KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (10) TAMAT Bagian 1

SERI 10 TAMAT Bagian 1

NAMA YANG KITA PILIH UNTUK DIINGAT

 

Ada sebuah foto tahun 1971 di tangan Raka.

Ada sebuah nama di belakangnya.

Dr. Aditya Pradana.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua keanehan dimulai, Raka berharap masalah ini benar-benar hanya disebabkan hantu.

Hantu, setidaknya, lebih sederhana.

Kalau hantu marah, orang bisa mencari tahu kenapa. Kalau rumah berhantu, orang bisa pindah. Kalau pocong muncul di lorong sekolah, Dimas mungkin akan lari sambil berteriak dan masalah selesai setelah semua orang sepakat tidak melewati lorong itu lagi.

Tetapi ini berbeda.

Orang yang memulai semua kekacauan ternyata memiliki nama belakang yang sama dengannya.

Pradana.

Keluarganya sendiri.

Raka membaca tulisan di belakang foto itu sekali lagi.

Eksperimen pertama berhasil. Subjek dapat dihapus dari ingatan kelompok dan dikembalikan melalui jangkar emosional.

Di bawahnya:

Penanggung Jawab: Dr. Aditya Pradana.

Tangannya gemetar.

“Ibu kenal dia?”

Ratih duduk di lantai aula. Wajahnya pucat.

“Dia ayah dari ayahmu.”

“Kakekku.”

“Iya.”

“Kenapa aku tidak pernah dengar?”

Ratih menatap tulisan itu.

“Karena ayahmu tidak pernah mau membicarakannya.”

“Kenapa?”

“Katanya beliau meninggalkan keluarga.”

“Ke mana?”

Ratih menggeleng.

“Itu yang kami percaya.”

Pak Junaidi mengambil foto tersebut.

“Kalau catatan ini benar, mungkin dia tidak pernah pergi.”

Raka menatapnya.

“Maksud Bapak?”

“Mungkin kita hanya dibuat lupa.”

Dimas mengangkat tangan pelan.

“Saya mau mengusulkan satu hal.”

Semua menoleh.

“Setelah ini selesai, keluarga kalian bikin silsilah keluarga.”

Tak seorang pun menjawab.

“Serius,” lanjut Dimas. “Setiap dua bab muncul keluarga baru.”

Raka menatapnya.

“Dim.”

“Iya.”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk masih bisa bikin aku pengen mukul kamu.”

Dimas tersenyum.

“Sama-sama.”

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari dinding, wajahnya terlihat sedikit lebih tenang.

---

Nara masih berdiri sebagai bayangan di sisi aula.

Tubuhnya belum sepenuhnya nyata.

Di belakangnya ada ratusan sosok lain.

Sebagian memiliki wajah.

Sebagian hanya bayangan.

Sebagian tampak seperti manusia yang digambar dari ingatan buruk—bagian tubuhnya jelas, tetapi wajahnya seperti belum selesai.

Raka mendekat.

“Nara.”

Gadis itu menatapnya.

“Kamu masih ingat aku?”

Raka mengangguk.

“Kamu menyebalkan.”

Nara mengerutkan kening.

Raka tersenyum.

“Kamu suka ngomong setengah-setengah, sok tahu, terus pergi sebelum menjelaskan.”

Nara tersenyum kecil.

“Berarti masih ingat.”

Raka ingin menyentuh tangannya.

Jarinya hanya melewati udara dingin.

Nara menunduk.

“Belum bisa.”

“Tapi kamu akan kembali.”

Nara tidak menjawab.

Raka segera menambahkan, “Bukan janji.”

Nara menatapnya lagi.

“Bagus.”

“Dimas baru ngajarin.”

Dari belakang terdengar suara Dimas.

“Akhirnya jasaku diakui.”

Nara tertawa.

Sangat kecil.

Tetapi suara itu membuat Raka merasa ia sedang mendengar sesuatu yang selama ini hilang dari sekolah.

Normal.

Ia baru menyadari bahwa dirinya merindukan hal-hal sederhana.

Dimas mengganggu.

Nara menggeleng kesal.

Bu Tatik salah menghitung kembalian.

Pak Junaidi memberikan tugas.

Hal-hal yang dulu dianggap membosankan.

Ternyata kehidupan normal adalah kemewahan yang baru terasa berharga setelah hampir dihapus dari dunia.

---

Buku biru tergeletak di tengah lantai aula.

Tidak bergerak.

Tidak menulis.

Tidak mengeluarkan petunjuk.

Raka mengambilnya.

“Kalau ini sebenarnya bukan buku,” katanya, “kenapa bentuknya buku?”

Pak Junaidi menjawab, “Mungkin karena manusia percaya ingatan disimpan dalam tulisan.”

Nara mengangguk.

“Atau karena seseorang membuatnya seperti itu.”

Raka langsung menatapnya.

“Maksudmu Kakek Aditya?”

“Mahesa bilang buku itu mengambil bentuk yang kita percayai.”

“Berarti mungkin awalnya bukan seperti ini.”

Perdana yang sejak tadi berdiri diam mendekat.

“Kita harus mencari ingatan pertama.”

Raka menghela napas.

“Lagi?”

Dimas memegang kening.

“Saya trauma dengan istilah itu.”

Perdana menunjuk foto tahun 1971.

“Mahesa bukan eksperimen pertama.”

Pak Junaidi mengernyit.

“Di sini tertulis eksperimen pertama berhasil.”

“Eksperimen pertama yang berhasil.”

Perdana menekankan kata terakhir.

Raka langsung memahami.

“Berarti sebelumnya ada yang gagal.”

Sunyi.

Dimas menggumam,

“Dan seperti biasa, berita buruk selalu punya prekuel.”

---

Mereka kembali ke gudang arsip.

Sekolah kini hampir sepenuhnya kacau.

Di lorong, seorang guru memanggil nama siswa yang lulus sepuluh tahun lalu. Beberapa foto sekolah menampilkan orang-orang yang tidak pernah mereka kenal. Papan nama ruangan berubah sendiri. Sesaat tertulis PERPUSTAKAAN, beberapa detik kemudian berubah menjadi RUANG 36, lalu kembali normal.

Namun sesuatu yang berbeda juga terjadi.

Orang-orang mulai mengingat.

Seorang guru tiba-tiba menangis karena teringat sahabat SMP yang selama puluhan tahun diyakininya tidak pernah ada.

Seorang penjaga sekolah berdiri mematung sambil menyebut nama kakaknya.

Seorang siswa kelas sembilan menemukan foto seorang anak di ponselnya dan berkata,

“Ini sepupuku. Kok aku bisa lupa?”

Ingatan pulang.

Bukan dengan rapi.

Melainkan seperti ribuan orang berebut melewati pintu sempit.

Gudang arsip sudah berantakan ketika mereka tiba.

Raka mencari map bertanda 1971.

Tidak ada.

1969. 

Tidak ada.

1970. 

Kosong.

Dimas membuka sebuah kardus.

“Rak.”

“Apa?”

“Aku dapat.”

Ia mengangkat sebuah map tipis.

Di bagian depan tertulis:

PROYEK MEMORI KOLEKTIF — A.P.

Pak Junaidi membuka map tersebut.

Di dalamnya hanya ada tujuh lembar.

Catatan pertama menjelaskan sesuatu yang membuat semuanya akhirnya terasa masuk akal.

Dr. Aditya Pradana bukan sedang membuat cara untuk menghapus manusia.

Ia sedang meneliti bagaimana trauma memengaruhi ingatan kelompok.

Penelitian itu dimulai setelah satu peristiwa.

Kecelakaan bus sekolah.

Tahun 1969.

Tiga puluh enam siswa berada dalam bus.

Tiga puluh lima selamat.

Satu meninggal.

Raka membaca cepat.

“Siapa?”

Halaman berikutnya hilang.

“Serius?” keluh Dimas. “Orang zaman dulu kenapa suka menyimpan dokumen penting tidak lengkap?”

Mereka mencari.

Ratih menemukan potongan koran di dalam map lain.

Judulnya sudah pudar.

KECELAKAAN BUS ROMBONGAN SEKOLAH, SATU SISWA MENINGGAL

Di bawahnya ada foto.

Tiga puluh enam anak sebelum perjalanan.

Raka menghitung.

“Ini awal angka tiga puluh enam.”

Pak Junaidi mengangguk.

Anak yang meninggal bernomor urut 36 dalam daftar perjalanan.

Namun namanya tertutup lipatan.

Mereka membuka hati-hati.

Nama itu terlihat.

BIMA PRADANA.

Raka berhenti.

“Pradana lagi.”

Ratih menutup mulut.

Pak Junaidi membaca catatan berikutnya.

Bima adalah anak Dr. Aditya Pradana.

Anaknya sendiri.

Dimas tidak berkata apa-apa kali ini.

Semua mulai memahami bahkan sebelum selesai membaca.

Seorang ayah kehilangan anak.

Lalu melakukan sesuatu karena tidak sanggup menerima kehilangan tersebut.

Aditya mulai meneliti kenapa beberapa teman Bima masih merasa Bima hadir setelah kecelakaan.

Mereka sering menyediakan kursi untuknya.

Memanggil namanya saat absensi.

Menyisakan makanan.

Beberapa bahkan bersumpah pernah berbicara dengannya.

Semakin banyak orang mengenang Bima secara bersamaan...

semakin nyata keberadaan Bima dalam ingatan kelompok.

Sampai suatu hari...

seorang anak muncul di sekolah.

Wajah Bima.

Suara Bima.

Ingatan Bima.

Tetapi bukan tubuh Bima.

Raka berbisik,

“Yang pertama kembali.”

Pak Junaidi menggeleng.

“Bukan Mahesa.”

“Bima.”

---

Catatan berikutnya ditulis dengan tulisan tangan berbeda.

Lebih kacau.

Bima kembali selama tujuh belas hari.

Pada hari kedelapan belas, seorang siswa lain tidak dikenali siapa pun.

Pertukaran terjadi secara spontan.

Raka menutup mata.

Di sinilah semuanya dimulai.

Bukan sistem.

Bukan aturan.

Bukan kutukan.

Seorang ayah hanya terlalu mencintai anaknya dan tidak mampu melepaskannya.

Ia menemukan bahwa ingatan kolektif bisa membentuk kembali seseorang.

Tetapi dunia tidak mampu menampung dua identitas yang saling bertentangan.

Satu kembali.

Satu hilang.

Aditya mencoba memperbaikinya.

Eksperimen berikutnya.

Kemudian berikutnya.

Sampai ia membuat metode menggunakan benda sebagai jangkar.

Foto.

Tulisan.

Daftar hadir.

Dan sebuah buku.

Dimas menunjuk buku biru di tangan Raka.

“Jadi itu awalnya... buku penelitian?”

Pak Junaidi menemukan lembar terakhir.

Foto buku catatan bersampul biru.

Di bawahnya:

JURNAL BIMA

Raka memandangi buku di tangannya.

“Ini buku milik anak yang meninggal?”

“Bentuk awalnya,” kata Nara.

Tubuhnya sedikit lebih jelas sekarang.

Ratih berbisik,

“Semua permintaan ditulis di buku seorang anak yang ingin dikembalikan.”

Tidak heran buku itu selalu meminta pilihan.

Ia lahir dari satu keinginan:

jangan biarkan seseorang pergi.

---

Ada tulisan terakhir dari Aditya.

Pak Junaidi membacanya keras.

«“Aku mencoba mengalahkan kehilangan. Yang kulakukan justru membuat lebih banyak orang kehilangan.”»

Tak ada yang bergerak.

Raka melanjutkan membaca.

«“Bima bukan anakku lagi. Ia adalah ingatanku tentang anakku.”»

Kalimat berikutnya nyaris tidak terbaca.

«“Jika suatu hari sistem ini terbuka kembali, jangan cari cara menyelamatkan semua orang.”»

Raka menelan ludah.

«“Ingat mereka.”»

Halaman selesai.

Hanya itu.

Dimas mengernyit.

“Terus caranya?”

Raka melihat sahabatnya.

“Mungkin memang itu caranya.”

“Apa?”

“Kita terus menganggap orang yang dilupakan harus dikembalikan.”

Nara memahami lebih dulu.

“Padahal itu yang menciptakan masalah.”

Raka mengangguk.

“Kita enggak harus mengembalikan Adela ke tubuh.”

“Atau Mira,” kata Pak Junaidi.

“Enggak perlu menghidupkan Perdana.”

Perdana menunduk.

Raka memandangnya.

Ada rasa sakit saat mengucapkan itu.

Tetapi Perdana justru tersenyum.

“Akhirnya.”

“Apa?”

“Kamu paham.”

Perdana duduk di sebuah kardus.

“Aku capek mencoba jadi orang mati yang hidup.”

Ratih menangis.

“Perdana...”

Anak itu menatapnya.

“Bu.”

Itu pertama kalinya ia memanggil Ratih begitu.

Ratih menutup mulut.

Perdana tersenyum.

“Anak Ibu pernah hidup.”

Air mata Ratih jatuh.

“Dia pernah lahir.”

“Iya.”

“Pernah Ibu gendong.”

“Iya.”

“Pernah membuat Ibu marah.”

Perdana tertawa.

“Sepertinya sering.”

Ratih ikut tertawa dalam tangis.

“Pernah.”

“Kalau begitu cukup.”

Ratih menggeleng.

“Tidak cukup.”

“Memang.”

Perdana berdiri.

“Tapi kehilangan memang tidak pernah terasa cukup.”

Raka menatap saudara yang tidak pernah sempat dikenalnya.

Untuk pertama kalinya ia sadar:

menerima seseorang telah pergi bukan berarti berhenti mencintainya.

Justru mungkin itu bentuk cinta yang paling sulit.

Tidak menahan.

Tidak menggantikan.

Tidak meminta orang lain pergi.

Hanya...

mengingat.
Bersambung...

---

Sen