Perempuan di Rumah Belakang
ilustrasi
Tidak ada yang memanggilku dengan namaku di rumah itu.
Aku hanya disebut “dia.”
Kadang “perempuan itu.”
Kadang lebih buruk.
---
Rumah tempatku tinggal sebenarnya bukan rumah.
Lebih seperti sisa.
Bangunan kecil di belakang rumah utama, dipisahkan taman dan kolam ikan agar keberadaanku tidak terlalu terlihat.
---
Tuan besar memberikannya padaku setelah tahun kedua.
Katanya agar aku “lebih nyaman.”
Manusia kaya memang suka membungkus rasa bersalah dengan fasilitas.
---
Ia datang dua atau tiga malam seminggu.
Kadang membawa buah.
Kadang perhiasan.
Kadang hanya tubuh lelah dan bau rokok mahal.
---
“Aku sayang kamu,” katanya suatu malam.
Aku hampir tertawa.
---
Laki-laki menikah selalu paling pandai mengatakan cinta kepada perempuan yang tidak bisa mereka tampilkan di depan umum.
---
Aku dulu bekerja di toko kain saat bertemu dengannya.
Masih muda.
Masih cukup bodoh untuk mengira perhatian laki-laki dewasa berarti ketulusan.
---
Ia bilang istrinya dingin.
Pernikahannya kosong.
Ia kesepian.
Kalimat-kalimat tua yang terus diwariskan dari satu laki-laki pengecut ke laki-laki pengecut berikutnya.
---
Tapi waktu itu aku percaya.
Karena percaya sering kali lebih mudah daripada menerima kenyataan bahwa kita sedang dipakai.
---
Tahun demi tahun berlalu.
Dan aku tetap tinggal di rumah belakang.
---
Tidak pernah dikenalkan ke siapa pun.
Tidak pernah diajak keluar siang hari.
Tidak pernah difoto.
---
Seolah aku bukan manusia.
Hanya rahasia yang diberi makan.
---
Lalu anak itu lahir.
---
Anakku.
---
Ia laki-laki kecil dengan mata yang mirip ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai takut.
---
Karena aku sadar sesuatu:
aku mungkin bisa hidup sebagai bayangan.
Tapi anakku?
---
Anak-anak tidak seharusnya tumbuh sebagai sesuatu yang disembunyikan.
---
“Aku mau dia sekolah bagus,” kataku suatu malam.
---
Tuan besar diam.
Terlalu lama.
---
“Nanti kupikirkan.”
---
Jawaban orang kaya untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
---
Hari-hari berikutnya ia makin jarang datang.
Pesan-pesannya pendek.
Dingin.
---
Lalu suatu sore, seorang perempuan datang ke rumah belakang.
---
Istrinya.
---
Ia berdiri di depan pintu dengan pakaian rapi dan wajah tenang.
Justru ketenangannya yang menakutkan.
---
“Aku cuma ingin melihat perempuan yang dibeli suamiku terlalu lama,” katanya.
---
Aku tidak menjawab.
Anakku tidur di kamar.
Aku hanya memikirkan itu.
---
Perempuan itu melihat sekeliling rumah kecilku.
Lalu tersenyum tipis.
---
“Kamu tahu bagian paling lucu?” katanya pelan.
“Dia juga bilang mencintaiku dulu.”
---
Kalimat itu menghantam lebih keras dari makian apa pun.
---
Sebelum pergi, ia berhenti di depan pintu.
---
“Kamu tidak perlu takut aku akan merebutnya kembali.”
---
Ia menoleh sedikit.
---
“Laki-laki seperti dia tidak pernah benar-benar dimiliki siapa-siapa.”
---
Setelah malam itu, tuan besar tidak datang lagi.
---
Tidak ada kabar.
Tidak ada uang.
Tidak ada penjelasan.
---
Rumah utama kosong beberapa minggu kemudian.
Katanya mereka pindah ke luar kota.
---
Dan aku akhirnya mengerti sesuatu yang seharusnya kusadari sejak awal:
---
Aku bukan cinta.
---
Aku hanya tempat persinggahan sementara…
bagi seseorang yang takut menghadapi hidupnya sendiri.
---
Bulan berikutnya, pemilik tanah datang mengusirku.
Rumah itu ternyata bukan atas namaku.
Tentu saja bukan.
---
Aku menggendong anakku keluar sambil membawa satu koper kecil.
Hujan turun deras.
---
Anakku terbangun dan bertanya lirih:
---
“Kita mau pulang ke mana?”
---
Aku hampir menjawab.
Tapi lalu sadar…
---
selama ini aku memang tidak pernah punya rumah.
---
Sen
