KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (8) Bagian 1
SERI 8 Bagian 1
HARI KETIKA SEMUA ORANG MULAI SALAH INGAT
Hal pertama yang dilakukan Dimas setelah keluar dari dinding dan mengetahui angka 36 muncul di pergelangan tangannya adalah mencoba menghapusnya dengan ludah. Menurut Raka, tindakan itu cukup mewakili cara Dimas menghadapi masalah sepanjang hidup: kalau sesuatu terlihat berbahaya, coba gosok dulu. Kalau tidak berhasil, baru panik. Dimas menggosok semakin keras sampai kulitnya memerah, tetapi angka itu tidak berubah sedikit pun. “Mungkin spidol permanen,” katanya penuh harap. Pak Junaidi yang berdiri beberapa langkah darinya menjawab, “Bukan.” Dimas berhenti menggosok. “Saya sebenarnya lebih suka jawaban Bapak yang bohong.” Tak ada yang tertawa. Dari retakan dinding di belakang mereka masih terdengar suara anak-anak berbisik, bertumpuk satu sama lain seperti puluhan radio dinyalakan bersamaan. Ada yang menangis. Ada yang tertawa. Ada yang memanggil ibu. Ada yang hanya mengulang namanya sendiri berkali-kali. Dan di antara semua suara itu terdengar satu bisikan yang paling jelas: Akhirnya ada pintu yang terbuka.
Pak Junaidi segera menarik Dimas menjauh. “Jangan menyentuh dinding lagi.” Dimas mengangguk cepat. “Dengan senang hati, Pak. Saya juga tidak punya rencana liburan ke dalam tembok.” Ratih menutup retakan menggunakan lemari arsip, meskipun semua orang tahu sebuah lemari kayu bukan pertahanan yang meyakinkan terhadap sesuatu yang bisa menghapus manusia dari ingatan. Raka sendiri masih memandangi angka di tangan sahabatnya. “Kamu merasa aneh?” tanyanya. Dimas berpikir. “Aku selalu merasa aneh.” “Maksudku setelah keluar.” “Oh.” Ia memeriksa tubuhnya. “Lapar.” “Selain itu?” “Haus.” “DIMAS.” “Ya sudah, serius. Enggak ada.” Raka belum sempat lega ketika Dimas tiba-tiba bertanya, “Ngomong-ngomong... ibu kamu siapa?” Ratih membeku. Raka menatap sahabatnya. “Apa?” Dimas menunjuk Ratih. “Ibu ini siapa?” Beberapa detik kemudian ia tertawa. “Bercanda.” Raka langsung menendang betisnya. “Aduh! Rak!” “Sekali lagi kamu bercanda soal ingatan, aku lempar kamu balik ke dinding.” Dimas memegangi betis sambil meringis. “Baik. Pesan diterima dengan kekerasan.”
Sayangnya, beberapa menit kemudian mereka mengetahui bahwa lelucon Dimas ternyata bukan sekadar lelucon. Ketika mereka keluar dari gudang, sekolah sudah ramai. Bel pertama baru berbunyi. Anak-anak berjalan menuju kelas, guru membawa buku, petugas piket memeriksa seragam. Semuanya tampak normal sampai seorang siswa kelas tujuh menghampiri Pak Junaidi. “Pak Kepala Sekolah, upacara jadi hari ini?” Pak Junaidi mengernyit. “Saya bukan kepala sekolah.” Anak itu ikut bingung. “Bapak kan kepala sekolah.” Temannya menarik lengannya. “Bukan. Pak Junaidi guru olahraga.” “Bahasa Indonesia,” koreksi Pak Junaidi. Keduanya saling pandang. “Bukannya Bapak guru matematika?” Dalam waktu kurang dari lima menit, kekacauan menyebar. Bu Mira masuk ke kelas IX dan yakin kelas itu kelas VII. Seorang siswa menangis karena tidak mengenali kakaknya sendiri. Petugas kantin bersikeras harga bakso dua ribu rupiah, membuat Dimas sempat berkata bahwa tidak semua kerusakan ingatan membawa penderitaan. Lebih mengerikan lagi, beberapa siswa mengingat kejadian yang tidak pernah terjadi. Livia bersumpah sekolah pernah memiliki kolam renang. Farel yakin Dimas adalah ketua OSIS. “Nah,” kata Dimas bangga, “akhirnya ada dunia yang menghargai potensiku.” Raka tidak tertawa. Ia mulai mengerti apa yang keluar dari retakan tadi. Bukan manusia. Ingatan.
Mereka kembali ke VIII-B dan mendapati tiga puluh enam bangku tersusun sempurna. Mira sudah tidak ada, tetapi bangku nomor 36 tetap berada di pojok belakang. Anehnya, tak seorang pun mempertanyakannya. Pak Junaidi mencoba melakukan sesuatu yang menurutnya paling sederhana. Ia membuka daftar hadir. “Kita periksa nama kalian. Dengarkan baik-baik. Kalau ada nama yang terasa salah, bilang.” Ia memanggil satu demi satu. Beberapa normal. Beberapa tidak. Nomor tujuh tercatat sebagai siswa yang bahkan tidak dikenal siapa pun. Nomor sembilan belas memiliki dua nama. Nama Nara muncul kembali di nomor dua puluh empat, tetapi ketika Pak Junaidi memanggilnya, seorang siswa laki-laki bernama Bayu menjawab, “Hadir.” Raka merinding. Lalu nomor tiga puluh lima dipanggil. “Dimas Aryatama.” Dimas mengangkat tangan. “Hadir.” Pak Junaidi menatap baris terakhir. Wajahnya berubah. “Nomor tiga puluh enam...” Ia berhenti. Raka mendekat. “Siapa?” Pak Junaidi menunjukkan daftar. Di sana tertulis Raka Pradana.
Semua mata di kelas mengarah kepada Raka. “Bukannya Raka nomor dua belas?” tanya Livia. “Nomor dua belas juga Raka,” jawab Pak Junaidi. Mereka melihat ke atas. Nomor dua belas memang tertulis Raka Pradana. Dimas berbisik, “Dua Raka lagi. Kita pernah sampai bagian ini dan aku tidak suka sekuelnya.” Raka menoleh ke bangku nomor 36. Kosong. Lalu perlahan kursi itu bergeser sendiri. Suara gesekan kakinya terdengar panjang di lantai. Beberapa siswa berteriak. Pak Junaidi menutup daftar hadir. Seketika kursi berhenti. “Semua keluar,” perintahnya. Tidak ada yang membantah. Bahkan Dimas yang biasanya masih sempat bertanya apakah boleh membawa jajanan langsung berdiri. Saat Raka hendak keluar, ia mendengar suara perempuan dari bangku kosong. “Jangan pergi.” Ia berhenti. Suara itu dikenalinya. “Nara?”
Tidak ada orang di sana. Namun ketika Raka mendekat, permukaan meja mulai dipenuhi tulisan, seolah seseorang menggoresnya dari sisi lain. RAKA, AKU MASIH DI SINI. Raka memanggil Dimas. “Lihat!” Dimas kembali dan membaca tulisan. “Nara?” Tulisan baru muncul. IYA. Raka langsung menempelkan kedua tangan ke meja. “Kamu di mana?” Goresan muncul cepat. DI TEMPAT SEMUA ORANG YANG DILUPAKAN PERGI. “Bagaimana kami mengeluarkanmu?” Lama tidak ada jawaban. Kemudian muncul: JANGAN BUKA PINTU LAGI. Raka menatap retakan kecil yang mulai muncul di sisi meja. “Pintu apa?” Tulisan berikutnya membuat Pak Junaidi, yang baru kembali ke kelas, langsung pucat. DIMAS ADALAH PINTUNYA.
Semua menoleh kepada Dimas. “Kenapa semua masalah belakangan ini mengarah kepadaku?” protesnya. Angka 36 di tangannya mulai terasa panas. Dimas meringis. Garis hitam merambat dari angka itu menuju lengannya. Pak Junaidi segera menarik lengan bajunya ke atas. “Tandanya berkembang.” “Itu buruk?” “Sangat.” “Saya mulai rindu ketika jawaban Bapak cuma ‘kerjakan halaman 72’.” Ratih yang baru masuk memeriksa tangan Dimas. “Dia bukan sekadar kembali. Dia membawa jalur di antara dua ingatan.” Raka tidak paham. Pak Junaidi menjelaskan: ketika Dimas menulis bahwa dirinya bersedia menggantikan Raka, buku menerima janji itu. Tetapi Dimas keluar sebelum proses penghapusan selesai. Ia menjadi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya—orang yang tercatat sebagai hilang sekaligus masih diingat. Dua keadaan bertentangan berada dalam satu tubuh. Karena itulah ingatan yang tersimpan di tempat lain menemukan jalan keluar melalui dirinya.
“Kalau begitu kita tutup jalurnya,” kata Raka. “Bagaimana?” Ratih dan Pak Junaidi saling pandang. Tidak ada yang menjawab. Dimas melihat keduanya. “Kenapa kalau orang dewasa saling lihat begini, jawabannya selalu jelek?” Ratih akhirnya berkata, “Dimas harus dilupakan sepenuhnya.” Raka langsung menjawab, “Tidak.” “Kalau tidak, ingatan lain terus keluar.” “Cari cara lain.” “Raka—” “Aku bilang cari cara lain.” Dimas justru duduk di meja. “Tunggu. Kalau semua orang lupa aku, aku pergi ke tempat Nara?” Ratih mengangguk. “Kemungkinan.” “Terus bisa balik?” Tidak ada jawaban. Dimas tersenyum kecut. “Nah. Itu jawaban.”
Raka membuka buku biru. “Benda ini yang membuat aturan. Berarti benda ini juga tahu cara membatalkannya.” Ia membalik halaman satu demi satu. Kosong. “Ayo,” gumamnya. “Kamu biasanya cerewet kalau tidak diminta. Sekarang ngomong.” Tidak ada tulisan. Dimas mendekat. “Coba ancam.” “Buku?” “Iya.” Raka menatapnya. “Aku harus mengancam buku gaib?” “Kita sudah pernah mencari bangku di toilet. Standar kewajaran kita sudah rendah.” Raka memegang sampul buku. “Kalau kamu tidak kasih cara lain, aku bakar.” Seketika tinta hitam muncul. Dimas terbelalak. “Ternyata dia bisa diajak negosiasi.” Tulisan itu berbunyi: PINTU DAPAT DITUTUP DENGAN MENGEMBALIKAN INGATAN PERTAMA.
Pak Junaidi membaca dan terdiam. “Ingatan pertama lagi.” Raka teringat pembicaraan sebelumnya. “Saudara kelima keluarga Ibu.” Ratih memucat. “Kalau kita menemukan siapa dia...” “Semua pertukaran setelahnya mungkin bisa dibatalkan,” kata Pak Junaidi. “Termasuk Nara?” “Mungkin.” “Dimas?” “Mungkin.” Dimas mengangkat tangan. “Saya kurang suka kata mungkin dipakai untuk kelangsungan hidup saya.” Namun Raka sudah memiliki tujuan. Mereka harus menemukan identitas saudara pertama yang dihapus dari keluarga Adelia. Masalahnya, tidak ada nama, foto, atau ingatan tentang orang itu. Hanya gambar lima anak dengan bagian nama yang sobek.
Mereka menuju perpustakaan lama. Pak Junaidi ingat bahwa sekolah pernah menyimpan arsip pendaftaran siswa sejak puluhan tahun lalu. Jika saudara mereka pernah bersekolah di Arunika, namanya mungkin masih ada di dokumen yang dibuat sebelum penghapusan. Dimas dan Raka mencari buku induk tahun demi tahun. Debu membuat mereka beberapa kali bersin. “Kalau aku mati karena misteri, masih keren,” kata Dimas sambil mengusap hidung. “Kalau mati karena alergi arsip, tolong jangan tulis di batu nisan.” Raka membuka buku tahun 1986. Tidak ada. Tahun 1987. Tidak ada. Tahun 1988. Pak Junaidi menunjuk satu halaman. Ada data keluarga Ratih. Nama ayah dan ibu. Jumlah anak: 5. Tetapi hanya empat nama tercantum. Baris pertama kosong.
Raka memeriksa halaman dengan cahaya ponsel. Ada bekas tekanan pena di kertas. Seseorang pernah menulis nama di halaman sebelumnya, cukup kuat hingga meninggalkan jejak. Mereka mengarsirnya perlahan menggunakan pensil. Huruf-huruf muncul. Dimas membaca pelan. “A... d... e...” Pak Junaidi mendekat. Ratih menahan napas. Nama itu semakin jelas.
ADELA ADELIA.
Ratih langsung memegang meja.
“Adela.”
Pak Junaidi memejamkan mata.
Sesuatu terjadi.
Seperti sebuah pintu terbuka di dalam kepalanya.
“Aku ingat.”
Raka menoleh.
Pak Junaidi mulai menangis.
“Aku punya kakak lain.”
Ratih ikut menangis tanpa tahu sebabnya.
“Adela...”
Nama itu seperti memaksa kenangan pulang.
Pak Junaidi berbicara terbata-bata. Adela adalah anak pertama keluarga mereka. Lebih tua dua tahun dari Mira. Suka menggambar. Takut petir. Selalu menyimpan permen di bawah bantal. Ia mengajari Junaidi naik sepeda. Ia sering menggendong Ratih ketika bayi.
“Kenapa dia hilang?” tanya Raka.
Pak Junaidi memegang kepalanya.
“Karena...”
Kenangan lain muncul.
Wajahnya berubah ngeri.
“Bukan orang tua kami yang memilihnya.”
“Siapa?”
Pak Junaidi menatap Ratih.
“Kamu.”
Ratih mundur.
“Aku?”
“Kamu masih kecil.”
“Aku bahkan bayi!”
“Bukan saat itu.”
Pak Junaidi menggeleng cepat. Ingatan bercampur.
“Tidak... tunggu.”
Ia membuka buku induk lagi.
Tanggal hilangnya Adela tercatat samar dalam sebuah catatan guru.
Agustus 1988.
Ratih saat itu sudah cukup besar.
Pak Junaidi memejamkan mata.
“Kamu sakit.”
Ratih membeku.
“Demam tinggi. Dokter bilang kemungkinanmu kecil.”
Raka langsung memahami sebelum Pak Junaidi selesai.
“Buku biru.”
Pak Junaidi mengangguk.
“Ibu kami menemukannya.”
“Dan memilih Adela untuk menggantikan Ratih?”
“Tidak.”
Pak Junaidi menatap mereka.
“Adela yang memilih dirinya sendiri.”
Sunyi.
Seperti Dimas.
Adela menulis bahwa jika satu anak harus pergi agar adiknya hidup, ambillah dirinya.
Raka menoleh kepada Dimas.
Pola itu berulang.
Bukan kutukan yang mencari korban.
Cinta yang takut kehilanganlah yang menciptakan pengganti.
Ratih mulai menangis.
“Aku hidup karena dia?”
Pak Junaidi mengangguk.
“Dan ketika kamu tumbuh besar, kamu melakukan hal yang sama untuk anakmu.”
Perdana.
Kemudian Raka.
Kemudian Nara.
Satu pengorbanan melahirkan pengorbanan lain.
Bukan karena keluarga mereka jahat.
Justru karena mereka terlalu takut kehilangan orang yang dicintai.
Raka akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada monster.
Kadang-kadang cinta bisa menjadi egois tanpa merasa sedang berbuat jahat.
Buku biru terbuka sendiri.
Tulisan muncul.
INGATAN PERTAMA TELAH DIKEMBALIKAN.
Dimas tersenyum lega.
“Berarti selesai?”
Tulisan kedua muncul.
BELUM.
“Kenapa aku tadi tanya?”
Huruf baru terbentuk.
YANG PERTAMA HARUS DIINGAT OLEH SEMUA YANG PERNAH MENDAPATKAN HIDUP DARI PENGORBANANNYA.
Raka menghitung.
Ratih hidup karena Adela.
Raka hidup karena keputusan Ratih.
Perdana kembali karena Ratih.
Nara terseret karena keluarga Adelia.
Dimas menggantikan Raka.
“Jadi kita harus membuat semua orang mengingat Adela?”
“Bukan semua orang,” kata Pak Junaidi. “Semua yang terhubung.”
“Bagaimana?”
Bel sekolah berbunyi.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar perpustakaan.
Mereka berlari ke lorong.
Sekolah kacau.
Puluhan siswa menangis.
Beberapa memanggil nama orang yang tidak ada.
Guru-guru kebingungan.
Foto-foto di dinding berubah cepat.
Dalam satu foto ada tiga puluh siswa.
Lalu empat puluh.
Lalu kosong.
Ingatan yang keluar melalui Dimas semakin banyak.
Dimas memegang lengannya.
Garis hitam sudah mencapai bahu.
“Aku rasa waktunya tidak banyak.”
Raka memegangnya.
“Kita akan bereskan.”
Dimas tersenyum.
“Kalau enggak?”
“Berhenti.”
“Kalau enggak, satu permintaan.”
“Apa?”
“Jangan biarkan orang lupa aku pernah ganteng.”
Raka menatapnya.
“Kita bahkan tidak punya ingatan itu.”
Dimas tertawa.
Untuk beberapa detik semuanya terasa normal lagi.
Lalu pengeras suara sekolah menyala.
Krek.
Suara statis memenuhi lorong.
Kemudian terdengar suara seorang perempuan.
“Raka Pradana.”
Semua orang berhenti.
Raka mengenal suara itu.
“Nara.”
Suara Nara terdengar lagi.
“Kalau kamu sudah menemukan Adela, jangan lakukan apa yang buku minta.”
Bersambung...
---
Sen
