Cegah Paparan Risiko Negatif Internet, Literasi Digital Memegang Peranan Penting
BERBAGI: Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal memaparkan fakta seputar perkembangan dunia digital beserta risikonya.
TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Hari Anak Nasional sepatutnya jadi momen refleksi terhadap pola pembinaan dalam pertumbuhan generasi muda. Terlebih, pesatnya perkembangan teknologi saat ini, turut mengiringi risiko paparan beragam hal negatif, seperti pornografi hingga judi dalam jaringan (daring/online).
Untuk mencegah hal tersebut, dibutuhkan gerakan masif. Salah satunya adalah meningkatkan literasi digital. Semakin dini diajarkan, semakin kecil pula risiko paparan hal negatif tersebut dalam lini masa pertumbuhan generasi muda.
Berangkat dari hal tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim terus menggaungkan pentingnya literasi digital sejak dini. Salah satunya disampaikan dalam Seminar Hari Anak Nasional yang diinisiasi Dinas Pemerdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim.
Mengangkat tema Pencegahan Pornografi pada Anak di Era Digital di Aula Kesbangpol Kaltim, Kamis (7/8), Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal tampil sebagai narasumber. Faisal menekankan bahwa anak-anak masa kini adalah generasi digital native, yakni generasi yang tumbuh bersama teknologi dan tak bisa dipisahkan dari dunia digital.
Namun, kemudahan akses informasi dan hiburan di internet justru menyimpan sisi gelap yang mengancam tumbuh kembang anak, yakni dari konten pornografi dan praktik judi online yang kian mudah dijangkau.
Hingga 2025, 80,66 persen penduduk Indonesia atau sekira 229 juta jiwa telah terkoneksi internet. Mayoritas dari mereka mengakses internet melalui ponsel pintar dengan durasi yang cukup panjang. Bahkan, sebagian anak dan remaja menghabiskan lebih 10 jam per hari di dunia maya.
Data lainnya, hampir 10 persen pengguna internet di Indonesia pernah mengakses situs pornografi, dan lebih 5 persen mengakses situs judi online. Temuan ini, adalah pertanda yang harus jadi atensi bersama.
“Bukan soal siapa yang salah, tapi bagaimana kita sebagai dewasa menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak-anak. Internet bukan musuh, tetapi jika tidak didampingi, ia bisa menjadi sumber bahaya,” ujar pria yang juga ketua umum Asosiasi Diskominfo Provinsi Seluruh Indonesia ini.
Karena itu, keterlibatan orangtua begitu vital dalam mendampingi anak menggunakan internet. Orangtua perlu menjadi teman digital bagi anak-anaknya, membuka ruang komunikasi tentang risiko dunia maya, serta memanfaatkan fitur teknologi seperti parental control untuk membatasi konten negatif. Selain itu, ia mengimbau penataan waktu penggunaan gawai agar tidak mengganggu keseimbangan aktivitas anak sehari-hari.
Tidak hanya keluarga, lembaga pendidikan pun memiliki tanggung jawab besar. Faisal mendorong literasi digital dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah secara terstruktur. Para pendidik, katanya, harus mampu mengajarkan anak cara mengenali dan melaporkan konten berbahaya serta menumbuhkan kesadaran digital yang sehat.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen melindungi anak melalui regulasi yang ketat serta kebijakan yang berpihak pada keamanan ruang digital. Namun, regulasi saja tidak cukup. Edukasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama untuk membangun ekosistem digital yang aman dan positif bagi anak-anak Indonesia.
“Anak-anak adalah masa depan Kaltim dan masa depan bangsa. Melindungi mereka dari paparan konten digital berbahaya adalah bentuk investasi jangka panjang bagi kemajuan negara. Ini bukan tugas satu pihak saja, tapi tanggung jawab kolektif kita semua,” pungkasnya. (adv/diskominfokaltim/cht/pt/wan)
