Tiga Kali Tidur yang Berbeda

Ilustrasi

Setiap orang di rumah sakit itu punya alasan untuk tidak tidur dengan tenang.

Ada yang menunggu operasi.

Ada yang menunggu hasil.

Ada yang menunggu seseorang pulang.

---

Raka bekerja sebagai petugas administrasi di ruang rawat inap.

Bukan dokter.

Bukan perawat.

Hanya orang yang memindahkan data manusia menjadi barisan angka: kamar, diagnosa, status, biaya.

Manusia memang sering direduksi jadi tabel kalau sudah masuk sistem kesehatan.

---

Ia sudah terbiasa dengan malam.

Lampu putih.

Bunyi monitor.

Dan orang-orang yang menatap langit-langit seperti sedang berdiskusi dengan Tuhan tapi tidak pernah mendapat balasan.

---

Sampai suatu malam, tiga pasien datang hampir bersamaan.

Dan semuanya mengatakan hal yang sama saat sadar:

“Mimpi saya aneh.”

---

Pasien pertama: laki-laki tua.

Kecelakaan motor.

Ia berkata dalam mimpi ia kembali muda, tapi tidak bisa menemukan rumahnya.

---

Pasien kedua: perempuan paruh baya.

Stroke ringan.

Ia berkata dalam mimpi ia memasak untuk anaknya, tapi anaknya tidak pernah selesai makan.

---

Pasien ketiga: remaja laki-laki.

Demam tinggi.

Ia berkata dalam mimpi ia berjalan di kota yang semua orang mengenalnya, tapi tidak ada yang mengingat namanya.

---

Tiga mimpi berbeda.

Tiga orang berbeda.

Tapi ada satu hal yang membuat Raka tidak nyaman:

semuanya menangis setelah bangun.

Tanpa alasan medis.

---

Dokter bilang itu efek obat.

Perawat bilang itu hal biasa.

Tapi Raka memperhatikan sesuatu yang tidak masuk laporan medis:

setiap pasien itu selalu menyebut “seseorang yang sama sekali tidak hadir di hidup mereka saat ini.”

---

Laki-laki tua menyebut anaknya.

Perempuan paruh baya menyebut ibunya.

Remaja itu menyebut dirinya sendiri dalam versi dewasa.

---

Seolah mimpi mereka tidak sekadar bunga tidur.

Tapi ruang lain di mana hidup mereka belum selesai diperbaiki.

---

Malam ketiga, listrik rumah sakit sempat padam sebagian.

Generator menyala setengah.

Koridor jadi lebih gelap dari biasanya.

---

Di jam itu, ketiga pasien mengalami hal yang sama.

Serentak.

---

Mereka terbangun sambil berkata:

“Dia datang lagi.”

---

Raka langsung masuk ke ruang masing-masing.

Detak monitor normal.

Tidak ada tanda kejang.

Tidak ada hal medis yang menjelaskan kepanikan itu.

---

Tapi anehnya, ketiga pasien menggambarkan sosok yang sama:

seorang perempuan muda dengan wajah biasa saja.

Tidak menyeramkan.

Tidak jelas juga.

Hanya… hadir.

---

Perempuan yang “tidak melakukan apa-apa”, kata mereka.

Tapi selalu ada di akhir mimpi.

---

Hari keempat, kondisi remaja itu memburuk.

Ia berkata pelan sebelum tidak sadar:

“Kalau aku mati, dia nggak akan datang lagi di mimpi ya?”

---

Raka ingin mengatakan itu tidak masuk akal.

Tapi lidahnya tidak bergerak.

---

Sore itu, keluarga pasien tua datang.

Seorang pria dewasa.

Matanya langsung berhenti saat melihat pasien lain di lorong.

Perempuan paruh baya itu.

---

Mereka saling menatap lama.

Lalu sama-sama diam.

---

Raka baru sadar:

dua pasien itu saling kenal.

Bahkan mungkin keluarga.

Tapi tidak pernah dicatat di sistem.

---

Malam kelima, remaja itu meninggal.

Sederhana.

Tanpa drama.

Seperti kebanyakan kematian di rumah sakit yang terlalu sibuk.

---

Dan di jam yang sama…

dua pasien lain bangun bersamaan.

Menangis.

---

Bukan karena sakit.

Bukan karena obat.

---

Tapi karena mimpi mereka berubah.

---

Perempuan paruh baya berkata:

“Sekarang dia sudah pergi.”

---

Laki-laki tua berkata:

“Sekarang saya sendirian di mimpi itu.”

---

Raka mulai mengerti pola yang tidak diajarkan di buku medis:

bahwa beberapa orang tidak saling bertemu di dunia nyata…

tapi saling “melengkapi” di ruang lain yang disebut mimpi.

---

Malam terakhir, perempuan itu meninggal juga.

Tenang.

Tanpa alarm.

---

Dan kali ini…

laki-laki tua bangun tanpa berkata apa-apa.

Hanya menatap langit-langit lama sekali.

---

Sebelum akhirnya ia berbisik:

“Akhirnya semuanya selesai.”

---

Raka menutup data mereka di sistem.

Tiga nama.

Tiga riwayat.

Tiga kematian.

---

Tapi di kolom catatan kecil yang tidak wajib diisi, ia menulis satu kalimat:

Pasien melaporkan mimpi berulang yang saling terhubung. Tidak dapat diverifikasi.

---

Lalu ia berhenti sejenak.

Menatap layar.

---

Dan untuk pertama kalinya dalam pekerjaannya…

ia bertanya dalam hati:

kalau mimpi bisa saling terhubung…

berapa banyak kehidupan yang sebenarnya belum kita pahami sampai hari terakhir kita?

---

Sen