Mengurai Mitos 32 Kali Mengunyah: Antara Aturan Kaku dan Esensi Kesehatan Pencernaan yang Sebenarnya

Ilustrasi makan.(Dok. Freepik/Freepik)

TITIKWARTA.COM - Selama beberapa dekade, sebuah doktrin kesehatan klasik telah tertanam kuat di benak masyarakat: kita diwajibkan mengunyah makanan sebanyak 32 kali sebelum menelannya agar sistem pencernaan dapat bekerja optimal. Aturan angka ini seolah menjadi hukum tidak tertulis yang diamalkan demi menghindari perut kembung atau obesitas. Namun, sebuah ulasan medis komparatif yang dipublikasikan pada Senin, 6 Juli 2026, mencoba menelisik kembali apakah angka 32 tersebut benar-benar sebuah keharusan biologis atau sekadar mitos turun-temurun yang terlanjur dianggap sebagai kebenaran absolut.

 

Bila dirunut ke belakang, angka "32 kali mengunyah" sebenarnya berakar dari teori kuno abad ke-19 yang dipopulerkan oleh Horace Fletcher, seorang penasihat kesehatan asal Amerika Serikat yang dijuluki "The Great Masticator". Fletcher berargumen bahwa setiap partikel makanan harus dikunyah hingga mencair sepenuhnya agar nutrisi terserap sempurna. Kendati demikian, ilmu pengetahuan modern pada pertengahan tahun 2026 ini menunjukkan bahwa tubuh manusia jauh lebih adaptif dan tidak kaku dalam memproses makanan berdasarkan kalkulasi matematis semata.

 

Secara anatomis dan fisiologis, proses pencernaan memang mutlak dimulai dari mulut melalui pemecahan mekanis oleh gigi dan bantuan enzim amilase dari air liur. Proses mengunyah yang cukup bertugas mengubah makanan menjadi tekstur bolus (gumpalan lunak) yang aman dan mudah melewati kerongkongan. Struktur organ pencernaan berikutnya, seperti lambung yang memproduksi asam pekat dan usus halus, sudah dirancang sedemikian rupa untuk melanjutkan pemecahan zat makanan secara kimiawi, terlepas dari berapa kali gigi kita bergerak di awal.

 

Faktanya, jenis makanan yang dikonsumsi memegang peranan yang jauh lebih krusial dibandingkan sekadar menghitung jumlah kunyahan di dalam mulut. Semangkuk bubur ayam, pisang matang, atau sup hangat tentu membutuhkan waktu dan frekuensi mengunyah yang jauh lebih sedikit untuk menjadi halus dibandingkan sepotong daging steik yang berserat tebal atau kacang-kacangan yang keras. Memaksakan diri menghitung hingga 32 kali pada makanan yang sudah melembut sejak kunyahan ke-10 justru dinilai tidak efisien secara fungsional.

 

Dampak buruk dari terlalu terpaku pada angka kunyahan ini juga bisa bergeser ke ranah psikologis. Seseorang yang terobsesi menghitung setiap gerakan rahangnya saat bersantap rentan kehilangan kenikmatan dari makanan itu sendiri. Alih-alih mendapatkan pencernaan yang tenang, proses makan yang kaku tersebut berpotensi memicu kecemasan dan stres ringan, yang ironisnya merupakan salah satu pemicu utama gangguan lambung seperti asam lambung naik (acid reflux).

 

Seorang dokter spesialis gastroenterologi terkemuka di Jakarta memberikan pandangan klinisnya mengenai aturan makan yang ideal bagi masyarakat modern saat ini. Ia menekankan bahwa fokus utama harus dialihkan dari kuantitas hitungan ke kualitas kesadaran saat makan. "Aturan mengunyah 32 kali itu tidak memiliki dasar ilmiah yang kaku di dunia kedokteran modern. Yang terpenting bukanlah angka matematisnya, melainkan memastikan makanan sudah cukup hancur dan kita makan dengan perlahan tanpa terburu-buru. Makan secara sadar jauh lebih efektif menjaga lambung daripada sibuk berhitung," jelas Dr. Tirta Kusuma, Sp.PD-KGEH, saat mengurai mitos tersebut.

 

Para ahli kesehatan di bulan Juli 2026 ini lebih menyarankan masyarakat untuk menerapkan konsep mindful eating (makan dengan kesadaran penuh). Memperhatikan tekstur makanan secara alami akan memberi tahu otak kapan makanan tersebut sudah siap untuk ditelan dengan aman. Selain itu, makan secara perlahan juga memberikan waktu sekitar 20 menit bagi hormon leptin di otak untuk mengirimkan sinyal kenyang, sehingga secara otomatis mencegah kita mengonsumsi makanan secara berlebihan (overeating).

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa angka 32 bukanlah sebuah keharusan mutlak yang harus dipatuhi secara kaku pada setiap jenis hidangan. Menjaga kelancaran pencernaan tidak diukur dari kalkulator di dalam mulut, melainkan dari kebijaksanaan kita dalam menikmati makanan secara perlahan, memilih asupan kaya serat, serta mendengarkan sinyal alami yang dikirimkan oleh tubuh kita sendiri.(yal/tw)