Perempuan yang Menjaga Anak Itu

Rumah keluarga Santoso selalu wangi melati setiap pagi.

Bukan karena taman mereka indah.

Tapi karena Bu Ratih percaya rumah kaya harus punya aroma tertentu. Katanya supaya tamu merasa tenang.

Manusia berada memang suka membeli suasana hati.

---

Nina pertama kali datang ke rumah itu saat usianya dua puluh satu.

Ia bukan lulusan apa-apa.

Tidak pintar berdandan.

Tidak banyak bicara.

Ia hanya perempuan dari kota kecil yang terlalu sering kalah oleh keadaan.

---

Pekerjaannya sederhana:

mengurus Mika.

Anak perempuan umur empat tahun yang susah makan, takut gelap, dan hanya mau tidur kalau ada yang mengusap punggungnya pelan.

---

“Nanti lama-lama juga betah,” kata agen penyalur dulu.

Kalimat khas orang yang tidak ikut tinggal di rumah orang lain.

---

Hari-hari Nina berjalan monoton.

Bangun subuh.

Membuat susu.

Mencuci botol.

Mengantar les.

Menidurkan Mika.

Mengulang semuanya lagi.

---

Tapi justru Mika yang membuatnya bertahan.

Anak itu cerewet.

Manja.

Suka bertanya hal-hal aneh.

---

“Kak Nina, kalau ikan tidur matanya kenapa nggak merem?”

---

Kadang Nina merasa anak kecil memang satu-satunya manusia yang masih jujur memakai rasa ingin tahunya.

Orang dewasa terlalu sibuk pura-pura kuat.

---

Tuan rumah jarang terlihat.

Pak Surya lebih sering di luar kota.

Kalau pulang pun hanya sebentar.

Sementara Bu Ratih sibuk dengan arisan, salon, dan acara sosial yang membuat orang kaya merasa dirinya berguna.

---

Rumah besar itu penuh barang mahal tapi terasa dingin.

Dan Mika tumbuh di tengah dingin itu.

---

Suatu malam Mika demam tinggi.

Bu Ratih sedang di Bali.

Pak Surya tidak bisa dihubungi.

Nina sendirian membawa Mika ke IGD sambil naik ojek online tengah malam.

Bajunya basah kena muntah anak itu.

Tangannya gemetar karena takut.

---

Tapi saat dokter bilang Mika baik-baik saja…

Nina menangis diam-diam di toilet rumah sakit.

---

Besok paginya Pak Surya datang.

Masih memakai kemeja kerja.

Wajahnya lelah.

---

“Terima kasih sudah jaga Mika.”

---

Hanya itu.

Tapi entah kenapa kalimat sederhana itu terasa terlalu hangat bagi seseorang yang jarang dianggap penting.

Dan di situlah masalah mulai tumbuh.

Manusia kesepian gampang salah mengartikan perhatian.

---

Setelah malam itu, hubungan mereka berubah pelan-pelan.

Tidak langsung dramatis.

Tidak seperti film murahan.

Lebih buruk.

Lebih realistis.

---

Pak Surya mulai sering pulang.

Membawakan makanan untuk Nina.

Kadang membantu menidurkan Mika.

Kadang duduk lama di dapur hanya untuk bercerita soal pekerjaannya.

---

“Aku capek pulang ke rumah tapi rasanya nggak ada orang,” katanya suatu malam.

---

Nina tahu itu salah.

Sangat tahu.

Tapi hidup tidak selalu menghukum orang di awal.

Kadang justru dibuat nyaman dulu supaya jatuhnya lebih dalam.

---

Mika mulai memanggil mereka seperti keluarga kecil.

---

“Kalau Kak Nina pergi, aku ikut.”

---

Anak kecil memang paling cepat membaca kasih sayang palsu maupun asli.

Masalahnya, mereka tidak tahu bedanya.

---

Hubungan itu akhirnya terbongkar bukan karena pesan, bukan karena foto.

Tapi karena Mika.

---

Saat acara ulang tahun keluarga besar, anak itu berkata polos di depan semua orang:

---

“Ayah paling senang sama Kak Nina sekarang.”

---

Ruangan langsung sunyi.

Manusia dewasa selalu kalah telak oleh kejujuran anak kecil.

---

Bu Ratih tidak berteriak malam itu.

Justru terlalu tenang.

Itu lebih menyeramkan.

---

Besok paginya Nina diminta pergi.

Tidak diberi kesempatan menjelaskan.

Tidak dimaki.

Tidak ditampar.

Hanya diberi amplop uang dan tatapan jijik yang sangat dingin.

---

“Orang seperti kamu memang tahu caranya masuk pelan-pelan,” kata Bu Ratih.

---

Nina ingin membela diri.

Mengatakan ia tidak pernah merencanakan apa pun.

Bahwa semuanya terjadi begitu saja.

Tapi bahkan ia sendiri tahu itu tidak sepenuhnya benar.

---

Pak Surya tidak muncul saat ia pergi.

Tentu saja.

Laki-laki sering menjadi pihak paling sunyi setelah kekacauan selesai dibuat.

---

Mika menangis histeris waktu Nina keluar membawa koper kecil.

Anak itu berlari tanpa sandal sampai gerbang.

---

“Kak Nina jangan pergi!”

---

Tangisnya pecah.

Tetangga keluar melihat.

Satpam pura-pura sibuk.

Dan Nina berdiri di sana sambil merasa dirinya manusia paling hina di dunia.

---

Tiga bulan kemudian, Nina bekerja di warung makan dekat terminal.

Hidup kembali kecil.

Kembali biasa.

---

Suatu sore hujan deras turun.

Seorang perempuan datang membawa payung hitam.

Bu Ratih.

---

Nina langsung berdiri kaku.

---

“Saya cuma sebentar,” katanya datar.

---

Ia duduk tanpa memesan makanan.

Tatapannya lelah.

Lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu.

---

“Mika sakit.”

---

Jantung Nina langsung turun.

---

“Dia nggak mau bicara sama siapa-siapa.”

---

Sunyi beberapa saat.

Suara hujan memukul seng warung.

---

Lalu Bu Ratih berkata pelan:

---

“Dia pikir semua orang bakal pergi kalau dia sayang terlalu banyak.”

---

Kalimat itu menghantam Nina lebih keras daripada makian.

---

Untuk pertama kali, Nina sadar…

yang paling rusak dari semua ini bukan dirinya.

Bukan Bu Ratih.

Bukan bahkan Pak Surya.

---

Tapi seorang anak kecil…

yang terlalu dini belajar bahwa kasih sayang orang dewasa selalu punya syarat dan pengkhianatan di belakangnya.

---

Sen