Orang yang Menitipkan Doa pada Rumput
Setiap pagi sebelum matahari benar-benar muncul, Malik sudah berada di padang.
Ia tidak membawa banyak hal.
Hanya tongkat kayu tua.
Bekal nasi sederhana.
Dan suara pelan yang selalu ia gunakan untuk memanggil kambing-kambingnya.
---
Orang-orang desa menganggap hidup Malik mudah.
“Kerjanya cuma menjaga ternak.”
Begitu kata mereka.
---
Manusia memang sering menilai hidup orang lain dari apa yang terlihat.
Mereka melihat seseorang duduk di bawah pohon.
Tidak melihat berapa banyak pikiran yang ikut duduk bersamanya.
---
Malik sudah menggembala sejak ayahnya meninggal.
Dulu ia punya mimpi.
Ingin menjadi guru.
Ingin mengajar anak-anak desa membaca.
---
Tapi setelah ayahnya pergi, ibunya sakit.
Adiknya masih kecil.
Dan mimpi sering menjadi barang pertama yang dijual ketika kebutuhan datang.
---
Setiap sore Malik membawa ternak pulang melewati bukit kecil.
Di sana ada sebuah pohon tua.
Ia selalu berhenti.
---
Bukan karena lelah.
Tapi karena di tempat itu angin bertiup berbeda.
---
Ayahnya dulu pernah berkata:
“Kalau kamu bingung dengan hidup, dengarkan alam. Alam tidak memberi jawaban, tapi sering membuat hati cukup tenang untuk menemukan jawabannya sendiri.”
---
Waktu kecil Malik menganggap itu kalimat orang tua yang aneh.
Sekarang ia mengerti.
---
Suatu hari datang seorang anak laki-laki ke padang.
Namanya Rafi.
Anak kota yang sedang tinggal sementara di rumah pamannya.
---
“Kak Malik, kenapa kakak suka duduk di sini?”
---
Malik tersenyum.
“Menunggu angin.”
---
Rafi tertawa.
“Angin kan tidak bisa diajak bicara.”
---
Malik melihat rumput yang bergerak pelan.
---
“Tidak semua yang berbicara harus memakai suara.”
---
Sejak hari itu Rafi sering datang.
Ia bertanya banyak hal.
Tentang gunung.
Tentang hewan.
Tentang hidup.
---
Dan anehnya, Malik yang dianggap tidak banyak tahu justru sering memberi jawaban yang membuat anak itu berpikir.
---
Suatu sore Rafi bertanya:
“Kak, kalau punya kesempatan mengulang hidup, kakak mau mengubah apa?”
---
Malik diam lama.
---
Pertanyaan sederhana.
Tapi manusia memang sering dibuat diam oleh pertanyaan yang menyentuh bagian paling tersembunyi.
---
“Aku ingin tidak kehilangan kesempatan sekolah.”
---
Rafi menatapnya.
---
“Berarti kakak menyesal?”
---
Malik melihat padang luas di depannya.
---
“Dulu iya.”
---
“Sekarang?”
---
Angin bergerak melewati rumput.
---
“Sekarang aku tidak tahu apakah jalan yang tidak kupilih benar-benar lebih baik.”
---
Rafi diam.
---
Malik melanjutkan.
---
“Mungkin kalau aku jadi guru, aku mengajar puluhan anak.”
---
“Iya.”
---
“Tapi karena aku menjadi gembala, aku belajar menjaga sesuatu yang bergantung padaku.”
---
Ia melihat kambing-kambingnya.
---
“Kadang hidup tidak memberi kita apa yang kita minta.”
---
“Tapi memberi kita tempat untuk belajar sesuatu yang tidak kita sangka.”
---
Beberapa bulan kemudian, hujan besar datang.
Banjir merusak sebagian desa.
Banyak ternak warga hilang.
---
Malam itu Malik mencari kambing-kambingnya sampai jauh ke bukit.
---
Ia menemukan satu anak kambing terjebak di jurang kecil.
Tanpa berpikir panjang ia turun.
---
Paginya seluruh desa tahu.
---
Orang-orang yang dulu menganggap pekerjaannya sederhana mulai melihat berbeda.
---
Ternyata menjaga sesuatu juga bentuk keberanian.
---
Beberapa tahun berlalu.
Rafi kembali ke desa.
Kini ia sudah dewasa.
---
Ia menemukan Malik masih di tempat yang sama.
Di bawah pohon tua.
Dengan tongkat kayu yang sama.
---
“Kak Malik.”
---
Malik menoleh.
---
“Kamu jadi apa sekarang?”
---
Rafi tersenyum.
---
“Guru.”
---
Malik tertawa kecil.
---
“Bagus.”
---
Rafi duduk di sampingnya.
---
“Dulu kakak bilang ingin jadi guru.”
---
Malik mengangguk.
---
“Iya.”
---
“Tidak sedih?”
---
Malik melihat padang.
---
“Dulu aku kira mimpi yang tidak tercapai berarti hilang.”
---
“Sekarang?”
---
“Sekarang aku tahu.”
---
Ia mengambil segenggam rumput kecil.
---
“Ada benih yang tumbuh menjadi pohon.”
---
“Ada yang tumbuh menjadi bunga.”
---
“Dan ada yang tumbuh menjadi rumput yang menjaga tanah tetap hidup.”
---
Angin sore bergerak perlahan.
---
Rafi tersenyum.
---
Karena akhirnya ia mengerti:
Tidak semua manusia dilahirkan untuk mencapai tempat yang mereka bayangkan.
Sebagian dilahirkan untuk menjaga jalan…
agar orang lain bisa sampai lebih jauh.
---
Sen
