KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (7) Bagian 1

SERI 7 Bagian 1

ORANG PERTAMA YANG DILUPAKAN

Kalau ada satu hal yang lebih aneh daripada mengetahui wali kelasmu ternyata memiliki hubungan dengan misteri keluarga yang sudah berlangsung puluhan tahun, menurut Raka, hal itu adalah mengetahui fakta tersebut ketika sang wali kelas masih mengenakan seragam batik guru dan kartu identitas sekolah seperti hari biasa.

Pak Junaidi berdiri di ambang pintu gudang dengan wajah setenang orang yang baru datang untuk mengingatkan jadwal piket.

Padahal lima detik sebelumnya ia baru saja berkata bahwa dirinya adalah awal dari semua kekacauan.

Raka menatapnya.

Lalu Mira.

Lalu ibunya.

Lalu Dimas.

Dimas mengangkat bahu.

“Jangan lihat aku. Biasanya kalau ada masalah keluarga, aku disuruh pulang.”

Tak seorang pun tertawa.

Dimas mengangguk pelan. “Baik. Situasinya memang belum cocok.”

Pak Junaidi masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Mira mundur satu langkah.

Wajah gadis itu berubah total. Tidak ada lagi senyum penuh rahasia. Tidak ada tatapan seolah ia mengetahui semua jawaban.

Yang ada justru ketakutan.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Pak Junaidi tersenyum tipis.

“Kamu sudah mengatakan itu.”

“Kamu sudah dihapus.”

“Benar.”

“Tidak ada yang mengingatmu.”

“Juga benar.”

“Lalu bagaimana—”

“Bagaimana aku kembali?”

Pak Junaidi meletakkan foto tua di atas meja.

“Itulah masalahnya.”

Ratih masih berdiri kaku.

Raka menoleh kepada ibunya.

“Bu... Pak Junaidi benar keluarga kita?”

Ratih tidak menjawab.

“Bu?”

“Aku tidak tahu.”

Raka mengernyit.

“Barusan namanya ada di foto keluarga.”

“Ibu tahu.”

“Namanya Junaidi Adelia.”

“Ibu juga tahu.”

“Terus?”

Ratih memandang Pak Junaidi.

“Tapi Ibu tidak mengenalnya.”

Kalimat itu membuat suasana semakin aneh.

Pak Junaidi justru tersenyum.

“Memang seharusnya begitu.”

Ia mengambil sebuah kursi dan duduk.

“Duduklah.”

Raka tidak bergerak.

“Pak, dengan segala hormat, setiap kali orang dalam cerita misterius bilang ‘duduklah’, setelah itu biasanya keluar rahasia keluarga yang membuat hidup tokoh utamanya hancur.”

Pak Junaidi menaikkan alis.

“Kamu kebanyakan menonton film.”

Dimas mengangguk. “Saya sudah bilang juga, Pak.”

Raka melotot.

“Pengkhianat.”

“Aku menjaga hubungan baik dengan wali kelas.”

Pak Junaidi hampir tertawa.

Hampir.

Kemudian ia memandang Mira.

“Sudah waktunya mereka tahu.”

Mira menggeleng.

“Tidak.”

“Sudah terlalu lama.”

“Kalau mereka tahu semuanya, siklus akan dimulai lagi.”

Pak Junaidi menatap tulisan NARA AD... yang semakin memudar di dinding.

“Siklusnya sudah dimulai.”

---

Pak Junaidi mengambil foto keluarga lama.

Dalam foto itu terdapat enam orang.

Sepasang suami istri.

Mira.

Suri.

Ratih.

Dan seorang anak laki-laki yang wajahnya dicoret.

Junaidi.

“Foto ini diambil tahun 1987,” katanya.

Raka menghitung cepat.

“Berarti Bapak—”

“Jangan hitung umur saya.”

Dimas yang tadi sudah mengangkat jari langsung menurunkannya.

“Baik, Pak.”

Pak Junaidi melanjutkan.

“Waktu itu kami tinggal berlima bersaudara.”

Raka mengernyit.

“Lima?”

Pak Junaidi menunjuk foto.

“Mira anak pertama. Saya kedua. Suri ketiga. Ratih paling kecil.”

Raka menghitung lagi.

“Itu empat.”

“Benar.”

“Yang kelima?”

Pak Junaidi diam.

Raka merasakan sesuatu yang tidak enak.

“Tidak ada di foto?”

“Tidak pernah ada di foto.”

“Kenapa?”

Pak Junaidi menatapnya.

“Karena ketika foto ini diambil, kami sudah melupakannya.”

Ruangan sunyi.

Dimas bahkan berhenti bergerak.

Raka bertanya pelan, “Siapa namanya?”

Pak Junaidi menggeleng.

“Itulah masalahnya.”

“Bapak juga lupa?”

“Semua lupa.”

“Terus bagaimana Bapak tahu ada lima?”

Pak Junaidi mengeluarkan selembar kertas tua dari sakunya.

Itu gambar buatan anak kecil.

Rumah.

Dua orang dewasa.

Lima anak.

Di bawah setiap gambar terdapat nama.

Mira.

Junaidi.

Suri.

Ratih.

Nama kelima telah hilang karena bagian kertasnya sobek.

“Gambar ini saya buat ketika berumur delapan tahun.”

Raka memperhatikan.

“Berarti ada satu saudara lagi.”

“Iya.”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Tidak tahu.”

“Lebih tua atau muda?”

“Tidak tahu.”

“Bagaimana bisa?”

Pak Junaidi tersenyum pahit.

“Begitulah dilupakan bekerja, Raka. Bukan seperti seseorang meninggal.”

Ia mengetuk pelan meja.

“Kalau seseorang meninggal, kita kehilangan orangnya tetapi menyimpan kenangannya.”

Ia menatap nama-nama di dinding.

“Kalau seseorang dilupakan, kita kehilangan keduanya.”

Raka langsung teringat Perdana.

Mungkin itulah perbedaannya.

Perdana meninggal.

Namun ibunya mempertahankan ingatan tentangnya.

Sedangkan orang-orang di dinding...

dihapus.

“Saudara kelima itu orang pertama?”

“Yang pertama dalam keluarga kami.”

“Terus hubungannya dengan sekolah?”

Pak Junaidi menghela napas.

“Tidak ada.”

Raka terkejut.

“Tidak ada?”

“SMP Arunika bukan penyebabnya.”

“Mira sudah bilang begitu.”

“Karena itu benar.”

Pak Junaidi berdiri.

“Sekolah hanya menjadi tempat yang sangat cocok untuk sesuatu seperti ini.”

“Kenapa?”

“Kelas adalah kelompok ingatan yang stabil.”

Raka belum mengerti.

Pak Junaidi menjelaskan.

“Tiga puluh lima anak bertemu setiap hari. Guru mengingat mereka. Teman mengingat mereka. Nama mereka dicatat. Difoto. Dipanggil setiap pagi.”

“Absensi.”

“Ya.”

Pak Junaidi mengambil daftar hadir dari tasnya.

“Pernah bertanya kenapa sekolah harus memanggil nama kalian setiap hari?”

Dimas mengangkat tangan.

“Untuk tahu siapa yang bolos?”

Pak Junaidi memandangnya.

“Secara administratif, iya.”

“Oh.”

“Namun nama memiliki fungsi lain.”

Pak Junaidi membuka daftar hadir.

“Setiap kali namamu dipanggil dan kamu menjawab hadir, ada puluhan orang yang kembali mengakui bahwa kamu ada.”

Raka merinding.

Ia tidak pernah memikirkan absensi seperti itu.

Nama dipanggil.

Hadir.

Sederhana.

Tetapi setiap pagi tiga puluh lima anak saling mendengar nama satu sama lain.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Tahun demi tahun.

“Makanya orang yang hilang pertama-tama hilang dari daftar hadir,” kata Raka.

Pak Junaidi mengangguk.

“Karena daftar hadir adalah salah satu jangkar terkuat.”

Raka teringat sesuatu.

“Foto?”

“Jangkar.”

“Buku?”

“Jangkar.”

“Pesan?”

“Jangkar.”

“Kenangan?”

Pak Junaidi menatapnya.

“Jangkar paling kuat.”

---

Dimas mendadak mengeluarkan kertas kusut dari saku.

Tulisan yang dibuatnya sendiri:

Raka Pradana adalah sahabatku. Kalau aku lupa dia, berarti ingatanku yang salah. Bukan tulisanku.

Pak Junaidi melihatnya.

“Kamu menulis itu?”

“Iya, Pak.”

“Bagus.”

Dimas terlihat bangga.

“Terima kasih.”

“Jangan hilangkan.”

Senyumnya langsung lenyap.

“Kenapa?”

“Karena mungkin suatu hari itu satu-satunya alasan kamu masih mengenal Raka.”

Dimas langsung melipat kertas dan memasukkannya ke saku terdalam.

“Mulai sekarang ini lebih penting daripada uang jajan.”

Raka menatapnya.

“Segitunya?”

“Uang jajan bisa minta lagi.”

“Persahabatan kita mengharukan sekali.”

“Jangan lebay.”

Mira yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Junaidi tidak menceritakan semuanya.”

Pak Junaidi menatapnya.

“Karena belum waktunya.”

“Tidak.”

Mira melangkah maju.

“Karena kamu takut.”

Pak Junaidi tidak menjawab.

Raka memandang keduanya bergantian.

“Takut apa?”

Mira menunjuk daftar hadir.

“Tanyakan bagaimana dia bisa kembali.”

Raka menoleh kepada Pak Junaidi.

“Pak?”

Tidak ada jawaban.

“Bapak tadi bilang sudah pernah dihapus.”

“Iya.”

“Terus bagaimana Bapak kembali?”

Pak Junaidi menunduk.

Mira tersenyum dingin.

“Ayo.”

“Mira.”

“Beri tahu mereka.”

“Mira, cukup.”

“Kalau tidak, aku yang akan bilang.”

Pak Junaidi memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian ia berkata,

“Seseorang mengingat saya.”

Raka mengernyit.

“Siapa?”

Pak Junaidi melihat Ratih.

“Ratih.”

Ibunya langsung menggeleng.

“Aku bahkan tidak mengenalmu.”

“Sekarang tidak.”

“Lalu kapan?”

“Saat kamu berumur lima tahun.”

Ratih membeku.

Pak Junaidi melanjutkan.

“Kamu menemukan gambar itu.”

Ia menunjuk gambar lima anak.

“Lalu kamu bertanya kepada Ibu siapa anak laki-laki yang berdiri di samping Mira.”

Ratih memegang kepalanya.

“Aku... tidak ingat.”

“Memang.”

“Kemudian?”

“Kamu terus bertanya.”

Pak Junaidi tersenyum sedih.

“Anak kecil sangat menyebalkan kalau penasaran.”

Dimas berbisik, “Masih berlaku sampai SMP.”

Raka menyikutnya.

Pak Junaidi melanjutkan.

“Setiap hari Ratih bertanya tentang saya. Dia menulis nama saya. Menggambar wajah saya. Bertanya kepada tetangga.”

“Lalu Bapak kembali?”

“Sedikit demi sedikit.”

“Seperti Perdana?”

“Persis.”

Raka merasakan potongan-potongan cerita mulai menyatu.

Ingatan yang terlalu kuat mencari tubuh.

“Tubuh Bapak?”

Pak Junaidi diam.

Raka langsung memahami.

“Bukan tubuh asli.”

“Tidak.”

Ratih menutup mulut.

“Ya Tuhan.”

Pak Junaidi menatap tangannya sendiri.

“Junaidi Adelia yang asli hilang tahun 1989.”

Raka bertanya pelan, “Bapak... siapa?”

“Saya tidak tahu.”

Jawaban itu jauh lebih mengerikan daripada penjelasan panjang.

“Saya memiliki semua ingatannya. Saya ingat ulang tahun Mira. Saya ingat Suri takut pada kecoa. Saya ingat Ratih kecil selalu menangis kalau es krimnya jatuh.”

Ratih mulai menangis.

Pak Junaidi tersenyum.

“Tapi apakah itu membuat saya Junaidi?”

Tak seorang pun menjawab.

“Kalau semua ingatan seseorang dimasukkan ke tubuh lain, apakah dia orang yang sama?”

Raka memandangnya.

Pertanyaan itu juga berlaku untuk Perdana.

Dan Mira.

Mungkin bahkan dirinya sendiri.

Bersambung...

---

Sen