Kucing yang Tidak Mau Dipanggil

Tidak ada yang tahu sejak kapan kucing itu tinggal di halaman belakang rumahku.

Suatu hari ia ada.

Begitu saja.

Seperti banyak hal dalam hidup yang datang tanpa meminta izin.

---

Bulu kucing itu putih kusam.

Satu telinganya sedikit robek.

Matanya tajam seperti selalu siap melarikan diri.

---

Aku memberinya makan.

Bukan karena ingin memelihara.

Aku hanya tidak tega melihatnya mencari sisa makanan di tempat sampah.

---

Setiap sore aku meletakkan semangkuk nasi dan ikan di dekat pagar.

Lalu pergi.

---

Aku tidak mencoba mendekat.

Karena aku tahu beberapa makhluk tidak membutuhkan sentuhan.

Mereka hanya butuh seseorang yang tidak menyakiti mereka.

---

Namaku Reno.

Dan sejak istriku meninggal, rumah terasa terlalu besar.

---

Dulu ada suara televisi.

Suara langkah kaki.

Suara seseorang bertanya:

“Kamu sudah makan?”

---

Sekarang hanya ada bunyi jam dinding.

---

Orang-orang menyuruhku sibuk.

Katanya supaya tidak terlalu memikirkan kehilangan.

---

Tapi mereka tidak mengerti.

Kesedihan bukan kamar yang bisa dikunci lalu ditinggalkan.

---

Kucing itu datang setiap hari.

Tapi selalu menjaga jarak.

---

Kalau aku mendekat, ia pergi.

Kalau aku memanggil, ia pura-pura tidak dengar.

---

Aku memberinya nama:

Bimo.

---

Tentu saja ia tidak peduli.

---

Suatu hari aku tertawa sendiri.

Seekor kucing bahkan menolak namanya.

---

Ternyata manusia bukan satu-satunya makhluk yang punya trauma.

---

Beberapa bulan berlalu.

Bimo mulai duduk lebih dekat.

Tidak banyak.

Hanya beberapa langkah dari kursiku.

---

Kadang kami duduk bersama saat sore.

Aku membaca koran.

Dia membersihkan bulunya.

---

Tidak ada percakapan.

Tapi anehnya, aku tidak merasa sendirian.

---

Suatu malam hujan besar datang.

Angin kencang.

Pohon di depan rumah tumbang.

---

Pagi harinya Bimo tidak muncul.

---

Aku mencari ke sekitar rumah.

Gang.

Taman.

Halaman tetangga.

---

Tidak ada.

---

Hari itu aku baru sadar.

Ternyata makhluk kecil yang tidak pernah kupanggil masuk ke rumah…

sudah menjadi bagian dari rumah itu sendiri.

---

Tiga hari kemudian, aku menemukan Bimo di bawah bangunan kosong dekat gang.

Kakinya terluka.

---

Aku membawanya ke dokter hewan.

Untuk pertama kalinya ia tidak melawan ketika aku menggendongnya.

---

Mungkin karena sakit.

Atau mungkin karena akhirnya ia percaya.

---

Setelah sembuh, Bimo kembali ke halaman.

---

Tapi kali ini berbeda.

---

Ia masuk ke rumah.

Duduk di kursi dekat jendela.

Tempat yang dulu hanya dipakai istriku.

---

Aku diam melihatnya.

---

Aneh.

Aku tidak merasa terganggu.

---

Justru ada perasaan hangat yang sudah lama tidak muncul.

---

Suatu sore aku membuka album lama.

Ada foto istriku memegang kucing kecil.

---

Aku tersenyum.

---

Ternyata sebelum aku mengenal Bimo, istriku sudah pernah bertemu kucing yang mirip dengannya.

---

Di belakang foto ada tulisan:

*"Semoga suatu hari rumah ini tetap punya suara kecil yang membuatnya hidup."*

---

Aku membaca berkali-kali.

---

Mungkin istriku tidak tahu.

Tapi harapannya datang dalam bentuk kucing liar yang keras kepala.

---

Bimo tidak pernah benar-benar menjadi kucing peliharaan.

Ia tetap suka keluar.

Tetap tidur di mana ia mau.

Tetap pura-pura tidak peduli.

---

Tapi setiap pagi ia datang.

Duduk di teras.

Menunggu makan.

---

Dan aku menunggu kedatangannya.

---

Aku dulu berpikir rumah menjadi sepi karena seseorang pergi.

---

Sekarang aku mengerti.

Kadang rumah hanya butuh satu makhluk kecil yang memilih kembali.

Bukan karena terpaksa.

Tapi karena merasa aman.

---

Sen