Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (3)

EPISODE 3  

HIDUP SEWAAN : KURSI YANG TIDAK PERNAH DIDUDUKI

 

Di kamar kos Arga ada satu kursi.

Sudah hampir dua bulan kursi itu tidak pernah diduduki.

Bukan rusak.

Hanya saja di atasnya terdapat beberapa jenis pakaian yang memiliki status berbeda.

Ada baju bersih yang belum dilipat.

Ada celana yang baru dipakai sebentar.

Ada kaos yang menurut Arga masih bisa dipakai sekali lagi.

Dan ada jaket yang status kebersihannya sudah tidak bisa ditentukan oleh ilmu pengetahuan.

Hari Minggu itu Arga berdiri di depannya dengan tekad besar.

“Hari ini gue beresin kamar.”

Bayu yang kebetulan lewat hanya menjawab,

“Semangat.”

Ada sesuatu dari cara Bayu mengucapkannya yang terdengar seperti belasungkawa.

---

Arga mulai dengan memisahkan pakaian.

Kotor masuk keranjang.

Bersih masuk lemari.

Setengah kotor...

Arga berhenti.

Kategori ini rumit.

Ia mengambil sebuah kaos hitam, menciumnya sebentar, lalu menggantungnya kembali.

“Masih bisa.”

Lima menit kemudian pekerjaannya terhenti karena ia menemukan kaos kaki tanpa pasangan.

Arga membuka laci.

Ada tiga kaos kaki lain yang juga tidak punya pasangan.

Semuanya hitam.

Motif berbeda.

Ukuran sedikit berbeda.

Arga memasangkan dua yang paling mirip.

Selesai.

Menjadi dewasa ternyata bukan tentang menyelesaikan semua masalah.

Kadang cukup menurunkan standar.

---

Setelah pakaian selesai, Arga berniat menyapu.

Supaya lebih semangat, ia memutar musik.

Lagu pertama enak.

Lagu kedua lagu zaman SMA.

Arga langsung teringat masa lalu.

Ia membuka ponsel untuk mencari lagu-lagu lama.

Satu lagu.

Dua lagu.

Lima lagu.

Entah bagaimana, empat puluh menit kemudian Arga sudah duduk di lantai sambil menonton video musik tahun 2014.

Bayu muncul di pintu.

“Katanya bersih-bersih?”

“Ini lagi.”

“Lu duduk.”

“Sedang istirahat.”

“Sapunya masih bersih.”

Arga melihat sapu di tangannya.

“Yu.”

“Apa?”

“Jangan terlalu memperhatikan detail.”

---

Sore harinya, kamar Arga akhirnya terlihat rapi.

Tidak benar-benar rapi.

Tapi terlihat rapi.

Semua barang kecil di atas meja—struk, kabel, koin, pulpen, kartu parkir, obat masuk angin—dimasukkan ke satu laci.

Laci ditutup.

Masalah hilang.

Arga berdiri di tengah kamar dengan bangga.

Bayu masuk dan melihat sekeliling.

“Wah, rapi.”

Arga tersenyum.

“Makanya.”

Bayu hendak duduk di kursi.

“Eh, jangan!”

“Kenapa?”

Arga menunjuk kursi.

Di sana kembali tergeletak tiga kaos, dua celana, satu handuk, dan jaket yang tadi sudah ia pindahkan.

Bayu menatap Arga.

“Bukannya tadi diberesin?”

“Sudah.”

“Terus itu?”

Arga ikut melihat tumpukan tersebut.

“Itu baju yang belum cukup kotor untuk dicuci.”

“Masukin lemari.”

“Enggak bisa. Sudah pernah dipakai.”

“Ya dicuci.”

“Masih bersih.”

Bayu terdiam.

Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa ini bukan persoalan kebersihan.

Ini persoalan filosofi.

“Jadi kursinya?”

Arga menepuk sandaran kursi.

“Memang tempatnya di situ.”

Bayu mengangguk.

Lalu duduk di kasur.

Dan begitulah hari Minggu Arga berakhir.

Kamar sudah dibersihkan.

Lantai sudah disapu.

Meja sudah kosong.

Tetapi kursi tetap tidak bisa diduduki.

Sebab setiap kamar kos memiliki satu tempat yang secara resmi adalah furnitur...

tetapi dalam praktiknya merupakan lemari tanpa pintu.

— BERSAMBUNG —