KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (8) Bagian 2
SERI 8 Bagian 2
HARI KETIKA SEMUA ORANG MULAI SALAH INGAT
Pak Junaidi menatap pengeras suara.
“Kenapa?”
Nara seolah mendengar.
“Karena Adela tidak ingin kembali.”
Raka membeku.
“Apa?”
“Dia masih ada di sini.”
Suara Nara mulai terganggu.
“Dan dia bilang kalian salah tentang satu hal.”
“Apa?”
“Dia tidak mengorbankan dirinya untuk Ratih.”
Ratih memucat.
“Terus kenapa dia hilang?”
Beberapa detik hanya ada suara statis.
Kemudian Nara menjawab.
“Karena Ratih yang memintanya.”
Ratih mundur.
“Tidak.”
Pak Junaidi menatap adiknya.
“Ratih?”
“Aku tidak pernah—”
Pengeras suara berbunyi lagi.
Kali ini bukan suara Nara.
Suara anak perempuan.
Lembut.
Tenang.
“Ratih.”
Tubuh Ratih gemetar.
Suara itu tertawa kecil.
“Kamu masih suka melupakan bagian yang membuatmu merasa bersalah.”
Pak Junaidi berbisik,
“Adela?”
“Ya.”
Ratih menangis.
“Aku tidak ingat.”
“Aku tahu.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf dulu.”
Suara Adela berubah.
Tidak marah.
Justru sedih.
“Karena aku juga berbohong.”
Raka menatap pengeras suara.
Tentang apa lagi?
“Tidak ada seorang pun dalam keluarga kita yang memulai semua ini.”
Pak Junaidi membeku.
“Lalu siapa?”
Suara Adela menjawab:
“Buku itu sudah ada jauh sebelum kita lahir.”
Krek.
“Dan bukan keluarga kita yang membuat pengorbanan pertama.”
Krek.
“Junaidi...”
“Ya?”
“Kamu ingat kepala sekolah kita waktu kecil?”
Pak Junaidi mengernyit.
Kemudian wajahnya kehilangan warna.
“Tidak mungkin.”
Raka bertanya, “Siapa?”
Pak Junaidi menatap pintu kantor kepala sekolah di ujung lorong.
“Pak Harun.”
Raka mengernyit.
“Itu nama kepala sekolah kita sekarang.”
Pak Junaidi mengangguk pelan.
“Dan juga kepala sekolah saya tahun 1988.”
Dimas berhenti bercanda.
Raka menatap kantor kepala sekolah.
“Orang yang sama?”
Pak Junaidi tidak menjawab.
Pintu kantor di ujung lorong terbuka.
Seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun keluar.
Pak Harun.
Kepala sekolah mereka.
Ia berdiri di tengah lorong sementara siswa-siswa yang kebingungan berlari di sekitarnya.
Tatapannya langsung menemukan Raka.
Lalu Dimas.
Kemudian buku biru.
Ia tersenyum.
“Sudah sampai Adela rupanya.”
Pak Junaidi maju.
“Bapak siapa sebenarnya?”
Pak Harun tertawa kecil.
“Pertanyaan itu baru kamu tanyakan setelah hampir empat puluh tahun?”
Ia menggulung lengan bajunya.
Di pergelangan tangannya terdapat bekas hitam.
Bukan angka 36.
Angka lain.
1
Raka merasa seluruh tubuhnya dingin.
Pak Harun memandang buku biru.
Kemudian berkata,
“Nomor tiga puluh enam hanyalah cara kalian menghitung korban.”
Ia menunjuk angka di tangannya.
“Sedangkan saya...”
Senyumnya menghilang.
“...adalah orang pertama yang pernah dikembalikan.”
Buku biru di tangan Raka mendadak menutup sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak Raka menemukannya...
buku itu seperti ketakutan.
Bersambung…
---
Sen
