Sarang di Atas Kabut

Penduduk Desa Lembah Aruna percaya satu hal:

jangan pernah mendaki Gunung Lurang saat kabut turun.

Bukan karena jalannya sulit.

Bukan karena tebingnya curam.

---

Tapi karena mereka percaya gunung itu sedang “menyimpan sesuatu”.

---

Namaku Galang.

Dan sejak kecil aku selalu menganggap cerita itu hanya dongeng orang tua.

---

Manusia memang suka membuat sesuatu yang tidak mereka pahami menjadi legenda.

Pohon tua jadi tempat roh.

Danau dalam jadi rumah makhluk gaib.

Gunung tinggi jadi tempat rahasia.

---

Tapi semua berubah ketika aku menemukan jejak aneh di lereng gunung.

---

Aku bekerja sebagai penjaga hutan.

Tugasku mencatat perubahan alam.

Jumlah pohon.

Pergerakan satwa.

Sumber air.

---

Suatu pagi aku menemukan sesuatu yang tidak masuk catatan mana pun.

---

Sarang.

---

Bukan sarang burung biasa.

Bukan sarang hewan yang pernah kulihat.

---

Ukurannya sebesar rumah kecil.

Terbuat dari ranting besar, akar, dan serat tanaman yang tersusun sangat rapi.

---

Yang membuatku heran:

sarang itu berada dekat puncak gunung.

Tempat yang hampir tidak pernah didatangi manusia.

---

Aku kembali ke desa membawa cerita itu.

---

Para tetua langsung diam.

---

“Kamu menemukannya?”

tanya Pak Darsa.

---

Aku mengangguk.

---

Wajahnya berubah.

---

“Berarti gunung mulai mengingatkan kita.”

---

Aku tertawa kecil.

“Pak, itu cuma sarang.”

---

Pak Darsa menatapku.

---

“Tidak semua yang terlihat sederhana berarti tidak penting.”

---

Kalimat itu terus teringat.

---

Keesokan harinya aku mendaki lagi.

Sendiri.

---

Semakin tinggi aku naik, semakin sunyi suara hutan.

Burung berhenti bernyanyi.

Angin bergerak pelan.

---

Lalu aku mendengar suara.

---

Bukan suara monster.

Bukan suara sesuatu yang menyeramkan.

---

Suara anak burung.

---

Aku mendekati sarang itu.

Dan di dalamnya ada seekor burung besar yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Sayapnya terluka.

---

Ia bukan makhluk legenda.

Bukan penjaga gunung.

---

Hanya makhluk hidup yang sedang bertahan.

---

Aku merawatnya selama beberapa hari.

Membawa makanan.

Membersihkan luka.

---

Dan perlahan aku sadar sesuatu.

---

Selama ini manusia datang ke gunung hanya untuk mengambil.

Kayu.

Batu.

Pemandangan.

---

Tapi jarang bertanya:

apa yang dibutuhkan gunung?

---

Beberapa minggu kemudian, kabar tentang sarang itu menyebar.

Orang-orang mulai datang.

Sebagian ingin melihat.

Sebagian ingin mengambil foto.

Sebagian ingin menjadikannya tempat wisata.

---

Aku khawatir.

---

Karena manusia sering menghancurkan sesuatu tepat setelah menyadari bahwa sesuatu itu berharga.

---

Aku menemui kepala desa.

---

“Kita harus melindungi tempat itu.”

---

Ia diam.

---

“Kenapa?”

---

Aku melihat ke arah gunung.

---

“Karena selama ini kita pikir gunung menyimpan sesuatu untuk kita.”

---

“Padahal mungkin gunung hanya meminta kita berhenti mengganggunya.”

---

Akhirnya daerah itu ditutup.

Tidak untuk selamanya.

Tapi agar alam punya waktu.

---

Tahun berlalu.

---

Aku kembali ke puncak Gunung Lurang.

Sarang itu sudah tidak ada.

---

Awalnya aku sedih.

---

Lalu aku melihat langit.

---

Seekor burung besar terbang jauh di atas kabut.

---

Mungkin burung yang sama.

Mungkin bukan.

---

Tapi aku tersenyum.

---

Karena aku akhirnya mengerti:

alam tidak diciptakan untuk menyimpan sesuatu bagi manusia.

---

Kadang alam hanya ingin diberi kesempatan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

---

Dan mungkin, rahasia terbesar sebuah gunung bukan apa yang tersembunyi di puncaknya.

---

Tapi apa yang bisa manusia pelajari ketika akhirnya berhenti merasa menjadi penguasa.

---

Sen