Rumah yang Belajar Melepaskan Pantai
Orang-orang di kampung kami selalu tahu kapan laut sedang marah.
Bukan dari ombak.
Bukan dari angin.
Tapi dari suara malam.
---
Kalau biasanya laut terdengar seperti seseorang yang sedang bernapas panjang, malam itu suaranya berbeda.
Lebih dekat.
Lebih berat.
Seolah ada sesuatu yang terus mengetuk pintu.
---
Namaku Arman.
Seumur hidup aku tinggal di rumah kayu dekat pantai.
Rumah itu bukan rumah besar.
Hanya bangunan sederhana dengan cat biru yang sudah pudar.
---
Tapi di situlah aku lahir.
Di sana ibu menyanyikan lagu sebelum tidur.
Di sana ayah memperbaiki jaring ikan.
Di sana aku belajar bahwa kehilangan bisa datang bahkan sebelum kita siap.
---
Ayah meninggal saat aku berusia lima belas tahun.
Diterjang badai saat melaut.
---
Sejak itu aku membenci laut.
Lucu.
Manusia sering marah pada sesuatu yang sebenarnya tidak punya niat menyakiti.
Laut tidak mengenal dendam.
Laut hanya bergerak.
---
Bertahun-tahun kemudian aku menjadi nelayan seperti ayah.
Bukan karena berani.
Karena hidup sering memaksa seseorang kembali ke tempat yang pernah melukainya.
---
Suatu pagi, aku menemukan tiang pagar rumah sudah miring.
---
Tetangga berkata:
“Tanah di belakang rumahmu mulai hilang.”
---
Aku melihat ke arah pantai.
Benar.
Garis pasir semakin mendekat.
---
Laut mengambil sedikit demi sedikit.
Tidak sekaligus.
Tidak dengan suara keras.
---
Hari pertama mengambil halaman.
Hari berikutnya mengambil pohon mangga.
Lalu gudang kecil tempat ayah menyimpan peralatan.
---
Kehilangan yang datang perlahan kadang lebih menyakitkan.
Karena kita punya waktu untuk melihat sesuatu pergi.
---
Pemerintah desa meminta kami pindah.
Mereka bilang daerah itu tidak aman.
---
Aku menolak.
---
“Ini rumah saya.”
---
Tetangga hanya diam.
Mungkin mereka paham.
Kadang manusia tidak mempertahankan bangunan.
Mereka mempertahankan kenangan yang menempel di dalamnya.
---
Suatu malam, anak perempuanku bertanya:
“Ayah kenapa tidak mau pindah?”
---
Aku tidak langsung menjawab.
---
Karena bagaimana menjelaskan kepada anak kecil bahwa ada tempat yang terasa seperti bagian dari tubuh kita sendiri?
---
“Ayah takut lupa.”
---
Dia melihatku bingung.
---
“Lupa apa?”
---
Aku menatap dinding rumah.
---
“Lupa seperti apa suara kakekmu.”
---
Anakku menggenggam tanganku.
---
“Kalau begitu, ceritakan.”
---
Dan untuk pertama kali aku sadar:
mungkin selama ini aku salah.
---
Aku pikir menjaga rumah berarti menjaga masa lalu.
Padahal yang harus dijaga adalah cerita.
---
Beberapa minggu kemudian, kami pindah.
---
Hari terakhir aku berdiri di depan rumah.
Air laut sudah menyentuh tangga depan.
---
Aku membuka pintu.
Melihat ruangan kosong.
---
Dulu aku takut rumah ini hilang.
---
Sekarang aku sadar:
rumah bukan hanya kayu, dinding, dan atap.
---
Rumah adalah orang-orang yang pernah membuat tempat itu berarti.
---
Sebelum pergi, aku mengambil satu papan kecil dari dinding.
Papan tempat ayah dulu menulis tinggi badanku setiap ulang tahun.
---
Aku membawanya.
---
Bukan untuk menyelamatkan rumah.
---
Tapi untuk membawa sebagian kecil rumah bersamaku.
---
Setahun kemudian, bekas rumah kami sudah tidak ada.
Laut akhirnya mengambil semuanya.
---
Tetapi setiap kali anakku bertanya tentang kakeknya, aku membuka papan tua itu.
Aku bercerita.
---
Tentang lelaki yang suka bernyanyi saat memperbaiki jaring.
Tentang rumah biru dekat pantai.
Tentang hari-hari ketika laut belum mengambil apa pun.
---
Dan aku mengerti:
Ada hal-hal yang memang harus kita lepaskan.
Bukan karena tidak berharga.
---
Sen
Justru karena terlalu berharga untuk dikenang hanya lewat sebuah bangunan.
