KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (9) Bagian 1
SERI 9 Bagian 1
ORANG YANG TIDAK PUNYA NAMA
Pak Harun berdiri di ujung lorong dengan lengan baju tergulung dan angka 1 terlihat jelas di pergelangan tangannya. Di belakangnya, suasana sekolah tetap kacau. Ada siswa yang memanggil guru dengan nama ayahnya, ada guru yang lupa ruang kelas sendiri, dan dari kantin terdengar Bu Tatik bersikeras bahwa gorengan pernah dijual seribu rupiah sepuluh biji. Dimas sempat menoleh ke arah kantin seperti hendak memanfaatkan situasi ekonomi tersebut, tetapi Raka menarik kerah bajunya. “Jangan.” Dimas menunjuk ke belakang. “Aku cuma mau memastikan apakah kerusakan ingatan bisa memberi manfaat sosial.” “Kamu punya angka 36 di tangan.” “Makanya aku butuh cemilan.” Pak Harun menatap keduanya lalu tersenyum tipis. “Lucu juga. Dalam setiap generasi selalu ada satu anak yang mencoba bercanda ketika semuanya mulai runtuh.” Dimas membalas, “Dalam setiap generasi juga ada kepala sekolah yang suka ngomong seperti penjahat?” Senyum Pak Harun hilang. “Yang itu baru pertama.”
Pak Junaidi maju satu langkah. “Bapak kepala sekolah saya tahun 1988.” Pak Harun mengangguk. “Benar.” “Dan sekarang Bapak masih terlihat hampir sama.” “Saya merawat diri.” Dimas berbisik, “Jawaban skincare kedua hari ini.” Raka menyikutnya. Pak Junaidi tidak ikut tersenyum. “Siapa Bapak sebenarnya?” Pak Harun menatap angka di tangannya sejenak. “Kalau saya menjawab nama, kamu akan mengira itu identitas saya. Padahal nama adalah hal pertama yang pernah saya kehilangan.” Ia berjalan mendekat. “Dulu saya punya nama. Saya punya keluarga. Saya bahkan punya seorang adik. Lalu suatu hari seseorang menulis permintaan di sebuah buku biru: tolong jangan ambil anak saya. Buku itu menerima permintaan itu.” Raka merasa tengkuknya dingin. “Dan Bapak yang diambil?” “Tidak.” Pak Harun tersenyum hambar. “Saya yang dikembalikan.”
Ratih yang berdiri beberapa langkah di belakang Raka langsung bertanya, “Dikembalikan dari mana?” Pak Harun memandangnya. “Dari tempat yang sekarang menahan Nara.” Semua diam. Raka mendekat. “Jadi Bapak tahu tempat itu?” “Lebih baik dari siapa pun.” “Bawa kami ke sana.” “Tidak semudah itu.” “Dimas bisa membuka jalan.” Pak Harun menatap angka 36 di pergelangan tangan Dimas. “Ya. Itu sebabnya saya datang sebelum kalian membuat kesalahan berikutnya.” Dimas mengangkat tangan. “Sebagai orang yang sering membuat kesalahan, saya ingin tahu level kesalahannya.” “Kalau pintu dibuka penuh, tidak hanya Nara yang bisa keluar.” “Siapa lagi?” Pak Harun melihat koridor yang mulai berkedip seperti gambar rusak. “Semua yang pernah dilupakan.”
Kalimat itu langsung mengubah udara. Raka teringat ribuan nama di dinding. Alya. Mira. Adela. Junaidi. Perdana. Dan siapa tahu berapa banyak lagi orang dari kelas, keluarga, sekolah, bahkan kota lain. “Kalau mereka keluar, apa buruknya?” tanya Raka. “Mereka manusia.” Pak Harun menatapnya lama. “Tidak semuanya masih manusia.” Ia menjelaskan bahwa tempat orang terlupakan bukan sekadar ruangan gelap. Tempat itu terbentuk dari sisa-sisa ingatan yang tidak lagi memiliki pemilik. Orang yang baru masuk masih mengingat dirinya sendiri. Tapi semakin lama berada di sana, identitasnya terkikis. Nama hilang. Wajah bercampur. Kenangan bergeser. Pada akhirnya, yang tersisa hanya keinginan untuk kembali. “Itulah yang terjadi pada Mira yang kamu temui,” katanya. “Ia bukan Mira. Ia kumpulan ingatan yang mencoba menjadi Mira.” Raka teringat wajah ketakutan gadis itu ketika melihat Pak Junaidi. Mungkin karena sebuah ingatan pun takut kehilangan bentuk yang baru ditemukannya.
“Kalau begitu Nara masih punya waktu,” kata Raka. “Dia baru masuk.” Pak Harun mengangguk. “Sedikit.” “Berapa lama?” “Tidak bisa dihitung dengan jam.” Dimas menunjuk jam dinding. “Padahal hidup biasanya lebih mudah kalau ada countdown.” Pak Harun mengabaikannya. “Nara masih bisa mengirim pesan karena masih ada cukup banyak orang yang mengingatnya.” “Siapa?” “Kamu. Dimas. Ratih sedikit. Dan dirinya sendiri.” Raka menatapnya. “Kalau semua orang mengingat Nara lagi?” “Dia bisa kembali.” “Berarti gampang.” Pak Harun menggeleng. “Tidak. Untuk mengembalikan seseorang, kalian harus mengembalikan semua ingatan yang terhubung dengannya. Dan ingatan Nara terikat pada keluarga Adelia, Mira, Adela, Ratih, Junaidi, Perdana... dan sekarang kalian.” Dimas menghela napas. “Silaturahmi keluarga ini melelahkan.”
Raka membuka buku biru. Anehnya, halaman-halamannya kosong. Tidak ada tulisan. Tidak ada petunjuk. Ia mengetuk sampulnya. “Hei.” Tidak ada reaksi. “Biasanya kamu suka sok misterius.” Tetap diam. Pak Harun memandang buku itu dengan ekspresi yang aneh—bukan takut, melainkan seperti orang yang bertemu musuh lama. “Buku itu tidak akan membantumu sekarang.” “Kenapa?” “Karena ia tidak pernah membantu siapa pun.” “Tapi dia memberi pilihan.” “Itulah jebakannya.” Pak Harun mengambil sebuah kapur dari saku, lalu menggambar garis di lantai. “Buku itu tidak menciptakan pengorbanan. Ia hanya meminta manusia membuat keputusan ketika sedang paling takut.” Raka langsung teringat ibunya. Adela. Dimas. Dirinya sendiri. “Dan manusia selalu memilih?” “Hampir selalu.”
Ratih menunduk. “Karena kita mencintai seseorang.” Pak Harun menatapnya. “Tidak.” Ratih mengangkat wajah. “Lalu?” “Karena kalian takut hidup setelah kehilangan seseorang.” Kalimat itu terasa menampar. Pak Harun melanjutkan, “Cinta menerima bahwa orang yang kita cintai bisa pergi. Ketakutan berkata, ambil siapa pun, asal jangan dia.” Ratih menangis tanpa suara. Raka tidak tahu apakah ia marah atau memahami. Mungkin keduanya. Ia sendiri pernah menulis kalimat yang sama. Kalau harus memilih antara aku dan dia, jangan ambil aku. Ambil siapa saja. Ia tidak mengingat menulisnya, tetapi tulisan itu nyata. Dan mungkin itu yang paling mengerikan dari semua misteri ini: di saat takut, seseorang bisa menjadi versi dirinya yang bahkan tidak ingin ia kenali.
Tiba-tiba Dimas terhuyung. Garis hitam di lengannya sudah mencapai leher. Raka menangkapnya. “Dim!” Dimas memegang dada. “Aku baik-baik saja.” “Kamu jelas tidak baik-baik saja.” “Ya, tapi kalau aku bilang panik, kamu ikut panik.” Angka 36 berdenyut seperti luka hidup. Pak Harun segera memeriksa. “Pintunya semakin lebar.” “Karena apa?” “Ingatan sekolah sudah tidak stabil.” Dari seluruh gedung terdengar suara nama-nama dipanggil bersamaan. Bukan lewat pengeras suara. Dari dinding. Dari ruang kelas. Dari lemari. Ribuan suara mengucapkan satu kata yang sama: Hadir. Hadir. Hadir. Beberapa siswa menutup telinga. Beberapa malah menjawab tanpa sadar. Dimas berbisik, “Pak, kalau semuanya jawab hadir, apakah absennya jadi bagus?” Raka menatapnya. “Kamu masih sempat?” “Aku takut, Rak.” Senyumnya tidak lagi lucu. “Kalau aku berhenti bercanda, aku mungkin mulai nangis.”
Raka menggenggam bahunya. “Kamu enggak akan hilang.” Dimas tersenyum kecil. “Jangan janji kalau enggak tahu caranya.” Kalimat itu membuat Raka diam. Dimas benar. Sejak awal semua orang membuat janji karena takut kehilangan. Ibunya berjanji tidak akan kehilangan anak lagi. Adela berjanji menggantikan Ratih. Dimas berjanji menjadi pengganti Raka. Dan setiap janji justru membuka pintu baru. Raka perlahan melepaskan tangan. “Oke.” Dimas memandangnya. “Oke apa?” “Aku enggak akan janji.” “Bagus.” “Tapi aku akan cari cara.” Dimas tersenyum. “Nah. Itu lebih masuk akal.”
Pak Harun membawa mereka ke aula lama di belakang sekolah, ruangan yang sudah tidak dipakai bertahun-tahun. Di lantainya terdapat lingkaran besar dengan puluhan nama terukir. Beberapa Raka kenali dari dinding gudang. “Apa ini?” tanya Pak Junaidi. “Tempat pertama pintu dibuka di sekolah ini,” jawab Pak Harun. “Tahun 1971.” Raka langsung menghitung usia kepala sekolah itu, tetapi mengurungkan niat setelah melihat tatapan Pak Harun. Di tengah lingkaran ada satu ruang kosong. Tidak ada nama. Hanya angka 1. “Itu Bapak?” tanya Raka. Pak Harun mengangguk. “Orang pertama yang berhasil kembali tanpa menggantikan orang lain.” “Bagaimana?” “Saya tidak tahu.” “Bapak tidak tahu?” “Saya kehilangan bagian itu dari ingatan.”
Pak Junaidi menatapnya curiga. “Atau Bapak menyembunyikannya.” Pak Harun tidak menjawab. Raka memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu yang tidak cocok. Sejak awal Pak Harun memberi banyak penjelasan, tetapi selalu ada bagian yang kabur ketika menyangkut dirinya sendiri. “Bapak bilang buku itu jebakan.” “Ya.” “Bapak juga bilang orang bisa kembali kalau diingat.” “Benar.” “Lalu kenapa Bapak punya angka satu, bukan tiga puluh enam?” Pak Harun terdiam. Dimas berbisik, “Akhirnya pertanyaan detektif.” Raka melanjutkan, “Semua yang kembali punya angka 36 karena menjadi pengganti. Tapi Bapak pertama.” Pak Harun masih diam. “Berarti sebelum ada sistem pengganti, Bapak sudah pernah kembali.” Senyum Pak Harun perlahan hilang.
Ratih mundur satu langkah. “Raka...” “Tidak. Kita terus percaya orang yang memberi potongan jawaban.” Raka menatap Pak Harun. “Siapa yang membuat aturan pertama?” Pak Harun berkata pelan, “Tidak penting.” “Sangat penting.” “Yang penting sekarang Nara.” “Kalau Bapak yang membuatnya?” Pak Junaidi langsung menoleh. Dimas menatap angka satu. Pak Harun tidak menjawab. Buku biru di tangan Raka mendadak bergetar. Untuk pertama kalinya sejak Pak Harun datang, buku itu terbuka. Hanya satu kalimat muncul: JANGAN PERCAYA ORANG YANG TIDAK PUNYA NAMA.
Semua menatap Pak Harun.
Ia tertawa.
Bukan tawa kepala sekolah yang ramah.
Bukan pula tawa orang gugup.
Tawa seseorang yang akhirnya lelah berpura-pura.
“Buku ini selalu dramatis.”
Raka mundur. “Pak Harun bukan nama Bapak.”
“Bukan.”
“Siapa nama asli Bapak?”
“Saya sudah bilang. Tidak ada yang mengingat.”
“Termasuk Bapak?”
Pak Harun menatap angka satu.
“Termasuk saya.”
Pak Junaidi mengangkat dagu. “Lalu dari mana nama Harun?”
“Saya mengambilnya.”
“Dari siapa?”
Pak Harun tersenyum.
“Seorang anak yang hilang tahun 1971.”
Ratih menutup mulut.
Dimas berhenti bernapas sesaat.
Raka bertanya pelan, “Jadi Bapak juga pengganti.”
“Lebih buruk.”
Pak Harun melangkah ke tengah lingkaran.
“Saya orang pertama yang menemukan bahwa tempat terlupakan bisa memberikan kehidupan baru.”
“Dengan mengambil nama orang?”
“Nama. Wajah. Ingatan. Sedikit demi sedikit.”
Pak Junaidi mengepalkan tangan. “Bapak yang memulai ini?”
“Tidak sengaja.”
“Berapa banyak orang?”
Pak Harun menatap nama-nama di lantai. “Saya berhenti menghitung.”
Raka merasa mual.
“Kenapa sekolah?”
“Karena anak-anak mudah diingat bersama-sama. Satu kelas adalah wadah sempurna. Satu orang hilang, tiga puluh lima lainnya menutup celah tanpa sadar.”
“Jadi nomor 36...”
“Bukan kutukan.”
Pak Harun tersenyum.
“Itu sistem.”
Dimas berbisik, “Aku lebih suka waktu kita kira ini hantu.”
Pak Harun melanjutkan, “Setiap kali ada seseorang yang ingin mengembalikan orang yang hilang, buku menawarkan tempat. Satu ingatan masuk. Satu keluar. Sistem menjaga keseimbangan.” “Dan Bapak membiarkannya berjalan puluhan tahun?” tanya Raka. “Saya menjaganya.” “Menjaga?” “Kalau tidak, semua yang terlupakan akan kembali sekaligus.” “Seperti sekarang?” Pak Harun menatap Dimas. “Ya.”
Raka memandang sahabatnya. “Jadi kita harus menutup pintu.” “Benar.” “Dengan melupakan Dimas?” “Itu cara termudah.” “Tidak.” “Cara kedua, hapus semua jangkar yang menghubungkan orang-orang terlupakan ke dunia.” “Foto, tulisan, ingatan?” “Semua.” “Termasuk Nara?” “Termasuk Nara.” Raka menggeleng. “Tidak.” Pak Harun mendekat. “Lalu ada cara ketiga.” “Apa?” “Seseorang masuk ke tempat itu dan menutup pintu dari dalam.”
Semua diam.
Dimas langsung berkata, “Tidak.”
Raka belum mengatakan apa pun.
Dimas menunjuknya. “Aku tahu wajahmu.”
“Aku cuma mendengar.”
“Wajahmu kalau ‘cuma mendengar’ sama dengan wajahmu waktu mau melakukan hal bodoh.”
Pak Harun berkata, “Orang yang masuk harus punya cukup banyak jangkar untuk tetap mengingat dirinya.” Ia menatap Raka. “Dan saat ini, orang itu kamu.” Raka mengerti. Ia diingat ibunya. Dimas. Pak Junaidi. Perdana. Nara. Bahkan orang-orang yang pernah melupakannya masih memiliki sisa hubungan dengannya. “Kalau aku masuk, Nara bisa keluar?” “Mungkin.” Dimas langsung memotong, “Nah. Kata mungkin lagi.”
Raka menatap Pak Harun. “Kalau aku tutup pintunya, aku bisa kembali?” Pak Harun diam. Itulah jawaban sebenarnya. Raka tertawa kecil tanpa humor. “Tentu.” Ratih memegang lengannya. “Tidak.” “Bu...” “Tidak.” “Aku belum bilang apa-apa.” “Ibu tahu.” Ratih menangis. “Ibu sudah terlalu banyak membuat orang pergi supaya kamu tetap ada. Jangan jadikan ini satu pengorbanan lagi.” Kalimat itu menghentikan Raka. Untuk pertama kalinya, ibunya tidak berkata akan menyelamatkannya. Ia justru mengizinkan kemungkinan kehilangan.
Perdana yang sejak tadi diam akhirnya bicara. “Ada cara keempat.” Pak Harun langsung menatapnya. “Jangan.” Raka berbalik. “Apa?” Perdana mendekati lingkaran. “Pintu tidak harus ditutup.” Pak Junaidi mengernyit. “Lalu?” “Sistemnya yang harus dihancurkan.” Pak Harun berkata keras, “Itu akan menghapus semua batas.” “Batas yang kamu buat.” “Kamu tidak tahu akibatnya.” “Kamu takut kehilangan kendali.” Pak Harun berjalan cepat, tetapi Perdana sudah mengeluarkan buku biru lain dari balik bajunya.
Raka membeku.
“Buku lain?”
Perdana mengangguk. “Buku yang dipakai Ibu waktu kami kecil.”
Ratih menatapnya tidak percaya. “Aku pikir hilang.”
“Tidak.”
“Dari mana kamu dapat?”
“Tempat terlupakan menyimpan semua benda yang masih diingat seseorang.”
Perdana membuka bukunya. Di halaman pertama tertulis kalimat yang sama dengan tulisan Ratih bertahun-tahun lalu: Aku tidak mau kehilangan anak lagi. Biarkan keduanya hidup.
Perdana merobek halaman itu.
Ratih berteriak.
Pak Harun langsung berlari.
Terlambat.
Begitu kertas robek, seluruh aula bergetar.
Angka 36 di tangan Dimas menghilang.
Angka 36 di tangan Perdana ikut memudar.
Dari kejauhan terdengar suara ratusan kaca pecah.
Lalu semuanya sunyi.
Dimas melihat tangannya.
“Hilang.”
Raka tersenyum lega.
Namun Pak Harun menatap Perdana dengan ngeri.
“Kamu bodoh.”
“Kenapa?”
“Kamu menghapus permintaan.”
“Itu tujuannya.”
“Bukan hanya permintaan yang hilang.”
Pak Harun menunjuk Raka.
Raka melihat telapak tangannya.
Transparan.
Ratih mencoba memegangnya.
Tangannya menembus.
“Raka!”
Dimas langsung mencengkeram lengannya, tetapi juga menembus.
“Rak?”
Raka melihat tubuhnya perlahan menghilang.
Perdana memucat.
“Tidak.”
Pak Harun berkata dingin, “Permintaan itulah yang membuat dua anak bisa tetap ada.”
Ratih menangis.
“Kalau permintaannya dibatalkan...”
Pak Harun menatap kedua anak kembar itu.
“Dunia kembali ke keputusan awal.”
Perdana mulai transparan juga.
Raka menatapnya.
“Kita berdua?”
Pak Harun mengangguk.
“Hanya satu Raka yang seharusnya pernah hidup.”
Aula berubah gelap.
Di lantai muncul dua nama.
RAKA PRADANA
RAKA PERDANA
Di antara keduanya terdapat satu ruang kosong.
Buku biru Raka terbuka.
Tulisan muncul.
PILIH SATU NAMA UNTUK DIINGAT.
Raka menatap Perdana.
Perdana menatapnya kembali.
Untuk pertama kalinya mereka tidak terlihat seperti musuh.
Mereka terlihat seperti dua saudara yang baru saja menyadari bahwa dunia hanya menyediakan satu tempat untuk mereka.
Dimas berkata cepat, “Jangan pilih.”
Raka menoleh.
“Kalau tidak pilih?”
“Entahlah.”
“Dim—”
“Kita sudah lihat semua masalah ini terjadi karena orang terus memilih siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus pergi.”
Dimas mendekat meski tak bisa menyentuhnya.
“Jadi sekali ini... jangan main menurut aturan bukunya.”
Raka melihat tulisan.
PILIH.
Ia menutup buku.
“Tidak.”
Tulisan muncul di sampul.
PILIH.
Raka melemparnya ke lantai.
“Tidak.”
Aula bergetar semakin keras.
Pak Harun berteriak, “Kalau tidak memilih, kalian berdua akan hilang!”
Raka menatap Perdana.
Saudaranya tersenyum kecil.
“Mungkin itu lebih adil.”
“Jangan sok bijak.”
“Baru sekali.”
Raka hampir tertawa.
Kemudian suara terdengar dari seluruh pengeras sekolah.
Suara Nara.
“Raka.”
Ia menoleh.
“Nara?”
“Aku bisa lihat kalian.”
“Di mana kamu?”
“Dekat.”
Dinding aula mulai dipenuhi bayangan manusia.
Puluhan.
Ratusan.
Semua orang yang pernah dilupakan.
Nara muncul di antara mereka.
Masih samar.
Namun wajahnya jelas.
Ia menatap Raka.
“Jangan pilih siapa yang harus hilang.”
“Terus apa yang harus kulakukan?”
Nara menunjuk Pak Harun.
“Pilih siapa yang harus diingat pertama kali.”
Raka membeku.
Pak Harun mundur.
“Jangan dengarkan dia.”
Nara berkata lagi,
“Dia tidak punya nama karena semua ini dimulai ketika namanya dicuri.”
Pak Harun berteriak, “DIAM!”
Terlambat.
Di belakangnya muncul sosok seorang anak laki-laki.
Usia sekitar tiga belas tahun.
Wajahnya sama dengan Pak Harun muda.
Anak itu menatap Raka.
Lalu berkata,
“Namaku bukan Harun.”
Pak Harun menutup telinganya.
“Tidak.”
Anak itu melangkah maju.
“Namaku...”
Seluruh aula bergetar.
Buku biru terbuka sendiri.
Bersambung...
---
Sen
