Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (1)

EPISODE 1

ALARM PERTAMA HANYALAH FORMALITAS

Arga memasang alarm pukul 05.30 bukan karena ia berniat bangun pukul 05.30. Itu terlalu naif.

Alarm pertama hanyalah pemberitahuan resmi dari tubuh kepada jiwa bahwa pagi telah tiba. Mirip surat edaran kantor: diterima, dibaca sekilas, lalu tidak langsung ditindaklanjuti.

Alarm kedua berbunyi pukul 05.45.

Arga membuka sebelah mata.

Masih gelap.

Ia mengambil keputusan berdasarkan penelitian yang dilakukan selama kurang lebih tiga detik.

“Lima menit lagi.”

Kalimat “lima menit lagi” adalah salah satu kebohongan paling konsisten yang dilakukan manusia kepada dirinya sendiri.

Arga memejamkan mata pukul 05.45.

Ketika membukanya kembali, jam menunjukkan pukul 06.37.

Kali ini kedua matanya langsung terbuka.

“ANJIR.”

Pukul 06.37 adalah waktu yang unik. Belum cukup terlambat untuk menyerah, tetapi sudah terlalu terlambat untuk melakukan semuanya dengan bermartabat.

Arga melompat dari kasur.

Handuk.

Kamar mandi.

Sikat gigi.

Sabun.

Sampo—

Tidak.

Tidak ada waktu untuk sampo.

Hari ini rambut cukup diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Masalah berikutnya menunggu di depan kamar mandi.

Antrean.

Kos Arga memiliki dua belas penghuni dan tiga kamar mandi. Secara matematika seharusnya cukup. Tetapi entah mengapa setiap pagi seluruh penghuni kos memiliki keinginan buang air pada waktu yang sama.

“Siapa di dalam?” tanya Arga.

“Gue.”

Suara Bayu dari kamar sebelah.

“Lama?”

“Baru masuk.”

Itulah jawaban paling menyakitkan yang bisa diterima orang yang sedang terburu-buru.

Arga mengetuk lagi lima menit kemudian.

“Yu.”

“Hm?”

“Lu hidup?”

“Iya.”

“Syukurlah. Gue kira meninggal. Soalnya lama banget.”

“Bentar.”

Dalam bahasa penghuni kamar mandi, “bentar” tidak memiliki satuan waktu yang jelas. Bisa dua menit. Bisa dua puluh menit. Bisa sampai pemerintahan berganti.

Pukul 06.51 Bayu akhirnya keluar dengan wajah segar dan ketenangan seseorang yang tidak memiliki musuh.

Arga masuk sambil membawa seluruh perlengkapan mandi.

Tujuh menit kemudian ia keluar sebagai manusia baru.

Tidak sepenuhnya bersih.

Tetapi secara administratif sudah mandi.


---

Pukul 07.08 Arga berdiri di depan cermin.

Kemeja.

Celana.

Ikat pinggang.

Rambut.

Ia menyisir ke kanan.

Jelek.

Ke kiri.

Lebih jelek.

Dibiarkan.

Mirip orang kehilangan pekerjaan.

Akhirnya ia memilih gaya pertama.

Bukan karena bagus, tetapi karena waktu habis.

Sebelum pergi, Arga membuka kulkas bersama di dapur.

Ada satu kotak susu miliknya.

Kosong.

Ia mengangkat kotaknya.

“SIAPA YANG MINUM SUSU GUE?”

Tidak ada jawaban.

Pintu kamar Bayu tertutup.

Kamar Dito tertutup.

Kamar Andre tertutup.

Kos mendadak seperti kompleks perlindungan saksi.

Arga melihat kotak susu sekali lagi.

Di tutupnya ada tulisan menggunakan spidol:

ARGA — JANGAN DIMINUM.

Ia menarik napas.

Ternyata tulisan tersebut bukan larangan.

Hanya informasi bagi pelaku.


---

Arga tiba di kantor pukul 07.59.

Absensi maksimal pukul 08.00.

Ia menempelkan sidik jari.

Mesin berbunyi.

“TERIMA KASIH.”

Arga menatap mesin itu dengan penuh rasa haru.

“Sama-sama.”

Ia berjalan menuju mejanya dengan napas masih berat.

Rina, teman satu divisi, sudah duduk sambil minum kopi.

“Kok keringetan?”

“Olahraga pagi.”

“Lari?”

“Dari parkiran.”

Rina mengangguk.

“Sehat.”

Arga duduk.

Menyalakan komputer.

Membuka email.

Ada sebelas pesan baru.

Tiga revisi.

Dua permintaan data.

Satu undangan rapat.

Empat email yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Arga tetapi ia tetap di-CC.

Dan satu pesan dari atasannya.

“Arga, nanti ke ruangan saya sebentar ya.”

Arga membaca kalimat itu tiga kali.

Tidak ada tanda seru.

Tidak ada emoji.

Tidak ada penjelasan.

Hanya:

Ke ruangan saya sebentar ya.

Arga bersandar.

Semua kesalahan yang pernah dilakukannya selama enam bulan terakhir mendadak diputar ulang oleh otaknya.

File bulan lalu.

Laporan yang telat.

Printer rusak.

Apakah printer itu salahnya?

Sepertinya tidak.

Tapi siapa tahu.

Rina melirik.

“Kenapa?”

“Pak Danu nyuruh gue ke ruangannya.”

“Ya datang.”

Arga menatapnya.

“Lu gampang ngomong karena bukan lu yang dipanggil.”

“Emang lu salah apa?”

“Nah, itu.”

Arga mendekat dan berbisik.

“Gue lagi mencoba mengingat.”


---

Pukul 08.30 Arga mengetuk pintu.

“Masuk.”

Pak Danu sedang melihat laptop.

“Duduk, Ga.”

Arga duduk.

Jantungnya mempersiapkan surat peringatan yang bahkan belum ada.

Pak Danu menutup laptop.

“Saya mau minta bantuan.”

Arga sedikit lega.

“Tolong nanti siang pesankan ruang rapat lantai tiga.”

Arga menunggu kelanjutannya.

Tidak ada.

“Oh.”

“Sama minta konsumsi sepuluh orang.”

“Oh... siap, Pak.”

“Sudah.”

“Sudah?”

Pak Danu mengangguk.

Arga berdiri.

Keluar.

Menutup pintu.

Ia kembali ke meja.

Rina bertanya,

“Dipecat?”

Arga duduk.

“Disuruh pesan konsumsi.”

Rina tertawa.

Arga menatap layar komputer.

Delapan belas menit hidupnya tadi dihabiskan untuk membayangkan kemungkinan menjadi pengangguran hanya karena diminta memesan risoles.

Begitulah kehidupan orang dewasa.

Sebagian besar masalah bahkan belum terjadi.

Tapi kita sudah stres duluan.


---

Malamnya Arga pulang ke kos pukul 19.12.

Ia melempar tas.

Membuka sepatu.

Berbaring.

Hari itu melelahkan.

Tetapi besok pasti lebih baik.

Arga mengambil ponsel dan memasang alarm.

05.30.

05.45.

06.00.

06.15.

Ia menatap empat alarm tersebut dengan penuh keyakinan.

Besok ia akan bangun lebih pagi.

Mandi santai.

Sarapan.

Bahkan mungkin menyetrika kemeja.

Arga tersenyum.

Manusia memang makhluk yang luar biasa.

Setiap malam kita bisa kembali percaya kepada diri sendiri.

Padahal rekam jejaknya sudah jelas.

— BERSAMBUNG —