Lelaki Tua yang Merawat Pohon Mati
ilustrasi
Orang-orang desa menganggap Pak Wira sudah kehilangan akal.
Alasannya sederhana:
setiap pagi ia menyiram pohon yang sudah mati.
---
Pohon itu berdiri di belakang rumahnya.
Batangnya besar.
Kulitnya menghitam.
Tidak ada daun.
Tidak ada bunga.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
---
“Untuk apa disiram terus?”
begitu kata tetangga.
---
Pak Wira hanya tersenyum.
“Karena dulu pohon ini pernah memberi teduh.”
---
Orang-orang menganggap jawabannya aneh.
Mereka tidak mengerti kenapa seseorang bisa begitu peduli pada sesuatu yang sudah tidak berguna.
---
Manusia memang sering mengukur nilai dari apa yang masih bisa diberikan.
Kalau tidak menghasilkan, mudah dianggap selesai.
---
Pak Wira tinggal sendirian sejak istrinya meninggal.
Anaknya bekerja di kota dan hanya pulang beberapa bulan sekali.
Rumahnya kecil.
Halaman luas.
Dan pohon tua itu satu-satunya teman yang tidak pernah bertanya kenapa ia masih bertahan.
---
Suatu musim kemarau panjang, desa mereka mengalami masalah.
Banyak tanaman mati.
Sumur mulai mengering.
---
Warga mulai membersihkan lahan.
Mereka menebang pohon-pohon tua yang dianggap tidak berguna.
---
Sampai suatu hari beberapa pemuda datang membawa kapak.
Mereka ingin menebang pohon milik Pak Wira.
---
“Pohon ini sudah mati, Pak. Buat apa dipertahankan?”
---
Pak Wira berdiri di depan pohon.
---
“Karena kalian hanya melihat bagian yang hilang.”
---
“Maksudnya?”
---
“Belum tentu sesuatu yang diam berarti tidak bekerja.”
---
Mereka tidak memahami.
Tetap saja mereka pergi sambil menganggap lelaki tua itu keras kepala.
---
Malam itu hujan turun.
Deras.
Sangat deras.
---
Pagi harinya, warga menemukan sesuatu yang tidak mereka duga.
---
Di sekitar pohon tua itu tumbuh tunas kecil.
---
Bukan satu.
Puluhan.
---
Ternyata akar pohon yang dianggap mati itu masih hidup jauh di dalam tanah.
---
Selama bertahun-tahun, pohon itu tidak tumbuh ke atas.
Ia memperkuat dirinya ke bawah.
---
Pak Wira hanya tersenyum melihatnya.
---
“Kadang sesuatu memang butuh waktu lama sebelum terlihat hasilnya.”
---
Kabar tentang pohon itu menyebar.
Tapi bukan itu yang membuat warga mulai menghargai Pak Wira.
---
Beberapa hari kemudian, seorang anak kecil bernama Rendi datang ke rumahnya.
---
“Pak, kenapa Bapak tahu pohon ini belum mati?”
---
Pak Wira duduk di kursi kayu.
---
“Karena saya pernah seperti pohon ini.”
---
Rendi bingung.
---
“Bagaimana?”
---
“Ketika ibumu meninggal, saya merasa hidup saya selesai.”
---
“Tidak punya semangat.”
---
“Tidak punya tujuan.”
---
“Tapi ternyata manusia juga seperti pohon.”
---
Ia melihat ke arah halaman.
---
“Ada masa ketika kita tidak terlihat tumbuh.”
---
“Tapi bukan berarti kita berhenti hidup.”
---
Rendi diam.
---
Sore itu, ia membantu Pak Wira menyiram pohon.
---
Beberapa bulan kemudian, pohon tua itu mulai memiliki daun baru.
---
Tidak banyak.
Tidak langsung indah.
---
Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang pernah dianggap selesai ternyata masih punya cerita.
---
Bertahun-tahun setelahnya, warga desa menyebut pohon itu sebagai pohon penjaga.
Bukan karena besar.
Bukan karena menghasilkan buah.
---
Tapi karena mengingatkan mereka:
bahwa tidak semua yang rapuh harus dibuang.
Tidak semua yang terlambat berarti gagal.
Dan tidak semua kehidupan yang sunyi benar-benar kehilangan harapan.
---
Sen
