Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (2)
EPISODE 2
HIDUP SEWAAN : GAJIAN ADALAH ILUSI
Tanggal 25 adalah satu-satunya tanggal yang mampu memperbaiki hubungan Arga dengan kehidupan.
Pukul 09.17, sebuah notifikasi masuk.
Dana masuk.
Arga yang sejak pagi mengerjakan laporan langsung berhenti mengetik.
Ia membuka aplikasi mobile banking.
Menatap saldo.
Lalu tersenyum.
Senyum tulus.
Senyum seorang lelaki yang selama seminggu terakhir hidup dengan prinsip yang penting kenyang dan baru saja dikembalikan martabatnya oleh departemen keuangan.
Rina yang duduk di sebelahnya melirik.
“Gajian?”
Arga mengangguk.
“Alhamdulillah.”
“Bayar utang.”
Senyum Arga sedikit berkurang.
“Apa sih. Baru juga bahagia.”
Rina menunjuknya dengan pulpen.
“Utang makan siang minggu lalu.”
“Gue ingat.”
“Yang hari Selasa.”
“Iya.”
“Sama kopi Kamis.”
“Iya.”
“Parkir Jumat.”
Arga menatapnya.
“Kenapa pencatatan keuangan lu bagus kalau menyangkut utang gue?”
“Karena gue ingin masa depan yang stabil.”
Arga membuka aplikasi bank lagi.
Saldo masih terlihat indah.
Ia memutuskan menikmati pemandangan itu beberapa detik lagi sebelum kewajiban hidup mulai mengambil bagiannya.
---
Saat jam makan siang, Arga, Rina, dan beberapa teman kantor pergi ke restoran yang biasanya hanya mereka lewati.
Pada tanggal tua, tempat itu disebut mahal.
Pada tanggal gajian, tempat itu disebut sekali-sekali.
Ini adalah salah satu keajaiban ekonomi.
Harga makanan tidak berubah.
Mental manusianya yang berubah.
Arga membuka menu.
“Nasi ayam sambal matah, tiga puluh delapan ribu.”
Rina mengangguk.
“Lumayan.”
Kalau percakapan itu terjadi seminggu lalu, kata yang digunakan bukan lumayan.
Melainkan:
“GILA, AYAM DOANG?”
Arga memesan nasi ayam.
Es kopi.
Tambahan kentang.
Ketika pelayan bertanya apakah mau tambah dessert, Arga hampir mengatakan iya.
Untung bagian dirinya yang masih memiliki trauma tanggal tua segera mengambil alih.
“Enggak, Mbak. Cukup.”
Rina menatapnya.
“Diet?”
“Kesadaran finansial.”
---
Sore hari, paket datang ke kantor.
“Arga Pratama!”
Arga berdiri.
Paket pertama.
Sepatu.
Ia memang sudah merencanakannya.
Sepatu kerjanya sudah rusak.
Lima belas menit kemudian paket kedua datang.
Kaos.
Yang ini juga kebutuhan.
Menurut Arga.
Pukul empat sore paket ketiga.
Headset.
Rina menatap tumpukan kardus di bawah meja Arga.
“Lu buka cabang marketplace?”
“Ini kebutuhan semua.”
“Kaos?”
“Kebutuhan sandang.”
“Headset?”
“Kebutuhan produktivitas.”
“Sepatu?”
“Kebutuhan mobilitas.”
Rina mengambil kotak kecil lain.
“Ini apa?”
Arga diam sebentar.
“Parfum mobil.”
“Lu enggak punya mobil.”
“Itu salah kirim.”
“Nama penerimanya Arga.”
Arga merebut paket itu.
“Persiapan masa depan.”
Rina menatapnya beberapa detik.
“Gue salut.”
“Apa?”
“Optimisme lu jauh melampaui kemampuan finansial.”
---
Malamnya, Arga pulang ke kos membawa tiga kardus.
Bayu sedang duduk di teras sambil makan mi instan.
“Gajian?”
“Kelihatan?”
Bayu menunjuk kardus.
“Kalau tanggal tua lu pulang bawa kantong gorengan.”
Arga masuk kamar.
Ia membuka paket satu per satu.
Sepatu bagus.
Kaos bagus.
Headset bagus.
Semua keputusan hidupnya terasa tepat.
Sampai ponselnya berbunyi.
Ibu Kos:
Mas Arga, mengingatkan uang kos bulan ini ya.
Arga menatap pesan itu.
Benar.
Uang kos.
Ia membuka mobile banking.
Transfer.
Saldo berkurang.
Kemudian ia teringat cicilan motor.
Transfer.
Berkurang lagi.
Tagihan internet.
Transfer.
Listrik.
Transfer.
Bayar utang Rina.
Transfer.
Langganan aplikasi.
Autodebet.
Arga mulai merasa angka di rekeningnya memiliki masalah pribadi dengannya.
Pagi tadi saldo itu datang dengan penuh percaya diri.
Sekarang perlahan meninggalkannya tanpa salam perpisahan.
---
Bayu mengetuk pintu.
“Ga.”
“Apa?”
“Makan?”
Arga melihat jam.
Pukul 20.13.
“Boleh.”
“Mau ayam geprek?”
Arga membuka aplikasi pesan makanan.
Ia melihat harga.
Ayam geprek.
Ongkir.
Biaya layanan.
Biaya aplikasi.
Biaya entah apa lagi yang namanya kecil tetapi kalau dijumlahkan membuat harga ayam seolah dikirim menggunakan pesawat pribadi.
Arga menutup aplikasi.
“Mi aja.”
Bayu menatapnya.
“Bukannya lu baru gajian?”
Arga terdiam.
Pertanyaan itu terdengar menyakitkan.
“Masih.”
“Terus?”
“Gue sedang melakukan penyesuaian anggaran.”
Bayu mengangguk.
“Lu bokek?”
“Jangan sederhanakan masalah.”
---
Mereka akhirnya duduk di dapur kos.
Dua mangkuk mi instan.
Satu telur dibagi dua karena Bayu hanya punya satu.
Arga makan sambil melihat sepatu barunya.
Bayu ikut melihat.
“Bagus.”
“Kan.”
“Berapa?”
Arga menyebut harga.
Bayu berhenti mengunyah.
“Sepatu lama lu kenapa?”
“Solnya mulai lepas.”
“Bisa dilem.”
Arga menatap Bayu.
“Kenapa lu baru ngomong sekarang?”
“Lu enggak tanya.”
Arga melanjutkan makan dalam diam.
Beberapa detik kemudian Bayu berkata,
“Kaos lu juga masih banyak.”
Arga berhenti lagi.
“Yu.”
“Apa?”
“Gue lagi makan.”
“Oh.”
“Biarkan gue menikmati keputusan buruk gue dengan tenang.”
“Siap.”
---
Sebelum tidur, Arga melakukan ritual yang selalu dilakukan setelah gajian.
Menghitung pengeluaran.
Ia membuka kalkulator.
Gaji.
Dikurangi kos.
Motor.
Internet.
Listrik.
Utang.
Belanja.
Makan.
Dan beberapa transaksi kecil yang ketika dilakukan terasa tidak berarti, tetapi setelah dijumlahkan ternyata memiliki ambisi menghancurkan masa depan.
Arga menatap hasilnya.
Kemudian membuka kalender.
Masih tanggal 25.
Ia melihat saldo.
Melihat kalender lagi.
Saldo.
Kalender.
“Ini gaji baru masuk hari ini, kan?”
Ia bahkan memeriksa tanggal transfer untuk memastikan dirinya tidak kehilangan ingatan.
Benar.
Hari ini.
Arga berbaring.
Menatap langit-langit.
Di kamar sebelah terdengar Bayu bernyanyi sambil mandi.
Arga mengambil ponsel dan membuka aplikasi belanja.
Ada barang di keranjang.
Jam tangan.
Diskon 47 persen.
Di bawahnya ada tulisan merah:
PROMO BERAKHIR 23 MENIT LAGI.
Arga menatapnya.
Ia tahu ini jebakan.
Ia sudah dewasa.
Ia pekerja kantoran.
Ia memahami cara kerja promosi.
Ia tahu tulisan itu sengaja dibuat untuk menciptakan rasa mendesak.
Arga menutup aplikasi.
Meletakkan ponsel.
Menarik selimut.
Lima detik kemudian ia mengambil ponsel lagi.
“Cuma lihat review.”
---
Pukul 23.48.
Bayu mendapat notifikasi dari grup WhatsApp kos.
Arga:
Guys, kalau besok ada paket atas nama gue, tolong diterima ya.
Bayu membalas.
Apaan lagi?
Beberapa detik.
Arga menjawab.
Investasi.
Bayu:
Apa?
Arga:
Jam tangan.
Bayu tidak membalas.
Ia hanya mengirim stiker orang menggeleng.
Arga meletakkan ponsel.
Di atas meja terdapat catatan anggaran bulanan yang baru saja dibuatnya.
Di bagian paling atas ia menulis:
TARGET BULAN INI: MENABUNG 20% GAJI.
Arga memandang tulisan itu cukup lama.
Kemudian mengambil pulpen.
Mencoret angka 20%.
Menggantinya menjadi:
10%.
Ia berpikir lagi.
Mencoret.
5%.
Diam beberapa detik.
Akhirnya seluruh kalimat dicoret.
Diganti dengan:
TARGET BULAN INI: BERTAHAN HIDUP SAMPAI TANGGAL 25 BERIKUTNYA.
Arga tersenyum puas.
Nah.
Target yang realistis.
Sebab menjadi dewasa bukan hanya tentang belajar mengatur uang.
Kadang-kadang menjadi dewasa adalah tentang menyadari bahwa kita belum bisa mengatur uang...
lalu berjanji akan mulai bulan depan.
Janji yang, seperti alarm pukul 05.30,
selalu terdengar sangat meyakinkan ketika dibuat.
— BERSAMBUNG —
