KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (7) Bagian 2
SERI 7 Bagian 2
ORANG PERTAMA YANG DILUPAKAN
Mira berjalan mendekati dinding.
“Sekarang ceritakan bagian terakhir.”
Pak Junaidi menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Kenapa?”
“Karena Nara tinggal punya beberapa menit.”
Raka langsung melihat nama di dinding.
Kini hanya tersisa:
NARA A...
“Pak!”
Pak Junaidi berdiri.
“Baik.”
Ia membuka kancing manset lengan kirinya, lalu menggulung lengan baju.
Ada angka di sana.
Bukan tato.
Seperti bekas luka.
36
Raka menatapnya.
“Apa itu?”
“Setiap orang yang kembali membawa tanda.”
Mira menunjukkan pergelangan tangannya.
Angka yang sama.
36.
Raka refleks melihat tangannya sendiri.
Tidak ada.
Dimas juga.
Ratih memeriksa pergelangan tangan.
Tidak ada.
“Berarti yang punya tanda adalah orang yang pernah kembali?”
“Ya.”
Raka tiba-tiba teringat Perdana.
“Kalau begitu Raka Perdana juga—”
“Punya.”
Suara itu muncul dari pintu.
Semua menoleh.
Raka Perdana berdiri di sana.
Wajahnya sama persis dengan Raka.
Namun kali ini ia tidak memakai seragam.
Ia mengenakan pakaian biasa.
Di pergelangan tangan kirinya terlihat angka 36.
Raka membeku.
“Kamu.”
Perdana tersenyum.
“Halo lagi.”
Ratih langsung mendekatinya.
“Perdana.”
Anak itu mundur.
“Jangan.”
Ratih berhenti.
“Aku ibumu.”
“Bukan.”
Wajah Ratih runtuh.
Perdana menunjuk dirinya.
“Anak Ibu meninggal dua belas tahun lalu.”
Ratih menangis.
“Aku tahu.”
“Tidak.”
Perdana menatapnya.
“Kalau Ibu benar-benar tahu, Ibu tidak akan mencoba mengembalikanku.”
Raka melihat saudaranya.
Untuk pertama kalinya ia tidak merasa sedang melihat pencuri hidupnya.
Ia melihat seseorang yang sama bingungnya.
Sama kesepiannya.
“Kenapa kamu datang?”
Perdana memandang dinding.
“Karena kalian salah memahami semuanya.”
Pak Junaidi berdiri.
“Perdana.”
“Bapak juga.”
“Jangan.”
“Kita tidak punya waktu.”
Perdana menunjuk nama-nama di dinding.
“Ini bukan daftar korban.”
Raka mengernyit.
“Terus?”
“Ini daftar pengganti.”
“Bedanya?”
“Korban adalah orang yang diambil.”
Perdana menatap Raka.
“Pengganti adalah orang yang diberikan.”
Raka merasa perutnya mengeras.
“Diberikan oleh siapa?”
Perdana tidak menjawab.
Mira terlihat panik.
“Jangan katakan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau dia tahu—”
“Dia memang harus tahu.”
Perdana menatap Raka.
“Tidak ada kekuatan misterius yang memilih nomor tiga puluh enam.”
Sunyi.
“Tidak ada kutukan yang secara acak mengambil siswa.”
Raka menatapnya.
“Terus siapa?”
Perdana menunjuk orang-orang di ruangan.
“Kita sendiri.”
Ratih menggeleng.
“Tidak.”
“Setiap kali seseorang tidak rela kehilangan orang yang dicintainya, buku itu memberi pilihan.”
Perdana mengambil buku biru dari tangan Raka.
“Pertahankan satu ingatan.”
Ia membuka halaman.
“Atau lepaskan orang lain.”
Raka memucat.
“Jadi orang-orang yang hilang...”
“Dipilih seseorang.”
Raka teringat Alya.
Mira.
Junaidi.
Nara.
“Siapa yang memilih Nara?”
Tidak ada jawaban.
“SIAPA?”
Perdana memandang Ratih.
Raka mengikuti tatapannya.
Ibunya menggeleng cepat.
“Bukan Ibu.”
“Lalu siapa?”
Perdana berkata pelan,
“Kamu.”
Raka tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena kalimat itu terlalu mustahil.
“Aku?”
“Ya.”
“Aku bahkan tidak tahu cara kerja buku itu.”
“Sekarang tidak.”
“Maksudmu?”
Perdana membalik buku ke halaman pertama.
Foto dua anak kembar menghilang.
Digantikan tulisan tangan.
Tulisan Raka.
Raka mengenal bentuk hurufnya sendiri.
Kalau harus memilih antara aku dan dia, jangan ambil aku. Ambil siapa saja.
Raka mundur.
“Aku tidak pernah menulis itu.”
“Kamu menulisnya.”
“Kapan?”
Perdana menatapnya.
“Tiga hari lalu.”
“Bohong.”
“Hanya saja kamu sudah lupa.”
Raka meraih buku.
Tulisan itu memang miliknya.
Dimas mendekat.
“Rak...”
“Aku enggak pernah menulis ini.”
Tangannya mulai gemetar.
“Dim, kamu tahu aku enggak pernah—”
Dimas tidak menjawab.
“DIMAS.”
Sahabatnya terlihat pucat.
“Aku pernah lihat kamu nulis sesuatu di buku biru.”
Raka membeku.
“Kapan?”
“Di halte.”
“Hujan-hujan?”
“Iya.”
“Kamu ada di sana?”
Dimas memegang kepalanya.
“Aku...”
Ia terlihat kesakitan.
“Aku enggak tahu.”
Mira mundur menuju pintu.
Pak Junaidi langsung menyadarinya.
“Mira.”
Terlambat.
Mira berlari.
Perdana mengejarnya.
Namun tepat saat itu, nama Nara di dinding menghilang seluruhnya.
Lampu padam.
Dimas berteriak.
“RAKA!”
Kemudian sunyi.
Ketika lampu kembali menyala...
Raka berdiri bersama Ratih, Pak Junaidi, dan Perdana.
Mira sudah tidak ada.
Namun ada sesuatu yang lebih buruk.
Dimas juga hilang.
“Dim?”
Raka melihat sekeliling.
“Dimas?”
Tidak ada jawaban.
Ia berlari keluar gudang.
Lorong sekolah penuh siswa.
Raka menarik seorang teman sekelas.
“Livia! Kamu lihat Dimas?”
Livia mengernyit.
“Dimas siapa?”
Raka melepaskan tangannya.
Tidak.
Ia berlari ke kelas.
Mencari bangku Dimas.
Tidak ada.
Hanya tiga puluh empat bangku terisi.
Raka membuka papan struktur kelas.
Nama Dimas hilang.
Ia mengambil ponsel.
Tidak ada kontak Dimas.
Tidak ada chat.
Tidak ada foto.
Semua lenyap.
Raka berlari kembali ke gudang.
“PAK!”
Pak Junaidi sedang memeriksa dinding.
Di sana muncul satu nama baru.
Tintanya masih basah.
DIMAS ARYATAMA
Di bawahnya terdapat tulisan kecil.
PENGGANTI DITERIMA.
Raka tidak bisa bernapas.
“Aku enggak memilih dia.”
Tak seorang pun menjawab.
“Aku tidak memilih Dimas!”
Perdana mengambil kertas kusut yang tergeletak di lantai.
Kertas milik Dimas.
Raka Pradana adalah sahabatku. Kalau aku lupa dia, berarti ingatanku yang salah. Bukan tulisanku.
Namun tulisan itu berubah.
Kini kalimatnya berbunyi:
Kalau suatu hari harus ada yang dilupakan, jangan Raka. Ambil aku.
Raka menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak.”
Perdana menunduk.
“Dia memilih sendiri.”
Raka merampas kertas itu.
“Tidak. Dia cuma menulis.”
“Bagi buku itu, tulisan adalah janji.”
“Dimas bahkan tidak tahu!”
“Itulah kenapa aturan ini kejam.”
Raka menatap nama sahabatnya di dinding.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak punya lelucon untuk membalas.
Tidak punya teori.
Tidak punya kemarahan.
Hanya satu kesadaran yang menyakitkan.
Dimas mengorbankan dirinya agar Raka tetap ada.
Raka menyentuh nama itu.
Lalu terdengar suara sangat pelan dari balik dinding.
“Rak...”
Raka membeku.
Ia menempelkan telinga.
“Dimas?”
Suara itu terdengar lagi.
“Rak... kalau kamu dengar...”
Raka memukul dinding.
“DIMAS!”
Pak Junaidi mendekat.
“Mustahil.”
“Aku dengar dia!”
Raka menempelkan telinga lagi.
Suara Dimas terdengar sangat jauh.
“...jangan percaya siapa pun yang punya angka tiga puluh enam.”
Raka perlahan mengangkat kepala.
Di ruangan itu ada tiga orang yang memiliki angka 36.
Pak Junaidi.
Mira yang baru saja kabur.
Dan Perdana.
Raka menatap saudara kembarnya.
Perdana juga menatapnya.
Kemudian suara Dimas muncul untuk terakhir kalinya.
Kali ini lebih jelas.
“Termasuk aku.”
Raka membeku.
“Apa?”
Dinding di depan mereka retak.
Sebuah tangan muncul dari baliknya.
Lalu tangan kedua.
Seseorang mendorong tubuhnya keluar dari dinding.
Dimas jatuh ke lantai.
Hidup.
Terengah-engah.
Raka langsung berlutut.
“DIM!”
Dimas mengangkat wajah.
“Rak...”
Raka hampir memeluknya.
Namun ia berhenti.
Di pergelangan tangan kiri Dimas...
terdapat angka baru.
36.
Dimas melihat angka itu.
Kemudian menatap Raka.
Wajahnya berubah ketakutan.
“Aku rasa...”
Ia menelan ludah.
“...aku membawa sesuatu keluar bersamaku.”
Dari balik retakan dinding...
terdengar suara anak kecil tertawa.
Satu suara.
Kemudian dua.
Lalu puluhan.
Dan di antara semua suara itu, terdengar sebuah bisikan yang membuat Pak Junaidi langsung pucat.
“Akhirnya ada pintu yang terbuka.”
Bersambung…
---
Sen
