KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (9) Bagian 2
SERI 9 Bagian 2
ORANG YANG TIDAK PUNYA NAMA
Untuk pertama kalinya halaman kosongnya menampilkan satu nama yang tidak pernah muncul sebelumnya.
MAHESA.
Pak Harun jatuh berlutut.
Raka membaca keras.
“Mahesa.”
Pak Harun menjerit.
Semua foto di sekolah berubah serentak.
Nama-nama yang hilang mulai muncul.
Mira.
Adela.
Alya.
Nara.
Dimas.
Junaidi.
Perdana.
Dan ratusan lainnya.
Pak Harun—atau Mahesa—mengangkat wajah dengan air mata.
“Aku ingat.”
Di pergelangan tangannya, angka 1 retak.
Lalu hilang.
Pak Harun tersenyum untuk pertama kalinya tanpa terlihat seperti kepala sekolah, penjaga sistem, atau seseorang yang menyimpan rahasia.
Hanya seorang manusia yang akhirnya mengingat siapa dirinya.
Kemudian tubuhnya mulai menghilang.
Raka terkejut.
“Pak!”
Mahesa menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
“Kalau nama Bapak kembali, kenapa—”
“Karena Harun tidak pernah menjadi milikku.”
Tubuhnya semakin transparan.
“Dan Mahesa... sudah seharusnya pulang sejak lama.”
Raka mendekat.
“Kalau Bapak hilang, sistemnya?”
Mahesa melihat buku biru.
“Tanyakan kepada orang yang membuatnya.”
Raka membeku.
“Siapa?”
Mahesa tersenyum lemah.
“Bukan saya.”
Tubuhnya hampir habis.
“Buku itu bukan benda, Raka.”
“Apa maksud Bapak?”
“Buku itu hanya mengambil bentuk yang kalian percayai.”
“Terus sebenarnya apa?”
Mahesa melihat ke arah Nara.
Lalu Perdana.
Kemudian Ratih.
“Ingatan.”
Ia menghilang.
Di tempatnya jatuh sebuah foto tua.
Raka mengambilnya.
Foto tahun 1971.
Tiga puluh enam siswa berdiri di halaman sekolah.
Di tengah mereka ada seorang anak bernama Mahesa.
Namun di belakang foto terdapat tulisan tangan seorang guru.
Eksperimen pertama berhasil. Subjek dapat dihapus dari ingatan kelompok dan dikembalikan melalui jangkar emosional.
Raka membaca sekali lagi.
“Eksperimen?”
Pak Junaidi merebut foto.
Wajahnya berubah.
“Ini bukan kutukan.”
Raka menatap tulisan di belakang foto.
Ada tanda tangan.
Nama peneliti.
Sangat jelas.
Dr. Aditya Pradana.
Raka berhenti bernapas.
Nama belakangnya.
Pradana.
Ratih melihat foto itu dan langsung duduk.
“Tidak mungkin.”
Raka menoleh.
“Ibu kenal?”
Ratih menangis.
“Dia kakekmu.”
Raka menatap foto.
Seluruh misteri yang selama ini ia kira berasal dari sekolah, keluarga Adelia, atau buku biru mendadak berubah bentuk.
Bukan kutukan.
Bukan makhluk gaib.
Bukan kebetulan.
Seseorang pernah menciptakannya.
Dan orang itu...
berasal dari keluarganya sendiri.
Bersambung…
---
Sen
