Seni Menjinakkan Tantrum: Menyelami Metode Terbaik Menenangkan Buah Hati Menurut Pakar

Ilustrasi Anak Menangis(Pexels)

TITIKWARTA.COM - Bagi sebagian besar orangtua, menghadapi anak yang mendadak menangis histeris, menjerit, hingga bergulingan di lantai ruang publik adalah momen yang sangat menguji kesabaran. Gelombang emosi yang dikenal sebagai tantrum ini sering kali direspons dengan kepanikan atau bahkan kemarahan balik dari orangtua. Namun, sebuah panduan psikologi terintegrasi yang dirilis pada Rabu, 15 Juli 2026, mencoba mengubah cara pandang tersebut. Tantrum bukanlah bentuk kenakalan sengaja, melainkan sebuah sinyal bahwa anak sedang kewalahan menghadapi emosi besar yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.

 

Langkah awal dan paling krusial dalam menghadapi situasi ini adalah regulasi diri dari orangtua itu sendiri. Sebelum mencoba menenangkan anak, orangtua wajib memastikan bahwa emosi mereka berada dalam kondisi stabil dan tenang. Ketika orangtua merespons tantrum dengan suara tinggi atau bentakan, hal tersebut justru akan menjadi bahan bakar yang membuat ledakan emosi anak semakin menjadi-jadi. Menurunkan nada bicara dan mengambil napas dalam-dalam adalah tameng pertama yang harus dipraktikkan.

 

Secara psikologis, kehadiran fisik yang menenangkan jauh lebih dibutuhkan anak ketimbang rentetan nasihat atau omelan di kala mereka mengamuk. Orangtua disarankan untuk menurunkan posisi tubuh sejajar dengan mata anak (eye-level). Tindakan sesederhana duduk di sebelah mereka, memberikan sentuhan lembut, atau menawarkan pelukan hangat (jika anak bersedia) dapat mengirimkan sinyal aman ke otak anak bahwa mereka tidak sedang dihakimi ataupun diabaikan di tengah kondisi sulitnya.

 

Selain itu, konsistensi dalam menetapkan batasan juga memegang peranan penting agar tantrum tidak berubah menjadi alat manipulasi. Jika anak mengamuk karena permintaannya—seperti membeli mainan baru atau menambah jam menonton—tidak dituruti, orangtua harus tetap teguh pada keputusan awal. Menuruti kemauan anak hanya demi menghentikan tangisannya secara instan akan memberikan pelajaran yang keliru bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

 

Setelah gelombang emosi anak mulai mereda dan tangisannya mengecil, barulah jendela komunikasi edukatif dapat dibuka. Momen pasca-tantrum ini adalah waktu terbaik untuk melakukan validasi emosi. Alih-alih memarahi, orangtua bisa membantu anak mengidentifikasi perasaan mereka, misalnya dengan mengatakan bahwa tidak apa-apa merasa kecewa atau marah, namun ekspresi mengamuk bukanlah cara yang tepat untuk menyampaikannya.

 

Seorang psikolog perkembangan anak terkemuka di Jakarta memberikan ulasan mendalam mengenai pentingnya pendekatan berbasis empati ini. Ia mengingatkan bahwa mendengarkan anak tanpa interupsi adalah kunci utama pemulihan emosi mereka. "Tantrum adalah momen di mana anak kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Tugas kita sebagai orangtua bukanlah membungkam tangisan mereka dengan paksa, melainkan menjadi jangkar yang tenang di tengah badai emosi tersebut. Ketika anak merasa didengarkan dan divalidasi, mereka akan belajar mengelola emosi dengan lebih baik," tutur Dr. Seto Mulyadi, M.Psi., saat memberikan pemaparan klinisnya mengenai metode parenting tersebut.

 

Di samping itu, orangtua juga diimbau untuk lebih peka terhadap faktor-faktor pemicu (triggers) yang bersifat fisik sebelum tantrum itu terjadi. Sering kali, anak menjadi lebih sensitif dan mudah meledak emosinya hanya karena masalah sepele seperti rasa lapar, kelelahan setelah beraktivitas seharian, atau stimulasi lingkungan yang terlalu bising. Mengantisipasi kebutuhan fisik ini sejak awal dapat meminimalisir frekuensi terjadinya tantrum secara signifikan.

 

Menutup panduan edukatif di pertengahan bulan Juli 2026 ini, menghadapi tantrum adalah proses pembelajaran jangka panjang yang tidak hanya mendewasakan anak, tetapi juga melatih kesabaran orangtua. Dengan mengganti pola hukuman menjadi pendekatan yang penuh empati dan batasan yang tegas, kita tidak sekadar menghentikan tangisan sesaat. Lebih dari itu, kita sedang membangun fondasi kecerdasan emosional yang kokoh bagi masa depan sang buah hati.(yal/tw)