Lebih dari Sekadar Diet: Mengupas Segudang Manfaat Intermittent Fasting Bagi Kesehatan Tubuh

Ilustrasi puasa. Niat puasa Senin Kamis(Unsplash)

TITIKWARTA.COM - Tren puasa intermiten atau intermittent fasting (IF) terus menancapkan kepopulerannya di tengah masyarakat urban yang mendambakan pola hidup sehat. Metode yang mengatur jendela waktu makan dan puasa ini kerap diidentikkan sebagai jurus ampuh untuk memangkas berat badan dan lemak tubuh.

 

Kendati demikian, para ahli kesehatan menegaskan bahwa manfaat dari metode puasa berkala ini jauh melampaui sekadar urusan estetika timbangan. Perubahan metabolisme yang terjadi saat tubuh berada dalam kondisi berpuasa memberikan dampak positif yang menyeluruh pada tingkat seluler dan organ dalam.

 

Saat seseorang menjalani puasa intermiten, tubuh secara bertahap kehabisan cadangan gula (glukosa) sebagai sumber energi utama. Kondisi ini memicu proses peralihan metabolisme di mana tubuh mulai membakar lemak sebagai bahan bakar pengganti, sekaligus memberikan waktu istirahat yang sangat dibutuhkan oleh sistem pencernaan.

 

Salah satu manfaat vital yang paling menonjol adalah peningkatan sensitivitas insulin. Dengan memberikan jeda waktu tanpa asupan kalori, kadar gula darah dan produksi insulin akan menurun signifikan, sehingga membantu mencegah dan mengelola risiko penyakit diabetes tipe 2.

 

Pakar edukasi gizi dan metabolisme tubuh, Dr. Ratna Indriani, Sp.GK, menjelaskan bahwa puasa intermiten bekerja memicu mekanisme perbaikan alami di dalam sel-sel tubuh manusia.

 

"Manfaat terbesar dari intermittent fasting sebenarnya terletak pada proses autofagi, yaitu mekanisme pembersihan alami di mana sel-sel tubuh mendaur ulang dan membuang komponen sel yang rusak. Ini membantu peremajaan jaringan serta memperkuat sistem kekebalan tubuh dari risiko penyakit degeneratif," ungkap Dr. Ratna Indriani dalam keterangannya hari ini.

 

Selain autolisis sel dan stabilitas insulin, manfaat lainnya mencakup penurunan tingkat peradangan kronis (inflamasi) dalam tubuh, perbaikan profil kolesterol, hingga perlindungan terhadap fungsi kardiovaskular. Pembuluh darah menjadi lebih rileks dan tekanan darah cenderung lebih terkontrol.

 

Tak kalah penting, metode ini juga berdampak positif bagi kesehatan otak. Puasa intermiten diketahui merangsang pelepasan protein Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang mendukung pertumbuhan sel saraf baru, menjaga daya ingat, serta melindungi otak dari risiko penurunan kognitif di usia tua.

 

Meskipun menawarkan segudang dampak positif bagi tubuh, puasa intermiten tidak bisa diterapkan secara sembarangan oleh semua orang. Dr. Ratna Indriani menyarankan agar calon pelakunya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis. "Bagi pemula, ibu hamil, atau individu dengan riwayat penyakit tertentu seperti maag akut, mulailah dengan jendela puasa yang ringan dan tetap utamakan asupan gizi seimbang saat waktu makan tiba agar manfaatnya optimal," pungkasnya.(yal/tw)