Vampir Energi di Rumah: Belasan Perangkat Elektronik Tetap Sedot Listrik Meski Kondisi Mati

Ilustrasi alat elektronik yang tetap sedot listrik meski sudah dimatikan.(Dok.Shutterstock)

TITIKWARTA.COM - Mematikan perangkat elektronik dengan menekan tombol power atau mode standby kerap dianggap cukup untuk menghentikan konsumsi daya listrik. Namun, kebiasaan ini rupanya menyimpan celah kebocoran energi yang tanpa disadari terus mendongkrak tagihan listrik bulanan rumah tangga.

 

Fenomena yang dikenal di dunia teknis sebagai vampire draw atau phantom load ini merujuk pada daya listrik yang tetap tersedot oleh belasan jenis peralatan elektronik meskipun posisinya sedang dalam kondisi off. Selama kabel steker masih terhubung ke stopkontak, arus listrik akan terus mengalir secara pasif.

 

Perangkat yang paling sering menjadi "vampir energi" di hunian modern antara lain televisi pintar (smart TV), dekoder TV kabel (set-top box), mesin cuci digital, hingga konsol gim. Komponen internal seperti layar indikator LED, jam digital, hingga modul penerima sinyal remote control membutuhkan pasokan listrik konstan agar siap menyala seketika.

 

Tak hanya perangkat besar, pengisi daya (charger) ponsel cerdas dan laptop yang dibiarkan menancap di stopkontak tanpa terhubung ke perangkat juga tetap menyerap energi. Masing-masing alat mungkin hanya menyedot beberapa watt per jam, tetapi akumulasi dari belasan perangkat yang tercolok 24 jam nonstop menyumbang angka yang cukup signifikan.

 

Pakar teknisi kelistrikan dan efisiensi energi, Ir. Budi Santoso, M.T., menjelaskan bahwa daya siaga ini dirancang demi kemudahan pengguna, namun membawa konsekuensi pemborosan energi yang tidak sedikit jika diabaikan begitu saja.

 

"Masyarakat sering mengira tombol off pada alat elektronik modern benar-benar memutuskan arus. Padahal, sebagian besar perangkat elektronik saat ini tetap berada dalam mode standby agar fitur-fitur pintar dan konektivitasnya tetap aktif. Jika diakumulasikan dalam satu rumah selama setahun, pemborosan dayanya bisa mencapai 5 hingga 10 persen dari total tagihan listrik," ungkap Ir. Budi Santoso dalam wawancara hari ini.

 

Selain berdampak pada membengkaknya biaya bulanan, kebiasaan membiarkan kabel terus terhubung ke arus listrik juga memperpendek umur pakai komponen perangkat elektronik. Risiko bahaya korsleting arus pendek juga tetap mengintai, terutama saat terjadi lonjakan voltase mendadak dari jaringan listrik utama.

 

Guna menghentikan kebocoran daya siaga tersebut, masyarakat dianjurkan untuk membiasakan diri mencabut steker dari stopkontak atau menggunakan terminal listrik (stopkontak ekstensi) yang dilengkapi sakelar pemutus mandiri. Ir. Budi Santoso menyarankan agar pengelolaan energi dilakukan secara disiplin harian. "Langkah paling praktis adalah menggunakan power strip bersakelar. Cukup dengan mematikan satu sakelar utama sebelum tidur atau pergi bekerja, kita bisa langsung menghentikan aliran listrik ke belasan perangkat sekaligus," tutupnya.(yal/tw)