
Dari kejauhan, langit berubah warna.
Orang-orang bersorak.
---
Aku melihat Bu Rani.
Ia tidak melihat langit.
Ia melihat pohon.
---
“Kenapa tidak lihat kembang api?”
tanyaku.
---
Ia tersenyum.
---
“Karena yang paling indah tidak selalu yang paling ramai.”
---
Aku pulang beberapa menit kemudian.
---
Di depan rumah, aku berhenti.
Mengambil satu daun dadap yang jatuh.
---
Bukan untuk disimpan sebagai kenangan.
Tapi sebagai pengingat.
---
Bahwa sesuatu yang pergi tidak selalu benar-benar hilang.
Ada yang tinggal dalam kebiasaan.
Dalam cerita.
Dalam cara kita memandang dunia.
---
Tahun baru tetap datang.
Aku tetap masih rindu.
Masih kadang sedih.
Masih belajar menerima.
---
Tapi malam itu aku mengerti:
hidup bukan tentang mengganti halaman lama dengan yang baru.
---
Kadang kita hanya perlu melanjutkan membaca…
sambil tetap menyimpan halaman yang pernah berarti.
---
Sen
