Lubang yang Memanggil Nama

ilustrasi

Di belakang rumah nenek ada sumur tua yang selalu ditutup papan kayu.

Tidak pernah dipakai.

Tidak pernah dibersihkan.

Dan tidak boleh didekati.

---

“Jangan lihat ke dalam terlalu lama,” kata nenek waktu aku kecil.

---

Aku pikir itu cuma cara orang tua menakut-nakuti anak.

Manusia dewasa suka sekali menciptakan mitos karena malas menjelaskan trauma sebenarnya.

---

Setelah nenek meninggal, rumah itu kosong bertahun-tahun.

Sampai akhirnya aku kembali untuk menjualnya.

---

Rumahnya lebih kecil dari ingatanku.

Dindingnya lembap.

Udara di dalamnya bau kayu tua dan hujan.

---

Tapi sumur itu masih ada.

---

Papan penutupnya lapuk sekarang.

Salah satu sisinya retak.

---

Dan entah kenapa…

aku terus memikirkannya.

---

Malam pertama, aku mendengar suara dari belakang rumah.

---

Tok.

Tok.

Tok.

---

Pelan.

Teratur.

---

Seperti seseorang mengetuk kayu dari bawah tanah.

---

Aku mencoba mengabaikannya.

Tidak berhasil.

---

Malam kedua, suara itu datang lagi.

Kali ini disertai bisikan.

---

Namaku.

---

Pelan sekali.

Nyaris seperti angin.

---

Aku keluar membawa senter.

Halaman belakang basah sehabis hujan.

Rumput tinggi menyentuh kakiku.

---

Suara itu berhenti saat aku mendekat.

---

Aku berdiri di depan sumur.

Menatap papan kayu penutupnya.

Dan tiba-tiba merasa…

ada seseorang di bawah sana.

Menungguku.

---

Besok paginya aku bertanya pada tetangga sebelah.

---

“Dulu ada apa dengan sumur itu?”

---

Perempuan tua itu langsung pucat.

---

“Ibumu tidak pernah cerita?”

---

Aku menggeleng.

---

Ia tampak ragu sebelum akhirnya berkata pelan:

---

“Waktu kecil… kamu pernah jatuh ke situ.”

---

Tubuhku langsung dingin.

---

“Itu mustahil.”

---

“Tiga hari kamu hilang.”

---

Aku tertawa gugup.

Karena otak manusia lebih suka menyangkal daripada menerima ada bagian hidupnya yang hilang.

---

“Tapi aku selamat.”

---

Perempuan itu tidak menjawab.

Dan justru itu yang paling menakutkan.

---

Malamnya aku tidak bisa tidur.

Aku mulai mencoba mengingat.

---

Dan perlahan…

potongan-potongan aneh muncul.

---

Gelap.

Air dingin.

Suara seseorang menangis.

---

Dan seorang anak kecil di dasar sumur.

---

Aku.

---

Tidak.

Bukan.

---

Seseorang yang mirip aku.

---

Aku terbangun dengan napas kacau.

Jam menunjukkan pukul 02.13.

---

Lalu suara itu datang lagi.

Lebih jelas sekarang.

---

“Turun.”

---

Aku berjalan ke belakang rumah seperti orang tidur.

Tanpa sadar.

Tanpa berpikir.

---

Papan kayu itu sudah terbuka.

Padahal aku yakin tadi sore masih tertutup.

---

Aku menyorotkan senter ke dalam sumur.

Gelap.

Dalam.

---

Lalu aku melihat wajah.

---

Wajahku sendiri.

---

Pucat.

Basah.

Tersenyum.

---

Aku mundur jatuh.

Senter terlepas.

---

Dan suara itu tertawa.

---

Bukan dari dalam sumur.

---

Dari dalam kepalaku.

---

Keesokan paginya aku menemukan buku harian nenek di lemari.

Halaman terakhirnya membuat tanganku gemetar.

---

> Anak itu memang kembali dari sumur.

>Tapi saya tidak yakin yang pulang benar-benar cucu saya.

---

Aku berhenti membaca.

Tidak sanggup lanjut.

---

Sepanjang hari aku mulai memperhatikan hal-hal aneh.

---

Aku tidak ingat beberapa bagian masa kecilku.

Aku tidak punya foto sebelum umur tujuh tahun.

Dan setiap kali bercermin terlalu lama…

aku merasa wajahku sedikit terlambat mengikuti gerakan tubuhku.

---

Malam terakhir sebelum meninggalkan rumah itu, suara dari sumur terdengar sangat jelas.

---

“Kenapa kamu pergi lagi?”

---

Aku menutup telinga.

---

“Ini rumahmu.”

---

Aku menangis saat itu.

Entah karena takut…

atau karena sebagian diriku mulai percaya.

---

Paginya, tetangga menemukan rumah itu kosong.

Pintu belakang terbuka.

Papan sumur tergeletak di tanah.

---

Dan di dasar sumur…

---

ada suara seseorang bernapas pelan dalam gelap.

---

Sen