Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (4)

EPISODE 4

HIDUP SEWAAN : GRUP WHATSAPP KANTOR TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SEPI

 

Pukul 22.47.

Arga sudah rebahan.

Lampu kamar mati.

Ponsel tinggal dua belas persen.

Ia sudah berada di fase malam yang paling damai: tidak ingin ngobrol, tidak ingin berpikir, tidak ingin jadi manusia produktif.

Lalu grup WhatsApp kantor berbunyi.

Divisi Operasional

Pak Danu:
Besok jangan lupa file laporan dibawa ya.

Arga membaca.

Tidak membalas.

Karena menurutnya, kalau pesan sudah dibaca dan dimengerti, tugas manusia selesai.

Dua detik kemudian Rina membalas.

Siap Pak.

Lalu Siska.

Baik Pak, siap.

Lalu Fajar.

Siap Pak Danu 🙏

Arga mulai merasa tertekan.

Bukan karena laporannya.

Karena semua orang membalas.

Ia melihat layar.

Tiga orang lagi mengetik.

Siap Pak.

Siap.

Baik Pak.

Arga mulai bertanya-tanya apakah diam sekarang bisa dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

Akhirnya ia mengetik:

Siap Pak.

Kirim.

Selesai.

Ia meletakkan ponsel.

Tiga puluh detik kemudian grup berbunyi lagi.

Pak Danu:

Terima kasih.

Lalu entah siapa yang memulainya, satu per satu orang membalas.

Siap Pak.

Terima kasih kembali Pak.

Baik Pak.

Arga menatap layar.

“Kenapa terima kasih dibalas siap?”

Tidak ada yang bisa menjawab.

---

Pagi harinya di kantor, grup kembali ramai.

Rina mengirim:

Teman-teman, ada yang lihat stapler besar?

Fajar:

Enggak.

Siska:

Tidak lihat.

Doni:

Saya juga tidak.

Arga yang duduk hanya dua meja dari Rina menoleh.

Stapler besar itu ada di sebelah laptop Rina.

“Rin.”

“Hm?”

Arga menunjuk meja.

“Itu.”

Rina melihat.

“Oh iya.”

Lalu ia mengetik di grup:

Sudah ketemu ya teman-teman. Makasih.

Arga langsung mendapat tujuh notifikasi.

Sip.

Oke.

Siap.

👍

Arga mulai curiga bahwa sebagian besar fungsi grup kantor bukan menyampaikan informasi.

Melainkan memastikan semua orang masih hidup.

---

Siang hari, grup kembali bunyi.

Kali ini foto kotak makanan.

Siska:
Teman-teman ada yang mau risol? Saya bawa lebih.

Dalam waktu kurang dari satu menit, percakapan yang tadinya tentang laporan bulanan berubah menjadi perebutan risol.

Rina:
Mauuuu.

Fajar:
Satu.

Doni:
Masih ada?

Pak Danu:
Kalau masih ada saya satu ya.

Grup langsung hening.

Risol untuk atasan adalah prioritas nasional.

Siska:
Ada Pak 🙏

Arga yang sejak tadi diam akhirnya mengetik:

Saya juga satu.

Siska:
Habis, Ga.

Arga menatap layar.

Rina di sebelahnya sudah makan risol.

“Lu dapat dua?”

Rina mengangguk.

“Kenapa?”

“Bagi satu.”

“Enggak.”

“Kita teman.”

“Pertemanan ada batasnya.”

“Apa?”

“Risol.”

---

Malam harinya, pukul 21.16, grup kembali berbunyi.

Kali ini Pak Danu mengirim pesan panjang.

Arga membaca baris pertama.

Teman-teman, untuk besok terkait penyesuaian agenda...

Ia melihat panjang pesannya.

Enam paragraf.

Arga belum siap secara mental.

Ia menurunkan layar sedikit.

Lalu sedikit lagi.

Kemudian sampai paling bawah.

Ada satu kalimat terakhir.

Intinya, besok rapat pukul 09.00.

Arga mengangguk.

“Kenapa enggak dari tadi ini aja?”

Ia berniat meletakkan ponsel.

Namun satu pesan baru masuk.

Fajar:

Jadi besok rapat jam berapa ya?

Arga menutup mata.

Belum sempat siapa pun menjawab, Pak Danu mengirim lagi:

09.00.

Fajar:

Siap Pak.

Arga tersenyum kecil.

Ternyata tidak semua orang membaca pesan panjang.

Ada juga yang bahkan tidak membaca bagian terakhir.

Dan entah kenapa, pengetahuan itu membuat Arga merasa tidak sendirian.

Ia mematikan layar.

Lalu grup berbunyi lagi.

Selamat malam teman-teman.

Arga tidak membuka.

Ia sudah tahu apa yang akan terjadi.

Sebentar lagi pasti ada:

Selamat malam.

Selamat malam Pak.

Siap Pak.

Entah kenapa selalu ada yang membalas “siap”.

Arga menarik selimut.

Di dunia kerja, ternyata ada satu aturan yang tidak pernah tertulis:

Kalau tidak tahu harus membalas apa...

cukup ketik siap.

Biasanya aman.

— BERSAMBUNG —